Temu Penyair se-kampung Nusantara:
ODE KAMPUNG 2006
Oleh Gola Gong*)

Saya mendengar cerita tentang komunitas Mendut pimpinan Sutanto,
pada sekitar 1995 mengadakan hajat besar dengan tema refleksi emas 
negeri ini,
yang saat itu berulangtahun ke-50. Para seniman dan budayawan di 
seantero negeri berdatangan ke Mendut, Yogyakarta. Mereka bertebaran di 
rumah-rumah penduduk. Untuk urusan MCK, mereka memanfaatkan sungai. Toto 
ST Radik yang hadir 
di perhelatan akbar itu mengenang, “Tidak perlu dana besar unutk pergi 
ke pesta seniman dan budayawan di Mendut. Sutanto membuat denah kampung 
Mendut, dimana kami bisa menginap yang murah-meriah, makan alakadarnya, 
dan beli rokok.” Tambah Toto, 
semua penyair diberi kesempatan berorasi, mengeluarkan uneg-uneg, 
bahkan sumpah serapahnya. Lalah-lahan terbuka di perkampungan dijadikan 
tempat berdiskusi dan berekspresi.

KOTA MODERN
Sepuluh tahun kemudian. Apa yang digemakan oleh para penyair di 
komunitas Mendut, terkikis zaman dan perubahan waktu. Kampung tak lagi 
jadi idaman. Kampung disimpan dalam toples kaca atau album foto. 
Negeri ini tidak mengalami perubahan apa pun. Soeharto lengser, Habibi 
naik tidak merubah apa-apa. Gusur naik dan dilengserkan, giliran 
Megawati berkuasa, juga tidak merubah apa-apa. Kini SBY belum genap 
setahun, koruptor banyak yang terbongkar tapi uang tidak bisa kembali. 
Tumbalnya lagi-lagi rakyat. Harga-harga membumbung. BBM dinaikkan, agar 
si kaya mensubsidi si miskin. Semua dibebankan ke rakyat. Sementara para 
petinggi negara dan anggota dewan ongkang-ongkang kaki di restoran 
sambil mencari-cari slilit di antara gigi.
Semua orang di negeri ini – siapapun dia – terseret arus globalisasi; 
hedonis dan konsumtif. Revolusi fashion, food, dan film menghajar semua 
kalangan. Semua orang silau dengan yang berbau modernisasi. Kampung 
ditinggalkan. Kota jadi acuan. Pulau jadi loncatan, negeri seberang jadi 
harapan. Padahal orang-orang kampung yang menyerbu kota itu belum juga 
bisa meninggalkan budaya kampungnya. Di rumah-rumah yang sempit di 
perumahan menengah ataupun sederhana, mereka masih saja memelihara 
kambing, ayam, atau burung. Mereka bersembunyi dalam status sosial, 
bahwa burung atau ayam bukan untuk diternakkan, tapi sekedar dikoleksi 
untuk melepas kepenatan. Di ruang-ruang resepsi yang wah, mereka masih 
saja membuang abu rokok sembarangan dan menyisakan makan malam padahal 
di jalanan banyak yang kelaparan. Sementara orang-orang kampung miskin 
yang berjejalan di gang-gang kumuh, di kolong jembatan, mengotori sungai 
dan selokan dengan sampah atau air kencing mereka.
Ya, semua orang lupa pada kampung kelahiran mereka sendiri. Atau orang 
yang mengaku kota, juga mengabaikan saudara-saudara mereka di kampung. 
Mereka lebih suka belanja dengan merek palsu yang penting gaya dan 
seminar dengan bahasa yang aneh-aneh atau bersilaturahim di kota dengan 
tema intelektual, bahkan berkunjung ke luar negeri adalah maha segala. 
Segala macam kegiatan dirancang, untuk mengelabui saudara sendiri yang 
tersisa di kampung. Studi banding ke luar negeri. Kongres ini-itu. 
Semua kalangan jadi genit dan kebarat-baratan. Siapa yang tidak 
bersinggungan dengan liberalisme, maka dia bukan manusia. 

PRO-KONTRA
Tidak terkecuali para seniman dan budayawan. Mereka tidak percaya satu 
sama lainnya, sehingga merasa perlu membuat organisasi untuk mengatur 
sesama teman sendiri dengan alasan agar bisa terkontrol dan saling 
mengontrol. Dewan-dewan dibentuk dan prilakunya jadi seperti anggota 
dewan sungguhan, karena selalu minta disubsidi. Ya tidak apa. Minta 
disubsidi, itu bukan sesuatu yang hina.
Tapi tiba-tiba saja….. 
Di media massa para seniman dan budayawan mencuri perhatian di tengah 
krisis multidimensi negeri ini. Kasus-kasus korupsi belum lagi 
terselesaikan, masyarakat kebanyakan di kampung disuguhkan fenomena 
seniman dan budayawan yang imejnya tidak mau diatur itu, kini ricuh 
sendiri. Saling usung poster dan rame-rame bikin konprensi pers.
Kubu-kubuan mencuat. Kubu barat, kubu timur. Kubu utara, kubu selatan. 
Siapa yang tak berkubu, maka tak mendapat giliran atau bagian.
Kongres Dewan Kesenian Daerah di Papua yang merekomendasikan DKI (Dewan 
Kesenian Indonesia) diprotes oleh mereka juga. Ada pro dan kontra. Semua 
sepakat, bahwa perbedaan pendapat adalah berkah. Keberagaman adalah 
bagian dari demokratisasi. Semoga juga dalam kekaryaan, mereka tidak 
memaksa yang lain untuk mengikuti satu ganre saja, karena dalam 
kekaryaan juga terjadi keberagaman. Ya, semoga pro dan kontra soal 
organisasi, terbawa juga dalam hal kekaryaan mereka. Ada karya kota, 
karya kampung, karya pinggiran, karya tengahan, karya atas, karya bawah, 
dan karya samping.
Tapi Iman Soleh, raja monolog dari Bandung, yang pro DKI 
berpesan, “Sebaiknya seniman harus bersatu. Jika bersatu, tidak ada yang 
bisa mengalahkan!” Iman memang menginginkan seniman bersatu padu. Kini 
Kongres Kesenian Indonesia (KKI) 2 yang baru saja usai akhir September 
lalu, merekomendasikan kerja kesenian harus disubsidi pemerintah lewat 
APBN atau APBD. Apakah itu berarti, jika seniman bersatu maka pemerintah 
akan mengongkosi kerja kesenian? Kalau tidak bersatu, apakah seniman 
bisa mensubsidi sendiri kegiatannya?

TEMA
        Adalah Rumah Dunia, komunitas nirlaba di Komplek Hegar Alam 40, 
kampung Ciloang Serang, yang mencoba meneruskan semangat komunitas 
Mendut. Mencoba membentuk kembali kebersamaan antara seniman dan 
masyarakat, yang jadi sumber inspirasi bagi karya-karyanya. Menjadikan 
kembali masyarakat yang tinggal di kampung sebagai saudara sekandung, 
yang sudah lama ditinggalkan, dengan cara menghapuskan lagi jarak. 
Bukankah penyair juga adalah manusia? 
        Bermula dari obrolan santai antara saya, Toto ST Radik dan teman-
teman sukarelawan di Rumah Dunia. Bermula dari harga beras yang menaik, 
karena Toto selain penyair, jurkam KB, juga juragan beras. Kemudian 
menukik ke peta kepenyairan di Banten, yang carut-marut. 
Lalu diskusi menembus batas, lewat SMS dengan Gus tf Sakai di 
Payakumbuh, Chavcay Saefullah di Ciputat, Firman Venayaksa (PJ Program 
Rumah Dunia) yang sedang jadi pembicara di KKI 2, Wan Anwar di Serang 
dan Soni Farid Maulana di Bandung. 
Maka tercetuslah ide membuat kegiatan “Ode Kampung: Temu Penyair se-
Kampung Nusantara”, yang insya Allah akan digelar pada Februari 2006. 
Penamaan ini adalah mengibaratkan kampung yang bersenandung sedih 
menunggu kematiannya. Tapi yang lebih penting sebagai stimulus bagi para 
pelajar dan mahasiswa di Banten. Juga bagi para penyair se-kampung 
nusantara yang selama ini terpinggirkan. Semangat yang diusung sejalan 
dengan Rumah Dunia; mencerdaskan dan membentuk generasi baru yang kritis 
serta mandiri. Yang siap memerangi kebatilan dengan pena.
        Kegiatan Ode Kampung mengangkat tema besar “Sastra(wan) di 
tengah persoalan kampungnya”. Beberapa topik diskusi akan digelar pada 
Sabtu dan Minggu. Topik-topik yang diusung adalah: 1) Pembelajaran 
Sastra di Sekolah, 2) Kontekstualisme Sastra Masih Perlukah?, 3) Sastra 
Kanon dan Sastra Kampung, dan 4) Mencari sastra kampung yang mendunia.
Keempat topik diskusi itu akan digelar masing-masing dua sesi setiap 
harinya; Sabtu pagi dan siang, serta keesokan harinya, Minggu. Tapi, Ode 
Kampung tidak hanya diisi diskusi antar penyair saja. Pelajar, 
mahasiswa, guru, dosen, bahkan orang kampung boleh ikut. Juga ada 
pembacaan puisi dan proses kreatif para penyair, serta pelatihan puisi. 
Para volunteer Rumah dunia sudah bersiap-siap menyebarkan undangan 
kepada para pelajar dan mahasiswa, serta guru bahasa dan sastra 
Indonesia di Banten. 
“Ini anggap saja kegiatan klab diskusi atau kelas menulis Rumah Dunia, 
yang sudah rutin diadakan setiap Sabtu dan Minggu,” kata Rimba 
Alangalang, PJ Sekretariat Rumah Dunia. 
Andi Suhud Sentra Utama, donatur tetap Rumah Dunia, siap mencetak poster 
sebanyak 500 eksemplar seusai lebaran untuk sosialisasi kegiatan. 
Bahkan Gus tf Sakai lewat SMS menanggapi dengan serius, “Saya siap jadi 
pemandu pembelajaran puisi!” 
Begitu pula Soni Farid Maulana, “Saya akan datang!”
Firman Venayaksa tidak tinggal diam. Firman menyebarkan informasi Ode 
Kampung dari mulut ke kuping di KKI 2. Hasilnya dia sampaikan lewat 
SMS, “Jamal D Rahman, Dyah Hadaning, Sihar Ramses, dan komunitas 
Mnemonic di Badung siap menyerbu Rumah Dunia!”

DANA PESERTA
Darimana datangnya dana? Apakah dari mata turun ke dompet? Sementara ini 
Rumah Dunia sudah menyiapkan dana awal sebesar Rp. 2 juta. Itu dari uang 
kas, hasil keuntungan “Gramedia Book Fair”. Selebihnya, kami akan 
meminta dukungan dari Gramedia, Mizan, Gema Insani, Mujahid Press, 
Senayan badi, Akoer. Tidak akan banyak, paling sekitar Rp. 500 ribu 
saja. Konpensasi buat mereka adalah pemuatan logo di leaflet dan 
spanduk. Juga kami akan bergerilya secara perseorangan. Galang seratus 
ribu pasti akan moncer.
Uangnya untuk apa? Tentu bukan untuk kami. Uang itu nanti dipakai untuk 
konsumsi dan promosi/publikasi. Menyewa sound system dan tenda perlu, 
karena Februari pas musim hujan mencapai puncaknya. Juga untuk pembuatan 
antoloji puisi “Ode Kampung Nusantara”.
Lantas siapa boleh ikut di kegiatan Ode Kampung? Siapa saja boleh ikut. 
Ini terbuka. Dari Banten dan luar Banten. Bahkan luar Jawa. Penyair 
pemula, penyair bukan pmula, pintu kami buka lebar-lebar. Silahkan 
datang. Hanya saja, perlu mengongkosi sendiri. Karena kegiatan Sabtu dan 
Minggu, berarti harus menginap 1 atau dua malam. 
Tentang penginapan, ternyata warga kampung Ciloang dan Komplek Hegar 
Alam menyambut gembira kegiatan Rumah Dunia. Mereka dengan suka cita 
siap menyewakan kamar-kamar di rumahnya. 
 “Pokoknya, kami akan mendukung setiap kegiatan Rumah Dunia,” Ayubi, 
pengojek, mengomentari. Dia bercerita, saat “Gramedia Book Fair” Agustus 
2005 lalu panen besar. Banyak penumpang hilir-mudik menyewa mootrnya. 
 Pak RT dan Pak RW kampung Ciloang serta Pak RT Komplek Hegar Alam seia 
sekata, menyambut baik kegiatan Ode Kampung. 
“Di rumah saya ada 3 kamar,” Pak Mutholib, Ketua RW Ciloang bersemangat. 
Juga Mang Romli, pengojek Ciloang, “Saya juga ada 3 kamar.”
“Di saya 2 kamar,” Bik Piah, rumahnya yang bersebelahan dengan Rumah 
Dunia, nimbrung.
“Saya satu rumah,” kata Pak Pendi, warga komplek Hegar Alam. “Saya 
sekeluarga ngungsi dulu ke orangtua.”
Satu kamar bisa diisi rame-rame. Paling banyak 3 atau empat orang. 
Seorang kena ongkos menginap Rp. 25 ribu/malam. Jika Minggu malam masih 
betah, tambah 25 ribu rupiah lagi. Konon, akan ada minuman teh atau kopi 
panas saat sarapan. Kalau makan, banyak warung nasi bertebaran. Ada nasi 
uduk, ketupat sayur, nasi pecel, mie ayam, dan jajanan kampung lainnya. 
Jadi, siapkn untuk menabung dari sekarang.

PUISI-PEMBICARA
Tentu antoloji puisi tidak akan dilewatkan. Kepada semua yang 
berkeinginan mengikuti Ode Kampung, mengirimkan 5 puisi terbaiknya, yang 
bertemakan kampung halaman. Rumah Dunia akan bekreja keras dengan segala 
kekurangan, menyaring puisi untuk diikutkan di antoloji puisi “Ode 
Kampung Nusantara”. Pada malam Minggu, mulai dari jam 19.30 hingga 22.00 
ada pemutaran film, pertunjukan seni, dan peluncuran antoloji puisi. 
Siapa saja boleh mementaskan karya seninya.
Hal lainnya adalah mendatangkan pembicara para penyair kampung dengan 
reputasi karya intenasional, diyakini akan memberi semangat baru bagi 
perkembangan kepenyairan di Banten khususnya dan Indonesia umumnya. Ini 
sangat penting. Kami sedang mengupayakan mendatangkan penyair lainnya 
seperti Isbedy (Lampung), Halim HD (Solo), Saut Situmorang (Yogya), Acep 
Zamzam Noor (Tasik), Alwy (Cirebon), dan Wayan Sunarta. Nama-nama itu 
sudah melanglan buana dari kota ke kota di Nusantara. Diharpkan 
kehadiran mereka bisa memberi wawasan bagi para penyair se-kampung 
nusantara.
Topik-topik diskusi Ode Kampung diusung mereka. Ini baru wacana dan akan 
terus didikusikan. Semoga rekan sesama penyair memberi masukan dan terus 
menggulirkan Ode Kampung ini. Semuanya tentu dengan harapan, mimpi, dan 
doa bersama.
Saya jadi teringat omongan Garin Nugroho, bahwa orang gunung (kampung) 
lebih peka dan lebih canggih menangkap fenomena seni dan budaya yang 
terjadi di sekelilingnya. Mereka dapat langsung merespon dan 
menggabungkannya dengan khazanah kesenian yang telah dimilikinya.” Garin 
mencontohkan Ismanto, seniman dari komunitas Merapi, yang merespon 
kesenian modern dan memadukan dengan tradisional.”
Siapa tahu warga kampung Ciloang yang agamis, setelah mengikuti kegiatan 
Ode Kampung, melihat dan mnedengarkan para pnyair berdiskusi dan 
membacakan sajak-sajaknya, jadi terinspirasi membuat karya yang dinamis 
dan baru. Setidak-tidaknya akan suasana perubahan di sini.
Maka mari kita segerakan saja niat bersama ini!
Jangan tunda-tunda lagi!

Nah, miliser wongbanten,
adayang mau menitipkan zakat, infak sedekahnya/
Kirim ke rekening;

ASIH PURWANINGTYAS CHASANAH
BCA SERANG
NOREK; 245-188-5733

Insya Allah, barokah.
Wasalam
Serang, 30 September 2005
Salam dari Rumah Dunia

Gola Gong
Komplek Hegar Alam 40
Kampung Ciloang, Serang 42118
Tlp: 0254 – 202861
Email: [EMAIL PROTECTED]
Situs: www.rumahdunia.net
 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke