Menyoal Validitas Hisab dan Rukyat
Oleh: Taufik Munir *)

Berbeda dengan negara-negara Timur Tengah, bulan suci
Ramadhan 1426 di tanah air jatuh pada hari Rabu,
bertepatan dengan tanggal 5 Oktober 2005. Seperti
pengamatan Penulis, negara-negara Timur Tengah seperti
Mesir, Saudi Arabia, Qatar dan Jordan melaksanakan
puasa pada hari Selasa (4/10), atau sehari sebelumnya.
Sebagaimana ditegaskan menteri Agama, Maftuh Basyuni,
Keputusan tersebut diambil berdasar data hisab yang
dihimpun Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Departemen Agama
bahwa di seluruh Indonesia tidak terlihat hilal.
Berdasarkan hal tersebut, bulan Sya'ban harus
digenapkan menjadi 30 hari. (Republika, 4 Oktober
2005). 
Ketetapan itu tidak berbeda antara Muhammadiyah dan
Nahdlatul Ulama (NU) seperti yang terjadi beberapa
tahun sebelumnya. Ada kemungkinan Persatuan Islam
(Persis) yang bermetodologikan hampir sama dengan
Muhammadiyah dalam penggunaan metode Hisab, juga
menetapkan di hari yang sama. 
Dengan demikian, kita bisa memprediksikan adanya
penyatuan langkah dalam menetapkan Idul Fitri 1425
antara ketiga ormas terbesar itu. Tidak seperti
tahun-tahun sebelumnya, ormas yang satu kadang lebih
cepat atau lebih lambat dari yang lain dalam
menetapkan akhir dan bulan baru. Tak ayal, ilmu hisab
kerap dijadikan kambing hitam munculnya perbedaan
pendapat atau kontraversi Idul Fitri itu. Sehingga ada
sebagian ulama memfatwakan bahwa metode rukyat
(mengamati visibilitas “hilal” atau bulan sabit
pertama) adalah lebih baik daripada metode hisab.
Ulama itu mengemukakan dengan berpedoman pada satu
dalil, yaitu sebuah Hadis berlafazkan “shorih”
(letterlijk) yang memerintahkan puasa dan berbuka
berdasarkan rukyat. Jelas, tidak ada satu dalil Hadis
atau satu ayat al-Quran pun yang memerintahkan umat
Islam berpuasa berdasarkan hisab. Tapi benarkah
pendapat bahwa rukyat adalah lebih baik daripada
hisab? Lalu apakah rukyat masih relevan untuk
digunakan di zaman teknologi canggih seperti sekarang
ini? 
Metode “hisab” atau perhitungan pergantian bulan
berdasarkan ilmu astronomi (falak) merupakan hasil
dari sebuah inovasi dari seorang ilmuwan astronomi
Arab. Kendatipun demikian, Johannes Kepler (1571-1630)
satu-satunya ahli astronomi Jerman yang menggagas
pertama kali dimasukkannya ilmu falak ke dalam
hierarki ilmu pengetahuan dalam terminologi modern,
setelah melalui serangkaian eksperimentasi dan
penelitian yang dilakukan para pendahulunya. Tiga
teori dasar yang dicetuskan Kepler mampu menelaah
perkiraan tempat benda-benda langit atau menjelaskan
gerakan orbit secara akurat.
Lalu pada tahun 1667, ilmuwan Inggeris Isaac Newton
(1642-1727) menerbitkan bukunya yang terkenal. Dalam
bukunya tersebut Newton bukan hanya memberi tafsiran
baru seputar tiga hukum Kepler, ia bahkan membuat
suatu sistem mekanika alam dengan mengkalkulasi hukum
fisika di hampir semua bagian luar angkasa: bulan,
Mars, Venus atau bahkan di tempat-tempat lain di jagat
raya. 
Seperti halnya Kepler, ia juga mengemukakan tiga teori
besar, pertama, teori bahwa suatu benda bergerak
karena ada kekuatan dari luar. Kedua, teori bahwa
setiap gerak akan menimbulkan gerak sebanding dengan
arah berlawanan. Dan ketiga, teori Gravitasi
Universal. Semua teori mekanika Newton ini kelak
dimanfaatkan manusia untuk menjawab hampir semua
masalah alam.
Yang menarik, mekanik alam ini ternyata menyatakan
bahwa semua fenomena gerak – baik yang berhubungan
dengan gerak planet di sekitar matahari, gerak peluru
pada objek sasaran, atau gerak apel yang jatuh ke bumi
– semuanya bertekuk lutut dengan hukum fisika tadi.
Itu artinya siapapun tidak perlu melakukan
eksprerimentasi yang pelik atau bangun di malam hari
untuk membuat prakiraan gerakan materi dan mengetahui
lokasinya. Bahkan semua yang 'dirasakan' hanyalah
perlunya mengetahui semua faktor tarik-menarik
(gravitasi) pada tiap-tiap benda tersebut. Lalu
tinggal mempraktekkan teori hukum fisika tersebut
untuk mencatat fakta-fakta sekitar yang ingin
diketahui, misalnya untuk mengetahui lokasinya dalam
per-detik, kecepatannya atau bentuk garis edarnya. 
Salah satu faktor lain mengapa para ilmuwan semakin
percaya dengan metode ilmu pasti, karena prestasinya
sudah melampaui dugaan semua orang, ia mampu
“menghisab” atau menghitung peredaran planet dan
benda-benda langit lain, seperti halnya mampu
memperkirakan munculnya gerhana matahari dan bulan,
tidak sekedar memprakirakan kemunculan gerhana di masa
yang akan datang, melainkan juga di masa lampau. Semua
dijelaskan dengan detail dan sangat akurat.
Serangkaian prestasi serupa telah diciptakan dua orang
tokoh astronomi dari Inggeris dan Perancis berdasarkan
hukum Newton (Newtonian) dalam menafsirkan faktor
konfusi peredaran planet Uranus dan kontroversi
peredaran Uranus yang melenceng dari yang
diperkirakan. Kedua ilmuwan ini menjelaskan, bahwa
rotasi Uranus mengalami collaps karena tunduk pada
pengaruh sebuah planet yang tidak dikenal saat itu,
yang terletak amat jauh dari Uranus. Planet yang
misterius itu kemudian dikenal dengan nama Pluto,
setelah diketahui melenceng satu derajat dari yang
diperkirakan. 

Aspek Dunia dan Akherat
Ketika pesawat antariksa Apollo mendarat di bulan,
Bill Andreas –pilot pesawat- ketika ditanya oleh
anaknya siapa guide pesawat yang membawa ayahnya
berhasil menuju bulan, ia menjawab: “yang memegang
sistem kendali pesawat itu adalah Newton dengan hukum
gravitasinya”. 
Kemudian muncullah seorang ilmuwan Jerman, Albert
Einstein (1916), melemparkan teori Relativitas Umum
yang menambal-sulam semua kekurangan yang terjadi
dalam sistem mekanika Newton. Relativitas Umum
berbasiskan asas kesetaraan yang mengatakan bahwa:
hukum-hukum alam harus dituliskan dalam bentuk
demikian sehingga tak mungkin membedakan antara medan
gravitasi serbasama dengan suatu kerangka acuan yang
dipercepat. Dengan Teori Relativitas Umum, garis edar
planet Merkurius yang berinteraksi dengan matahari
(juga dengan planet-planet lain) dapat dijelaskan
secara lebih akurat bila dibandingkan dengan
menggunakan Hukum Gravitasi Universal. Meski demikian,
Hukum Gravitasi Universal cukup memadai untuk
keperluan praktis karena bentuknya yang lebih
sederhana.
Sebagai contoh, Einstein meralat kesalahan fisikis
tentang gerakan planet Merkurius dan mencapai 43 detik
per-abad. Kesalahan seperti ini lebih kecil dari
penampakan sehelai rambut ketika dibawa dan
dibentangkan jauh-jauh. Para ahli astronomi saat ini
melakukan perhitungan mencapai batas hampir sempurna
pasca pengiriman pesawat antariksa Voyager-2, pesawat
penjelajah yang mampu mendekati garis edar planet
Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. 
Yang kita pertanyakan, mengapa umat Islam sekarang ini
tidak memanfaatkan dinamika “ilmu falak” tersebut yang
pada nantinya umat Islam dengan mudah bisa menentukan
permulaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri? Bukankah yang
mampu memberitahu waktu tibanya peristiwa gerhana
matahari/bulan, wabilkhusus terjadinya dua fenomena
tersebut, mekanisme dan posisinya di permukaan bumi
seperti yang kita saksikan pada tahun 1999 juga tahu
posisi matahari/bulan? Atau benarkah memanfaatkan
sarana penemuan-penemuan ilmiah tersebut bertentangan
dengan akidah Islam? Lalu bagaimana teologi Islam
memandang orang yang bersikap kontra terhadap ilmu
sains tersebut? Kita terlena dengan mengkonsumsi
teknologi modern dalam urusan duniawi, sementara kita
enggan menggunakan dasar-dasar sains modern untuk
meningkatkan kualitas keberagamaan kita. Apakah masuk
akal, kita ajari anak-anak di sekolah dasar-dasar
sains modern tentang evolusi/revolusi bumi atau
revolusi bulan, sementara dalam kehidupan sehari-hari
kita pura-pura bodoh? Kita bisa menyaksikan bulan di
tanah air, Saudi Arabia, Irak, Mesir dan Maroko,
sementara di Suriah dan Aljazair tidak terlihat sama
sekali? Apakah bulan itu tiba-tiba saja langsung
meloncat ke sebagian negara lain? Ataukah sembunyi di
balik bukit? 
Memang benar bahwa Rasulullah saw menyuruh kita
berpuasa dengan terlebih dahulu memastikan
‘kemunculan’ hilal dengan sabdanya yang terkenal:
“Berpuasalah berdasarkan rukyat hilal, dan berbukalah
berdasarkan rukyat hilal”. Namun Rasulullah
memerintahkan kita dengan metode visibilitas hilal
tersebut karena tak lepas dengan dua faktor: Pertama,
rukyat adalah salah satu media atau cara peneropongan
satu-satunya yang ‘acceptable’ waktu itu, sebab memang
belum ada penemuan atau penciptaan alat pendekat atau
pembesar seperti teropong dan sebagainya hingga abad
ke-17. Karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah
saw mendorong umat manusia dapat me-rukyat (melihat
dengan mata telanjang) adanya hilal dan memastikan
keberadaannya dengan segala cara, karena memang tidak
perlu dengan cara rukyat kalau memang ada media yang
lebih baik dan lebih akurat. Kedua, bahwa media
tercepat untuk mentransper informasi pada saat itu
adalah kuda. Bila seorang penunggang kuda dari Madinah
diberi tugas untuk menginformasikan tibanya bulan
Ramadhan pada masyarakat Damaskus di Syria, ia akan
menyampaikannya pada saat itu juga. Begitu juga
apabila Ramadhan berakhir, rakyat Damaskus akan
menyambut berita itu dan langsung memperingati hari
raya Idul Fitri. 
Situasi seperti itu sungguh jauh berbeda dengan saat
ini. Di era teknologi canggih seperti sekarang, hampir
di setiap rumah ada telpon, televisi dan radio. Di
masjid kita menggunakan sound system dengan tujuan
sebagai pengeras suara azan, menggunakan lampu listrik
sebagai alat penerangan, atau menggunakan AC untuk
mengatur suhu udara di dalam masjid. Begitupula kita
menggunakan media hisab terkini untuk memperhitungkan
posisi bulan atau memakai satelit dan teleskop
tercanggih yang tidak terpengaruh segala macam cuaca,
untuk menegaskan keberadaan bulan di langit. Media
teknologi canggih yang kita konsumsi itu semuanya
untuk memfasilitasi umat Islam dalam urusan agama dan
dunia. Ditambah lagi dengan sulitnya ‘melihat’ hilal
tanpa alat apapun: misalnya pada fase bulan purnama,
hilal merupakan obyek yang lemah dan tidak mudah
dikenali oleh mata manusia. Setelah maghrib misalnya,
hilal bisa tampak dan lokasi penampakan hilal tersebut
ada di dekat horizon barat. Nah, untuk bisa berhasil
melihatnya memerlukan konsentrasi dan waktu yang
tepat. Walaupun siklus itu dapat terus berulang, namun
kesempatan melihat hilal sangat langka dan sulit.
Kesulitan itu terjadi karena cuaca berawan atau faktor
fisikis dan psikologis manusia itu sendiri. 
Hilal itu sendiri tidak selalu identik dengan tanduk
yang membentuk setengah lingkaran. Pada saat-saat
tertentu, tanduk luar cahaya itu membaur karena
turbulensi atau perputaran bumi, sehingga terkesan
hilang. Nah, semakin muda hilal, semakin sulit pula
untuk menyaksikannya secara kasat mata. Dalam keadaan
seperti ini, tak jarang sebagian yang belum
berpengalaman akan menyimpulkan bahwa “hilal tidak
muncul”. Dan, ini adalah salah satu faktor perbedaan
permulaan puasa dan awal Syawal (Idul Fitri). 
Adapun orang yang memang 'kekeuh' dengan pendiriannya
agar terus berpegangan kepada teks Hadis di atas,
tampaknya belum melihat pada maksud yang
melatarbelakanginya. Ilustrasinya persis seperti dua
orang di sebuah kamar: orang pertama berpesan kepada
orang ke-dua agar lekas menyelesaikan pekerjaannya
tepat jam 2 siang. Tapi rupanya orang ke-dua tidak
mengetahui cara mengetahui waktu tersebut. Kemudian
orang pertama tadi mengingatkan bahwa jam 2 akan tiba
apabila sebuah kendaraan lewat di depan jendela.
Posisinya menjadi sulit manakalah orang ke-dua tadi
ternyata tidak tahu kalau sebuah mobil sudah melewati
jendela pada saat itu juga! Nah, kalau jam 2 siang
tidak ada satu kendaraanpun yang lewat, bagaimana?
Tidak apa-apa, yang penting intinya adalah
menyelesaikan tugasnya itu dengan segala cara, tidak
perlu menunggu kendaraan!
Karena itu, yang pertama kali dilakukan adalah
pembentukan sebuah ‘lajnah’ atau badan khusus yang
menangani keputusan atau kasus sederhana seperti ini.
Dan yang kedua, menghindari ratusan juta muslimin dari
permainan jampi-jampi yang mereka alami tiap tahun
atas nama kebodohan dan kesalahpahaman mereka terhadap
agama, khususnya kewajiban menggunakan alat bantu
teleskop atau penggunaan teknologi mutakhir untuk
mewujudkan tibanya bulan Ramadhan pada tiap tahunnya,
agar hasilnya nanti dapat ditransper ke sebuah channel
satelit yang disiarkan ke berbagai jutaan pemirsa
Muslim ke berbagai belahan dunia. Dengan demikian,
keseragaman awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri bisa
terjadi.[]

http://religiusta.multiply.com/journal/item/72

7 Oktober 2005
# Taufik Munir


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke