ATUT HARUS MEMBUKA "KERAN"
Oleh Aji Setiakarya

Berdasarkan Keputusan Presiden No 169 Tahun 2005 akhirnya  Rt Atut
Chosiyah menjadi Pelaksana Tugas (plt) Gubernur Banten menggantikan
Djoko Munandar yang memimpin sejak tahun 2001. Suksesi kepemimpinan
tersebut menimbulkan berbagai macam harapan juga apatisme dari sebagian
masyarakat akan kapasitas Atut dalam memenej kinerja pemerintahan
melanjutkan tongkat estafet Djoko.

KOMUNIKASI
Keadaan sosial, ekonomi masyarakat yang  sedang terbelenggu oleh keadaan
negara yang semakin tak menentu dan tak mengarah. Persoalan hukum yang
sedang "sekarat" menghadapi berbagai tindak pidana korupsi. Juga
ketertinggalan pendidikan masyarakat Banten. Adalah sederet persoalan
yang membuat masyarakat Banten apatis. Aspek budaya yang tak terjamah
oleh pemerintahan pada masa kepemimpinan Djoko Munandar-Atut Chosiyah.
Belum lagi keadaan infrastruktur daerah yang terbengkalai akibat
tarik-menarik berbagai kelompok yang berkepentingan (Interest group)
semakin membuat masyarakat tidak percaya atas kinerja Pemerintah Daerah.

Berbagai pertanyaan kemudian timbul dengan naiknya Rt Atut Chosiyah yang
ikut berperan serta memerintah bersama gubernur non aktif. Apakah Atut
mampu mengatasi persoalan yang membelenggu masyarakat, membawa Banten
kepada misi awal? Yakni, mensejahterakan masyarakat, memberikan
pelayanan yang lebih kepada rakyat sebagai perpanjangan tangan
pemerintah pusat? Meletakkan tujuan otonomi daerah pada hakekat aslinya?
Responsif dan partisifatif? Atau Atut akan tergelincir ke dalam jurang
virtual circle, lembah korupsi mengikuti jejak Djoko?
Kebijakan model komunikasi politik yang digunakan oleh sebuah institusi,
dapat dijadikan jawaban pertanyaan di atas. Sekaligus menjadi indikasi
dalam menganalisa serta menilai kemampuan pemerintah dalam mengatasi
persoalan dan menjawab harapan masyarakat. Komunikasi Politik merupakan
komunikasi yang bermuatan penggunaan kecerdasan, kepintaran, kecedikan
bahkan kelicikan dengan tujuan mengatur dan menguasai masyarakat  dan
Negara (Muis, 2000).  Definisi ini mengandung arti, adanya komuniksi
antara lembaga-lembaga kekuasaan, lembaga legislatif, lembaga hukum,
lembaga politik, lembaga masyarakat, lembaga ekonomi atau kelompok
ekonomi besar dan lembaga komunikasi massa untuk mengontrol, menguasai
dan mengatur masyarakat dan negara. Komunikasi politik adalah upaya
bersama dari semua elemen untuk mengadakan kegiatan politik yang aktif
dan sehat. Menumbuhkan sikap partisipasi masyarakat dalam pembangunan,
membina stabilitas politik dan mencegah terjadinya ketegangan dalam
sistem politik . 

SATU ARAH
Dalam sejarah Negara Indonesia, setidaknya ada dua model komunikasi
politik yang digunakan oleh pemerintah dalam mengatur masyarakat.
Pertama, adalah model top-down. Model komunikasi top-down adalah
komunikasi yang bersifat satu arah dari  pemerintah kepada rakyat.
Selama puluhan tahun dalam genggaman Orde Baru Indonesia telah terlempar
pada model komunikasi yang menyengsarakan ini. Saluran komunikasi
ditutup oleh pemerintah. Masyarakat Indonesia tidak diberikan kebebasan
untuk memperoleh, mengumpulkan dan bertukar informasi secara terbuka.
Pers sebagai institusi yang berfungsi sebagai pengontrol sosial
dibungkam dan tidak boleh memberitakan permasalahan-permasalahan yang
menganggu kepentingan penguasa. Komunikasi model ini terjadi monolog
dari penguasa kepada rakyat. Sehingga yang terjadi komunikasi sosial
yang macet dan mandeg. Tidak ada ruang dialog dan sharing bagi
masyarakat, sendi-sendi kreativias dan kritik terkekang dan mati.
Komunikasi top-down telah membuat masyarakat tercebur dalam "budaya
permisif" atau budaya masa bodoh.

DUA ARAH
Tetapi setelah reformasi bergulir angin surga dirasakan oleh insan pers.
Keruntuhan Orde Baru yang dipaksa oleh mahasiswa menandakan berakhirnya
komunikasi satu arah yang telah membunuh kreativitas dan imajinasi
bangsa itu. Media massa diberikan kebebasan untuk meliput dan mencari
berita. Pemerintah menerbitkan UU menganai kebebasan Pers. Pemerintah
membuka "keran" informasi yang selama zaman Soeharto tertutup rapat.
Mengembang bentuk komunikasi yang dialogis dan demokratis dan dua arah.
Model inilah yang selanjutnya disebut dengan bottom-up. Model komunikasi
yang melibatkan banyak komponen dalam setiap pengambilan kebijakan.  
Setiap penggantian pemimpin memang selalu dijadikan momentum untuk
melakukan perubahan-perubahan kebijakan yang telah ada. Di negeri ini,
ada kesan kalau orangnya baru, maka semua perangkat dan
kebijakan-kebijakannya harus anyar pula. Mengenai perubahan kebijakannya
tak jadi soal, selama itu memihak rakyat, menampung aspirasi publik dan
merangsang tumbuhnya pembangunan yang lebih positif. Yang menjadi
persoalan adalah ketika kebijakan baru tersebut tidak inovatif dan
kreatif. Kebijakan yang diterbitkan cenderung memihak atau menguntungkan
kelompoknya.   Keputusan tidak mengandung ide-ide yang cemerlang dalam
upaya memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat. Meminjam istilah Bara
Hasibuan, politik langka ide-ide (the battles ideas). 
        Kiranya kita tidak mengharapkan hal demikian. Atut yang
diberikan wewenang sebagai pelaksana tugas mengambil kebijakan yang
salah dengan menutup diri dari masyarakat, pers, mahasiswa dengan
berbagai macam kebijakan-kebijakan barunya. Atut akan dirasa mampu
menjalankan roda pemerintahan apabila membuka "keran" informasi yang
selama ini masih terkesan ditutupi. Menerapkan model komunikasi
buttom-up dan melibatkan masyarakat, mahasiswa, LSM, akademisi dalam
setiap tingkah-politiknya. Karena dengan demikian akan terwujud sebuah
komunikasi yang saling memberi dan menerima yang mengarah pada civil
society (masyarakat madani). Adanya interaksi, keterlibatan dan
partisipasi aktif dari masyarakat luas dalam pengelolaan negara yang
pada gilirannya akan terwujud good governance. Sebagai tujuan paling
tinggi demokrasi pada dasawarsa ini.

***

*) Aji Setiakarya, Mahasiswa Komunikasi 
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan volunteer Rumah Dunia.























































------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke