Dubes RI Untuk Mesir:

"Yang Mendesak Untuk Segera Diwujudkan Adalah Rumah Daerah."

KAIRO--Kamis 20 Oktober 2005 yang lalu, Keluarga Mahasiswa Banten Mesir mengadakan acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Duta Besar RI Untuk Mesir, Prof. DR. H. Bachtiar Aly, MA.. Kegiatan buka puasa bersama dan silaturahmi ini telah menjadi agenda rutin tiap tahun yang diadakan oleh Dewan Pengurus KMB. Selain menjalin silaturahmi (bersua) antar anggota KMB yang kebetulan berjauhan tempat tinggalnya, acara ini juga diadakan bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran.

 

Kegiatan silaturahmi ini sesuai dengan spirit dalam sebuah hadits Nabi yang menyebutkan bahwa untuk memperluas rizki dan memperpanjang usia, maka hendaknya manusia mau menjalin tali silaturahmi. "Barang siapa yang ingin memperluas rizki dan memperpanjang umurnya, maka jalinlah silaturahmi." Demikian perkataan Nabi yang kemudian menjadi landasan umat manusia dalam bersilaturahmi.

 

Pada kesempatan yang penuh berkah di bulan penuh rahmat itu, Dubes RI untuk Mesir, Prof. DR. Bachtiar Aly, MA., diperkenankan memberikan prakata dan sambutannya selama kurang lebih lima belas menit sampai adzan Maghrib berkumandang. Sudah menjadi maklum, bahwa setiap sambutan atau prakata dari Dubes-yang lebih dikenal sebagai ahli ilmu komunikasi dan pakar resolusi konflik-, teramat dinantikan oleh mahasiswa. Sebab, perkataan beliau seperti membawa angin segar bagi dinamika mahasiswa di Bumi Kinanah ini.

 

"Ini adalah sekretariat tertinggi yang pernah saya naiki…" kata Dubes yang berbadan subur itu saat memulai pembicaraan. Terang saja Pak Dubes berbicara demikian, sebab Sekretariat KMB memang terletak di lantai empat. Lantai paling tinggi untuk ukuran apartemen di kawasan Tenth District , Nasr City, Kairo, tempat dimana KMB berada.

 

"Tiga tahun yang silam, Dewan Pengurus KMB beraudiensi dengan saya, saat itu mereka menceritakan panjang lebar tentang KMB. Dan, dalam cerita itu seperti terdapat keluhan-keluhan seorang anak terhadap bapaknya. ‘Hanya KMB yang tidak memiliki sesepuh yang menjadi staf di KBRI,’ kira-kira begitu keluhannya." Saat Pak Dubes menceritakan hal itu, audiens pun terdiam. Lalu Pak Dubes berkata, "Sekarang, Anda tidak perlu khawatir lagi. Sebab saya adalah orang Banten. Saya punya KTP Banten. Dan saya tinggal di Banten. Yah, saya tinggal di Pamulang. Pamulang wilayah Banten, toh?" kata beliau meyakinkan.

 

Saat itu, tiga tahun yang silam, Prof.. DR. Bachtiar Aly, MA., memang baru beberapa minggu menjabat sebagai Duta Besar di Mesir. Tapi, upayanya untuk bisa akrab dengan mahasiswa, termasuk mahasiswa Banten patut diapresiasi. Kedatangannya sangat berdampak positif terhadap dinamika mahasiswa di Mesir. Bahkan, kepekaan beliau terhadap kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir yang sulit dibilang layak, menjadikannya berkeinginan mendirikan Rumah Indonesia yang nantinya akan berfungsi sebagai rumah serba guna. Bak gayung bersambut, para mahasiswa pun ramai-ramai merilis pengadaan Rumah Daerah yang akan berfungsi sebagai sekretariat.

 

Upaya yang dilakukan para mahasiswa dengan didukung penuh oleh Duta Besar pun berbuah manis. Sampai saat ini sudah ada delapan dari enam belas kekeluargaan (organisasi kedaerahan) yang telah memiliki sekretariat permanen atau dimiliki sendiri. Sementara sisanya, termasuk Keluarga Mahasiswa Banten, terpaksa harus menyewa.

 

Akhir November ini, Pak Dubes akan segera mengakhiri masa jabatannya sebagai Duta Besar di Mesir. Sekalipun Rumah Indonesia belum juga terwujud. Namun, masa kepemimpinannya mampu membantu beberapa kekeluargaan untuk memiliki Rumah Daerah.

 

Berkenaan dengan Rumah Daerah Banten, Pak Dubes sebenarnya telah berbicara secara personal kepada Gubernur Banten saat itu (Djoko Munandar). Bahkan, beliau juga mengusulkan agar Banten yang dikenal kental nilai islamnya, membangun universitas Islam dengan bekerjasama dengan universitas-universitas di Mesir. Gagasan yang sangat futuristik. Jika ini bisa terwujud, Banten bisa menjadi salah satu kota pelajar terbesar, apalagi didukung dengan letak geografisnya yang sangat kondusif, tidak jauh dari ibu kota negara.

 

"Yang paling mendesak untuk segera diwujudkan adalah Rumah Daerah." kata Pak Dubes setelah bercerita tentang perkenalannya dengan KMB. Untuk itu, atas tekad baiknya untuk menolong KMB, beliau pun akan berusaha menemui Gubernur agar bisa merekomendasikan ini, "Insya Allah, sepulangnya saya ke tanah air, saya akan mencoba lagi untuk menghubungi pemerintah propinsi Banten untuk mewujudkan cita-cita mulia ini."

 

"Kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir berbeda dengan mahasiswa di Eropa." tutur alumnus terbaik di salah satu universitas di Jerman ini. "Kalau mahasiswa Indonesia di Eropa, mereka mendapatkan kehidupan yang layak dari beasiswanya. Atau dari hasil sambilannya di instansi-instansi yang ada di sana. Berbeda dengan mahasiswa di Mesir. Kehidupan mahasiswa berbeasiswa saja belum bisa dibilang layak, apalagi yang tidak berbeasiswa. Tapi, niat dan cita-cita mereka (mahasiswa di Mesir, pen) sangat mulia. Oleh karenanya alangkah lebih baik jika cita-cita mulia itu mendapat dukungan juga dari pemerintah daerah." [Edi Hudiata HMT, Ketua KMB Mesir, ambasador Rumah Dunia di Mesir].


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

Tetap Semangat Mencintai Banten!



YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke