Assalamualaikum wr. wb.

Basa labaran kamari, kuring nyaba ka lembur di Bayah.
Salila di Bayah, kuring ngalanglang ka sisi basisir
bari ngusep. Dibaturan ku hiliwirna angin laut jeung
gumuruh ombak laut, bari diuk dina batu karang
handapeun tangkal. Tiis jeung jempe jauh tina
kabisingan hiruk pikukna kahirupan kota. (Rada kagok
ari ngomong sunda anu alus teh nya). Kuring narawang
kana patilasan kekejaman penjajah Jepang anu
ninggalkeun puing-puing sesa jalan kareta api.
DEBUR ombak pantai selatan itu menjadi saksi bisu atas
penderitaan ribuan orang, sekitar 60 tahun silam.
Namun, kini jejak-jejak kekejaman yang menewaskan
ribuan rakyat Indonesia itu mulai terhapus oleh sikap
acuh tak acuh generasi zaman ini. Sejarah romusha di
Pulau Manuk, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten,
itu kini terancam hilang dari kenangan.

SATU-satunya apresiasi terhadap kegetiran para romusha
itu hanyalah berupa tonggak monumen yang berlokasi di
sebelah SLTPN 1 Bayah pinggir jalan raya
Bayah-Malingping tak jauh dari Kantor Camat Bayah
tempat monumen Romusha, . Itu pun kurang terawat dan
terkesan diabaikan.

Bendera merah-putih tidak terpasang sempurna karena
kaitan bagian merah terlepas. Merah-putih yang tidak
bisa berkibar seolah mengabarkan ketidakberdayaan para
romusha di bawah kekejaman penjajah Jepang, tahun
1942-1945.

Saya pernah mengunjungi salah seorang pelaku sejarah
Mbah Pareno (87) bertempat tinggal di Desa Darmasari
(Pulo Manuk), salah satu mantan romusha, tertegun
sejenak ketika menunjukkan lokasi stasiun, tempat
parkir berbagai lokomotif kereta api zaman Jepang, di
kawasan pantai Pulau Manuk. Bekas stasiun itu hanya
menyisakan pal-pal pondasi yang penuh rumput dan
tanaman liar.

Tidak jauh dari tempat itu, kuburan para romusha malah
tidak ada lagi tanda-tandanya. Kuburan itu hanyalah
tanah kosong di sela-sela semak di pantai Pulau Manuk,
yang sering terempas ombak ketika laut pasang.

Sumur romusha, stasiun kereta api, goa-goa bekas
tambang batu bara di zaman penjajahan Jepang, kuburan
romusha, makanan romusha, dan hal-hal lain yang berbau
romusha seperti punah begitu saja. "Rel-rel kereta api
untuk angkutan batu bara zaman Jepang sudah habis
diangkut tukang besi dan dijual," ujarnya.

Sumur romusha, tempat para romusha mengambil air untuk
minum yang terletak di lahan perkebunan, belakang
SLTPN 1 Bayah, kini tertutup tanaman liar. Jenis
sayuran yang dahulu dikonsumsi para romusha, seperti
sayur bunga karang, sayur ganggang laut, dan lodeh
empot, sudah sulit didapat di Pasar Bayah.

Upacara peringatan romusha oleh masyarakat setempat,
berupa atraksi atau karnaval, pun sudah lama tidak
digelar. Menurut Pareno, sudah 10 tahun terakhir
desanya tidak menggelar peringatan itu seiring dengan
meninggalnya para bekas romusha. "Anak-anak muda
sekarang malu memperingati upacara itu. Mereka malu
kalau diketahui keturunan bekas romusha," ungkapnya.

Andaikata semua itu masih terawat, niscaya akan
menjadi obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai
yang membentang di pesisir Banten Selatan. Keindahan
panorama pantai akan diperkaya oleh kedalaman
perenungan batin atas perjalanan sejarah negeri ini.

PULAU Manuk adalah salah satu dari beberapa lokasi di
Bayah yang menjadi saksi bisu aksi penindasan Jepang
terhadap para romusha. Kawasan yang berjarak sekitar
lima kilometer dari kota Kecamatan Bayah atau
pertigaan Terminal Bayah itu bisa dicapai dari
berbagai jurusan. Dari Jakarta, Bayah bisa ditempuh
melalui Sukabumi-Pelabuhanratu (Jawa Barat), atau
melalui Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak
(Banten). Jika melalui Pelabuhanratu, jalur yang
dilewati, antara lain Cisolok-Cipicung-Cikotok-Bayah
atau Cisolok-Cibareno-Bayah.

Jalur Cisolok-Cibareno-Bayah akan melewati beberapa
jalan mendaki dan menurun, tetapi pengunjung akan
mendapat suguhan panorama laut selatan, seperti Pantai
Cibangban, Cibareno, dan seterusnya. Indahnya pantai
selatan di kiri jalan, yang diselingi dengan liukan
nyiur dan hamparan sawah di dekat pantai, bisa
dinikmati di jalur selatan itu hingga Muarabinuangeun.

Namun, jika menyetir mobil, perlu berhati-hati dan
jangan sampai terlena pada keindahan pantai selatan.
Di sepanjang jalur selatan itu, masih banyak jalan
berlubang kendati masih layak untuk dilalui. Di
samping itu, situasi jalan di tempat-tempat tertentu
pada jalur itu kadang-kadang sepi.

Jika melalui Rangkasbitung, jalur yang dilewati,
antara lain, yaitu Saketi
(Pandeglang)-Malingping-Bayah. Sebelum sampai
Malingping, pengunjung akan melewati jalan
berliku-liku di antara permukiman warga dan area
perkebunan dengan kondisi jalan yang sebagian bagus,
tetapi sebagian sudah rusak. Setelah melewati
Malingping ke arah Bayah, pemandangan pantai selatan
terhampar di kanan jalan.

Selain terkenal dengan sejarah romusha, Bayah juga
tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat
persembunyian tokoh Tan Malaka. Di Banten Selatan itu,
ia pernah menyamar sebagai mandor pertambangan batu
bara dengan nama samaran Ilyas Husein. Tan Malaka
sempat mengorganisasi para romusha, membentuk kelompok
drama, dan menyelesaikan karya magnum opus-nya,
Madilog.

Pada zaman penjajahan Jepang, tulis Adhy Asmara dalam
Pesona Wisata Zamrud Katulistiwa Banten, kapal-kapal
perang Jepang banyak yang melakukan pendaratan di
seputar muara Cimadur, Pantai Bayah. Saat itu, Bayah
dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang
digunakan untuk bahan bakar kereta api, kapal laut,
dan pabrik.

Penambangan batu bara, antara lain dengan pembuatan
lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta
pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut
batu bara, diperkirakan memakan korban kurang lebih
93.000 romusha. Pareno mengungkapkan, sebagian besar
romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti
Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang,
Yogyakarta, dan lain-lain.

SEJARAH Romusha di Bayah merupakan potensi wisata
sejarah yang diabaikan. Potensi itu sebenarnya akan
melengkapi potensi wisata pantai selatan dan wisata ke
gua-gua alam. Namun, semua potensi tersebut kurang
digarap sehingga terkesan merana.

Adhy Asmara dalam buku yang sama menyebutkan, kawasan
Pulau Manuk telah ditata menjadi Desa Wisata Romusha
Pulau Manuk. Akan tetapi, saat menyusuri kawasan itu,
tidak terlihat adanya tanda-tanda tempat itu telah
dijadikan desa wisata.

Sejarah romusha di Banten Selatan-seperti sejarah di
balik Tembok Berlin (Jerman), kisah di balik Tugu
Tiananmen (China), atau cerita kekejaman Nazi di
Monumen Kebangkitan 1944 di Warsawa (Polandia)-
sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata untuk mengenang
luka sejarah.... 

Wassalamualaikum wr. wb.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke