Hehehe... sebenernya saya nggak nulis kosa kata 'gundik"... okeh.. saya sertakan artikel lengkapnya neeh.... tulisannya ini provokasi saya.. jika Banben tetap tidak berubah.. hmm.. aroma cerutu kuba kayaknya enak dicoba neh...
tetap semangat gg == JABAN , MAKHLUK APAKAH ITU? (Mencermati Tingkah Polah Para Cagub Banten) Oleh Gola Gong* Ketika Radar Banten (RB) membentuk divisi Litbang dan Ombusdman, yang digawangi Abdul Malik (tadinya Redpel), saya menanti-nanti penuh harapan, apa yang akan diperbuat oleh kedua bagian ini dalam memperkaya isi korannya. Selama 6 tahun perjalanan, saya masih menunggu koran ini memuat liputan-liputan mendalam. Sebagai konsumen, tentu saya harus menuntut banyak pada koran lokal ini. Jangan hanya menyuguhi hard news dan tulisan features tanggung. PARTISIPASI Kemudian muncul program "Jaban", yang digagas Litbang RB, bekerjasama dengan Lembaga Kajian Sosial Politik (LKSP) FISIP Untirta. "Mahkluk apa itu `Jaban'?" tanya saya. Ada yang iseng menjawab, "Jamban" kali!", yang artinya tempat buang hajat. Terdengar nada pesimistis di dalamnya. Tapi ada yang optimis, "Jaban? Apa sama dengan `diijabah'!", yang artinya dikbulkan. Saya nyengir seperti kuda. Ternyata itu akronim dari "Jaring Aspirasi Banten", polling calon gubernur (cagub) Banten lewat pesan SMS di nomor 7471. Semua orang (yang memiliki handphone tentu) boleh menyuarakan pendapatnya tentang cagub Banten pilihannya. Tidak ada lagi batas ruang dan waktu. Sebagai rakyat, saya merasa mendapat durian runtuh, karena "Jaban" mengajak saya (juga masyarakat Banten) terlibat dan berpartisipasi dalam proses-proses parbaikan dan pembaruan. Ya, kita sebagai pemilik sah tanah para sultan ini sudah terlalu lama diabaikan. Selama bergolak suhu politik di Banten, kurun waktu 2000 2006, baik di tingkat provinsi pun kabupaten, saya belum mendengar ada kiprah cerdas dari institusi yang dihuni oleh orang-orang dengan gelar berderet-deret. Biasanya mereka lebih memilih jadi semut mengerubungi gula atau ibarat laron menyerbu neon; berlomba jadi tim sukses para calon cabup atau cagub. Mengobral janji pada rakyat, bahwa platform yang diusung pasangan A visi-misinya gurih dan renyah seperti kue serabi serta dijamin halal seratus persen. Tidak ada satu pun yang memihak pada rakyat. Semua hanya satu arah. Para elit politik dan akademisi cenderung berkongsi dengan para penguasa. Sedangkan wong cilik harus mau dicekoki, seperti balita minum obat. Kini Litbang RB dan LKSP FISIP Untirta mulai memainkan peran strategis; memihak pada rakyat dengan program "Jaban". Di koran ini, Sabtu (10/12) lalu, Ikhsan Ahmad, Direktur LKSP menegaskan, tidak akan ada pungutan kepada para cagub Banten, yang namanya tertera. Ini cukup heroik ditengah keapatisan masyarakat pada moral dan akhlak para legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ikhsan memaparkan dalam "diskusi kecil" di Rumah Dunia (4/12), bahwa program ini berkehendak menjadi esensi demokrasi dalam mendorong pesimistis masyarakat menjadi kekuatan demokrasi, menjadi potensi kekuatan agar para penguasa tidak memicing sebelah mata lagi. Masyarakat tidak lagi dianggap seperti dalam sajak Toto ST Radik berjudul "Rakyat" di kumpulan puisi "Jus Tomat Rasa Pedas": sesudah pemilu/rakyat dicercai diludahi/dijadikan ganjal kursi. Saya ingat saat berunjuk rasa menolak pembangunan mal di tanah bekas gedung Makodim, Juni Lalu, persis pilkadal kabupaten Serang bersama rekan-rekan di-AWAK (Aliansi Warga Kota). Para cabup Serang pada saat itu sedang kami ingatkan, bahwa kami sebagai komunitas sanggup menggalang opini dan memaparkan pada masyarakat, bahwa jangan memilih cabup yang tidak memihak pada rakyat, walaupun belum sempurna betul. Tapi, di sana ada bentuk partisipasi demokrasi dari kami. Ada potensi mobilisasi massa, yang biasa dilakukan Che Guvera dalam menentang sebuah rezim yang tiran. KAMPANYE Sudah seminggu "Jaban" digelar. Ada 11 nama yang dilemparkan ke pembaca RB, dengan penulisan abjad, untuk dipilih. Ini memang instan. Tapi setidak-tidaknya, saya sebagai rakyat bisa mencoba menaruh harapan pada kesebelas nama cagub itu. Bisa memilih-milih, tidak lagi seperti membeli kucing dalam karung. Itu saya praktekan. Saya kirim pesan "jaban k" dan send ke 7471. Tidak lama ada balasan ucapan terima kasih dan pertanyaan kenapa memjilih cagub tersebut dengan 4 pillihan. Saya jawab lagi, ada balasan lagi.Itu sebanyak tiga kali dan saya merasa nyaman, karena aspirasi saya sebagai rakyat, yang memilih cagub pilihan sendiri terpenuhi. Dri kesebelas nama tersebut, saya melihat beragam tingkah polah mereka. Genderang perang kampanye sudah dimulai. Pencintraan diri dibentuk dengan uang dan tahta. Dengan otot dan otak. Kita bisa melihat, ada yang masih memiliki jiwa kanak-kanak di dalam tubuhnya yang dewasa, menghambur-hamburkan uangnya untuk mejeng di koran-koran lokal, dengan gambar diri yang gagah serta cap sebagai pendiri provinsi Banten. Segala hajatan digelar sampai atraksi main bola segala, agar masyarakat jatuh cinta padanya. Bahkan media kampanye dengan dukungan redaksi orang-orang pintar yang keblinger diterbitkan, dijual bebas di agen-agen, menggalang opini masyarakat, bahwa dirinyalah yang terbaik. Saya analisa, tetap tidak menyentuh masyarakat. Hanya sekedar seremonial belaka dengan mulut beribu janji. Ini juga basi dan lagu lama. Ada juga rendah hati serta bijaksana lewat kata, "Saya akan salat istikharah dulu. Dari sini saya akan mendapatkan petunjuk, apakah amanah itu sesuai dengan kemampuan saya atau tidak," Dalam perspektik Islam, suaranya mewakili suara hati nurani masyarakat Banten, bahwa jika sesuatu dipimpin oleh yang bukan ahlinya, maka kehancuran akan datang. Itulah janji Allah. Lihat saja Banten sekarang; periode 2000 2005, dari mulai trias politica-nya; legislatif, eksekutif, dan yudikatif, yang diurusi melulu KKN. Ketika dipimpin mereka, masyarakat disuguhi menu-menu tidak menyehatkan badan serta pikiran. Tapi, ada juga yang cukup pintar dan heroik, rajin memanfaatkan isu dimasyarakat, misalnya tentang "Banten Membaca" dan perpustakaan, sehingga koran lokal memuatnya setiap hari dalam berita. Bahkan cagub itu dengan gigih menyuarakan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan serta menolak beras impor. Bagi saya dia news maker dan layak diacungi jempol, sehingga sepakterjangnya membuat gerah para politisi Banten. Kita lihat saja nanti, apakah selebritis cantik ini mampu meraih simpati masyarakat Banten. Yang terpenting sekarang, dengan adanya "Jaban" tim sukses para cabgub Banten, jangan menganggap masyarakt sebagai "ganjal kursi" saja. Para tim sukses harus mulai memikirkan strategi kampanye yang cerdas dan masuk akal, serta berpihak pada rakyat. Kata Erich Fromm (Lari dari Kebebasan, Pustaka Pelajar, April 1997), perjuangan menuju kebebasan dari belenggu orang-orang yang mempertahankan hak- hak istimewanya, pasti ujung-ujungnya akan dilawan dengan penindasan. Itu jika orientasi para cagub Banten sekedar mengejar harta dan tahta. Jika tetap begitu, hanya revolusi sosial yang yang bisa membetulkan kesekaratan Banten! Tapi, yakinlah! Secercah harapan menguak dengan adanya "Jaban". Ayo, para pemilik hand phone, kirim SMS ke 7471 Suarakan hatimu! Kejayaan Banten ada di handphone-mu! *** Komplek Hegar Alam, Kampung Ciloang, 11 Desember 2005 Penulis adalah novelis dan pengelola Komunitas Rumah Dunia. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
