Orde Baru Dalam 2 Dekade Terakhir-Akomodasi atau 
politisasi Islam?

Sikap maupun tindakan politik rezim Orde Baru pada dua 
dekade terakhir, yang tampak menerima aspirasi Islam 
dengan mewujudkannya dalam bentuk beberapa keputusan 
pemerintah menyangkut pakaian jilbab di sekolah, peradilan 
agama, pendidikan agama di sekolah, hingga yang paling 
menonjol “aliansi” dengan kekuatan ICMI, tidak 
bisa segera dimaknai sebagai bentuk genuine akomodasi 
pemerintah terhadap Islam. Hal ini di antaranya karena 
promosi aspirasi Islam oleh Soeharto dan kedekatannya 
dengan Islam pada dua dekade terakhir itu dilakukan oleh 
rezim Orde Baru dengan cara berubah-ubah atas dasar 
tingkat kepatuhan kelompok yang menjadi 
“sekutu”nya terhadap dirinya. Jika kelompok 
sekutu tersebut berubah menjadi pengkritik utamanya, maka 
sekutu politik tersebut berubah menjadi musuh politik.
Selain itu, praktik-praktik politik yang dijalankan Orde 
Baru terhadap Islam selama  dua dekade tersebut juga 
menimbulkan kesan kuat bahwa semua itu dimaksudkan untuk 
mengambil simpati masyarakat Muslim dengan menanamkan 
image bahwa Orde Baru adalah bagian dari masyarakat Islam, 
bukan musuh. Pentingnya image itu ditanamkan kepada 
masyarakat Islam sangat mungkin sekali dimaksudkan untuk 
menutupi praktik-praktik monopoi, oligopoli, korupsi, 
nepotisme dan seterusnya yang menjadi bagian penting dari 
kehidupan pemerintahan Orde Baru, atau paling tidak 
mengalihkan perhatian masyarakat Islam dari persoalan 
pemerintahan atau kekuasaan sesungguhnya, yang justru 
menjadi kepentingan riil mereka, ke persoalan isu-isu 
agama dan kepentingan Islam dalam urusan ditribusi 
kekuasaan kelas dua, sementara kekuasaan utamanya masih 
menjadi kendali Soeharto. Dengan kata lain, relasi Islam 
dan negara sengaja diciptakan sedemikian rupa oleh rezim 
Soeharto sebagai basis bagi pemantapan dan pelestarian 
kekuasaannya. Dus, politisasi terhadap Islam merupakan 
sebuah gambaran yang lebih layak dikenakan terhadap 
kenyataan relasi negara dan Islam di zaman Soeharto 
daripada akomodasi terhadap Islam itu sendiri. Memang 
diakui bahwa sejumlah keputusan politik, yang tampak 
menguntungkan Islam, telah dihasilkan oleh Orde Baru, dan 
keputusan-keputusan tersebut harus dianggap sebagai 
kontribusi Soeharto terhadap Islam Indonesia seperti yang 
dinyatakan oleh Munawir Sjadzali. Akan tetapi, kontribusi 
dimaksud tidak kemudian secara serta merta bermakna bahwa 
hubungan negara dan Islam pada dua dekade terakhir 
kekuasaan Orde Baru tersebut berpihak kepada Islam karena 
terbukti dari beberapa kasus dan model aliansi yang 
dibangun, seperti disebutkan di atas, bahwa Islam hanya 
dimanfaatkan sebagai bemper politik oleh rezim. Dengan 
demikian, pengalaman Islam dalam dua dekade terakhir Orde 
Baru memperkuat poin penting dari relasi negara-Islam 
dalam sejarah politik Islam secara umum di Indonesia, 
bahwa Islam banyak diposisikan sebagai basis politik oleh 
penguasa, sementara keuntungan terbesarnya berada di 
tangan penguasa, dan bukan pada Islam.
Strategi apa lagi..nih…!

salam
========================================================================================
Ikuti Kuis Ramadhan bersama TelkomNet Instan dari 12 Oktober s.d 2 Nopember 
2005 di 
http://www.plasa.com/jatim 
dan dapatkan hadiah setiap minggunya ! (khusus Jawa Timur)
========================================================================================
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke