FYI, semoga bermanfaat bagi kita info di bawah ini, tapi makan apa lagi 
ya...kalau makan ikan laut, kerang, tahu, baso, mie basah,, takut mengandung 
formalin. kalau makan ayam, telornya,,,takut kena flu burung... kalau makan 
daging sapi/kerbau... takut kena antrak atau sapi gila...kalau begitu kita 
makan sayuran saja yah alias vegetarian,, tapi sayurannya sekarang banyak 
mengandung pestisida dan rekayasa genetika... Jadiiii.. mau makan apa yah... 
kalau begitu enakan kita istirahat dulu, sambilan tiduran,,, tapi takut 
digigit nyamuk demam berdarah...Memang kondisi sekarang mulai tidak 
mengenakan, disaat , ...  orang bicara korupsi...disaat orang bicara 
sejarah... disaat orang bicara apa saja materinya ngalor ngidul ... kiranya 
kita perlu introspeksi,,, dan mawas diri... Ada apa dengan ini semua???? 
Sebagai pertanda apa... Memang semuanya mudah, kalau hanya sekadar ngomong 
doang, alias omdo, tapi sulit dipraktekkan. Yang jelas, saya salut dan 
hormat kepada Mang GG  (walaupun belum kenal dekat  secara langsung, tapi 
dulu pernah baca "Balada si Roy"), yang katanya berasal dari Purwakarta, 
tapi sudah banyak berkiprah untuk mencerdaskan generasi muda di wilayah 
Banten dengan mendirikan "Rumah Dunia". Mungkin, amal jariahnya tidak 
seberapa banyak, tapi sudah membuktikan secara kongkrit. Karena sebaik 
baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya. 
Silakan teman teman, sahabat sahabatku yg tercinta yg sekarang berdomisili 
di Banten dan mereka yg berasal dari Banten, lakukan tindakan kongkrit untuk 
memakmurkan alam semesta ini, wabilkhusus,,, wilayah Banten... dan bukan 
hanya waktu pilkadal saja... itu mah kepentingan sesaat...

Terima kasih.
Wassalam
DRH
yg ingin dan mau beramal, tapi masih kebanyakan mikir.

> ----- Original Message -----
> From: marginiati diah utami
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, November 23, 2005 2:08 PM
> Subject: Fwd: [sosek_IPB] Jangan makan ikan asin, mie basah, tahu, bakso
> dan kerang

[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>,

>
> Liputan6.com, Jakarta: Kepulan asap putih dari nasi pulen yang masih
> panas tentu membuat perut yang keroncongan semakin berontak. Apalagi
> ditambah sambal terasi, lalapan, dan ikan asin. Niscaya, porsi satu
> piring cepat tandas. Tapi di balik kenikmatan ini nyawa dipertaruhkan.
>
> Jangan terkecoh dengan penampilan ikan segar dan baru turun dari
> kapal yang baru pulang melaut. Kuat dugaan, ikan-ikan mulai tersentuh
> formalin sejak dari dalam kapal. Di dalam palka penampungan ikan,
> nelayan mencampuri ikan hasil tangkapan dengan cairan bernama lain
> formaldehid itu untuk menekan penggunaan es batu agar lebih murah.
>
> Penelitian di laboratorium menunjukkan hasil positif untuk hampir
> seluruh produk ikan asin dari Teluk Jakarta. Dalam ikan asin kecil
> seperti jambal dan cumi-cumi, untuk 10 gramnya terdapat lebih dari
> 1,5 ppm (part per million atau satu per sejuta) formalin.
>
> Menurut Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Balai Pengujian Mutu
> Hasil Perikanan Jakarta Devi Lydia, ikan yang mengandung cairan
> pengawet mayat bisa langsung diketahui. "Keras sekali. Karena di luar
> kering tapi di dalam tetap basah," kata Lydia, baru-baru ini.
>
> Formalin diduga digunakan oleh nelayan Indonesia sejak dua tahun
> silam. Cairan yang mengandung metanol ini memang biasa dipakai
> nelayan untuk menjaga bobot ikan asin. Pembuatan tanpa formalin akan
> mengurangi bobot ikan asin hingga 60 persen. Sedangkan dengan
> menggunakan larutan bening itu, bobot yang berkurang akibat
> pengeringan hanya sekitar 30 persen.
>
> Pembuat ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara, juga mengaku
> produksi menjadi lebih efisien jika menggunakan formalin. Bila hanya
> menggunakan garam saja, pengeringan bisa dilakukan selama sepekan.
> Jika menggunakan cairan pembasmi bakteri tersebut, dalam satu atau
> dua hari saja ikan asin siap dijual.
>
> Penggunaan formalin pada ikan memang tak segencar sebelumnya. Ini
> menyusul edaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No
> 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan
> dalam pangan.
>
> Padahal berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan
> Indonesia tahun silam, penggunaan formalin pada ikan dan hasil laut
> menempati peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel.
> Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan
> bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen.
>
> Tapi tetap saja masih banyak nelayan yang bengal. Menurut Kepala
> Balai Pengujian Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan
> Jakarta Redjani Kartoatmodjo, pihaknya memang masih menemukan
> penggunaan formalin pada pembuatan ikan asin. Pernyataan Redjani
> diamini Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jakarta Riyadi. "Sebagian
> teman-teman nelayan masih menggunakan bahan kimia," kata Redjani.
>
> Di antara nelayan yang mulai meninggalkan penggunaan formalin adalah
> yang berada di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Tapi akibatnya
> selain keuntungan berkurang, ikan asin buatan mereka diganggu
> bakteri, serangga dan belatung. Terutama saat musim hujan. Ujung-
> ujungnya, mereka menggunakan insektisida yang disemprotkan langsung
> ke ikan asin. "Biasanya langsung disemprot pake Baygon aja," kata
> seorang nelayan yang enggan disebut namanya.
>
> Penggunaan insektisida dan formalin pada hasil laut diakui Kepala
> Dinas Perikanan Jawa Barat Darsono. Penggunaan formalin menurut
> Darsono, karena harga bahan pengawet ini relatif murah. "Penggunaan
> formalin masih banyak ditemukan di antaranya di Bandung kota dan
> sekitarnya," tutur Darsono.
>
> Sebenarnya sudah ada produk pengawet ikan yang sudah direstui
> penggunaannya. Yaitu minatrid. Namun karena alasan masih baru dan
> kesulitan untuk mencari bahan pengawet ini, formalin masih
> merajalela. Padahal asupan formalin dalam tubuh yang berlangsung
> menahun dapat mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan, gangguan
> pada ginjal dan hati, sistem reproduksi dan kanker. Gangguan yang
> ringan adalah rasa terbakar pada tenggorokan dan sakit kepala.
>
> Selain ikan asin, kerang juga tak luput dari penggunaan zat kimia
> berbahaya bagi tubuh. Pengolah kerang menggunakan bahan pewarna
> Rhodamine B yang seharusnya untuk pakaian atau biasa disebut wantek.
> Tujuannya untuk membuat kerang yang telah dikupas agar tak terlihat
> pucat. Zat kimia ini akan menumpuk pada tubuh dan pada gilirannya
> juga meracuni organ dalam, terutama ginjal dan hati.
>
> Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang
> biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara
> granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen.
> Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian
> dikupas dari kulitnya.
>
> Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk
> diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan
> pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia
> beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari
> kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong
> penuh kerang atau sekitar seratus kilogram.
>
> Zat kimia mulai campur tangan ketika datang es batu untuk pengawetan.
> Setelah es siap, petani kerang kemudian membuat larutan "ajaib". Satu
> tong kecil air ditaburi wantek berwarna oranye. Sekitar 15 menit
> kemudian kerang terlihat lebih segar. Kerang yang telah didandani ini
> kemudian dimasukkan tong untuk dijual. Tapi sebelumnya, kerang
> ditaburi tawas yang biasanya digunakan untuk menjernihkan air.
> Alasannya, agar menjadi lebih kenyal dan bisa disimpan selama satu
> hari satu malam sebelum dikirim ke pelelangan ikan.
>
> Kembali ke Pelabuhan Ratu, di daerah ini nelayan setempat juga
> memakai zat pewarna dari golongan Rhodamin B. Mereka biasanya memakai
> pewarna tekstil berwarna merah untuk membuat terasi. Berbahayanya zat
> kimia ini pada tubuh bisa terlihat dari alat pembuat terasi yang
> berwarna merah kendati setelah dibasuh air.
>
> Baik dalam pewarnaan kerang maupun terasi, semua pembuatnya mengaku
> menggunakan bahan kimia pewarna kue. Sungguh tidak logis. Karena
> pewarna kue harganya rata-rata Rp 10 ribu untuk 10 cc. Sementara
> wantek dibanderol Rp 5-10 ribu per kilogram. Sedangkan untuk mewarnai
> kerang atau terasi per 100 kg, diperlukan satu hingga dua kilogram
> pewarna.
>
> Alasan ekonomi memang menjadi pangkal dari penyalahgunaan zat kimia
> berbahaya bagi tubuh dalam penganan. Padahal pangan yang aman,
> bermutu dan bergizi adalah hak setiap orang. Tapi sepertinya penganan
> ideal ini hanya sebatas impian. Apalagi untuk makanan yang nikmat
> tapi murah.(YAN/Tim Sigi)
>
> Sumber: Email dari seorang teman
> Mudah-mudahan relevan dengan tema 'makan-makan'yang sehat
>

> Sekretariat ILUNI FE
> Jl.Taman Kemang II no.38 Jakarta
> telp/fax: 021-71790245
> e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> milis: [EMAIL PROTECTED]
> website: www.fe.iluni.or.id








Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
     using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin 
           accept no liability for any loss or damage arising
               from the use of this E-Mail or attachments.


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke