|
FYI
...
mungkin mereka (anggota BURT) gak nyangka,
ternyata gak smua TKI di TimTeng adalah pembantu dan sopir ... banyak juga
kalangan profesional..
----- Original Message
-----
From: Imam Byhaqi Sent: Tuesday, December 20, 2005 5:14 PM Subject: DPR stranded di Qatar Berikut ini disampaikan editorial Metro TV, anggota DPR dan beberapa istrinya ketika sedang berada di Wisma Indonesia Doha untuk acara open forum. Dalam open forum yang saya buka (sebagai protokol & MC) dan di moderatori oleh Duta Besar, ketua rombongan mengatakan bahwa ke Cairo adalah dalam rangka study banding. Kalau sekarang di Doha, adalah karena pesawat Qatar Airways yang mereka tumpangi delay di KL karena kerusakan, sehingga mereka ketinggalan penerbangan lanjutan ke Mesir ketika tiba di Doha pada pukul 16.00, padahal penerbangan mereka ke Cairo adalah pukul 12.00. Ketika malam harinya kita adakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Qatar, dan sedikit banyak mereka di "bantai" dengan pertanyaan2 yang sangat memojokan, bahkan saya yang biasanya akan adem ayem sebagai pembawa acara, terpaksa memposisikan sebagai peserta yang punya hak berbicara. Saya sampaikan kepada mereka yang rada menolak untuk membicarakan bermacam permasalahan karena tidak ada hubungannya dengan forum ini (anggapan mereka): bahwa forum ini adalah forum umum, bebas dan bertanggung jawab, silahkan meminta jawaban, atau meminta pertanggung jawaban atau tanyakan apa saja. Saya tambahkan dengan suara lantang dan keras "ketika kami memilih bapak-bapak untuk duduk di kursi dewan suatu ketika kami akan meminta pertanggung jawabannya, seperti di Forum ini dan juga pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak". Sekali itulah saya mengangkat suara dengan lantang dan keras di depan umum, karena suara lirih kami tak juga didengarkan, kata-kata lembut kami tak pernah lagi dihiraukan, bahkan mereka tak peduli dengan teriakan kepedihan kami. Demikian,...... semoga keterbukaan yang kita bangun bersama-sama masyarakat akan memberikan nilai lebih agar kita makin melek dan mengerti hak-hak dan kewajiban kita, dan tidak lagi kita dibodoh-bodohi oleh orang-orang bodoh yang pura-pura pinter. Mari tuntut hak kita dan dengan sadar mari kita jalankan kewajiban kita. Berikan hak orang lain, tegakan kewajiban, tuntut hak kita, dan jadilah masyarakat yang beradab (masyarakat Madani)/ civil society. IB, TKI di Doha Catatan : 1. 2317: Djoko Edy (PAN) "kami ke Cairo bukan untuk studi banding, tapi study kasus perjudian disana" (coba ikuti berita lainnya, apakah ada study kasus perjudian yang "mereka" lakukan atau dia lakukan?, karena mereka sangat berseteru dengan orang PAN ini yang dianggap membawa misi komisi III secara pribadi dan kebetulan membawa beberapa wartawan ke Cengkareng ketika mereka berangkat) 2. 2312: Ketua Rombongan "kami sudah capai sehingga segala pertanyaan akan lebih baik bila kita terima dalam bentuk tulisan dan kita akan jawab dengan tulisan" (kan nggak tuntas, makanya kita adakan open forum, supaya tercipta manusia yang berani berbuat, mengkritik dan bertanggung jawab di atas apa yang diucapkan dan diperbuat) 3. 2294: Tidak semua lho............... yang jalan-jalan ke Cairo itu anggota DPR. Sebagian mereka adalah istri2 anggota DPR (Dari mana anggaran jalan2 itu yaaaaaaaa?.... tahu ah............. ko tanya sama aku sih) Catatan lain: Saya masih mempunyai catatan khusus bahwa mereka pada buta Huruf dan buta Aksara, atau mata hati mereka yang buta, atau sekedar mereka nggak bisa bahasa Inggris. Di VIP Airport yang di beberapa dindingnya ada tulisan NO SMOKING, gak pernah dapat mereka baca, mereka bergerombol dengan merokok dan ketawa2 ngakak dengan suara yang sangat keras. No smoking hall di VIP Bandara Doha menjadi sumber asap yang sangat bau. (saya di tegur oleh pihak VIP Airport, Demi Allah, malu dech punya tamu orang-orang yang tidak beradab dan berbudaya seperti mereka, merokok sembarangan, ketawa tidak pakai adab.........) Catatan lain........... tentang rencana kunjungan mereka ke Al-Jazeera Channel TV yang dibatalkan karena ada pertentangan diantara mereka sendiri. Akan jadi heboh besar kalau AL-Jazeera menyiarkan langsung kunjungan anggota DPR yang tidak direstui pimpinan DPR (mbah Tarjo sudah tanda tangan surat yang melarang mereka pergi) itu ke TV Al-Jazeera. ---------------------------------------------------------------- EDITORIAL Minggu, 18 Desember 2005 Komplotan 15 BURT RASANYA kita sudah kehilangan kata-kata beradab untuk melukiskan perilaku para anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka bukan lagi dewan yang mewakili rakyat, melainkan komplotan penjarah uang rakyat. Mau bukti? Tengok saja bagaimana mereka berkomplot menaikkan gaji masing-masing sebesar Rp10 juta/bulan. Katanya mulai berlaku tahun depan, tetapi mereka berkomplot lagi untuk mencairkannya bulan Desember ini dan berlaku surut, sehingga pada bulan Desember ini mereka mengeruk uang rakyat Rp60 juta/orang. Ada bukti terbaru lagi. Sekarang mereka pelesir ke Mesir atas nama studi banding. Padahal, pimpinan DPR telah melarang studi banding ke luar negeri yang dibiayai dewan. Kalau biaya sendiri, silakan saja. Larangan yang ditandatangani Wakil Ketua Soetardjo Soerjogoeritno, 13 Desember lalu, itu tidak digubris. Padahal, mereka--15 anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR--tahu aturan yang baru berumur tiga hari itu. Kemarin mereka terbang pagi buta ke Mesir dengan masing-masing mengantongi uang saku dari negara sebesar US$4.320 (sekitar Rp40 juta). Di Bandara Soekarno-Hatta mereka berlagak bagai pelancong. Di Mesir, salah satu objek studi banding adalah perjudian di negara muslim itu. Padahal, kalau mau tahu tentang perjudian tidak usah jauh-jauh ke Mesir. Panggil saja raja-raja judi di Indonesia ke DPR dan dengarkan pandangan dan pengalaman mereka mengelola judi. Pasti beres. Studi banding 15 anggota BURT ke Mesir itu harus dianggap sebagai kejahatan karena sudah jelas-jelas melanggar aturan. Kerugian negara pun jelas dalam studi banding itu, yaitu Rp600 juta. Mereka tidak bisa lagi hanya dianggap melanggar disiplin dan ditegur Badan Kehormatan. Ini adalah kejahatan pidana. Kalau anggota DPRD di sejumlah daerah dijebloskan ke penjara karena berkomplot menguras APBD melalui nomenklatur anggaran yang dikarang-karang, mengapa 15 anggota BURT itu tidak? Mereka pasti beralasan studi banding itu sudah ditetapkan dalam program dewan sebelumnya. Tetapi menurut akal sehat orang-orang waras, program itu dengan sendirinya batal karena surat larangan yang ditandatangani Mbah Tardjo itu. Kasus ini harus menjadi pelajaran pahit bagi DPR kita yang memiliki naluri kleptomania luar biasa. Sekembalinya mereka dari Mesir, 15 anggota BURT itu harus dijemput di bandara oleh polisi untuk dijebloskan ke tahanan. Mereka harus diadili karena terang-terangan mencuri uang negara. Selain itu mereka harus mengembalikan uang negara itu dengan cara dipotong gaji mereka. Partai-partai pun harus berani mencabut keanggotaan mereka. Hanya dengan begitu rakyat melihat DPR dan partai serius memperbaiki diri. Bila tidak, partai dan DPR tidak ubahnya bos mafia perampokan uang negara. Malu ah... punya DPR seperti itu. Tetap Semangat Mencintai Banten!
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
