Salam Rumah Dunia – Radar Banten Edisi Kamis, 20 Jan 2006
[Jurnal #162] JAJANAN KAMPUNG RUMAH DUNIA
 
Suatu hari, saya – ditemani Ibnu Adam Aviciena, berdialog dengan masyarakat Ciloang di mesjid kampung. Mereka sangat senang dengan keberadaan Rumah Dunia. Tapi, mereka meminta kami bisa membantu masalah ekonomi mereka. Saya mengusulkan, agar kampung Ciloang jadi daerah tujuan wisata. Saya teringat saat di kota-kota kecil di India. Ciloang mirip dengan itu. Ada banyak potensi tersembunyi di Ciloang. Misalnya pencak silat, pesantren tradisional (kobong), pelaku ekonomi lokal (jajanan kampung seperti nasi uduk, rabeg, ketan, dan bandrek), dan ketimpringan (rudat). Saya siap memasarkan ke hotel-hotel dan bekerjasama dengan Disbudpar. Saya akan memasang gapura di pintu masuk Kemang Pusri: Wisata Budaya Kampung Ciloang. Tapi, masyarakat Ciloang belum siap dengan dampak negatifnya. Saya tidak memaksa.
 
GALANG DANA
Persoalan ekonomi terus menghantui otak saya. Seorang pengarang seperti saya, bisa memecahkannya? Relawan Rumah Dunia seperti Ibnu, Aji Setiakarya, Putra Matahari, dan Rimba Alangalang yang masih kuliah, jelas belum saatnya. Tapi, setiap malam kami memimpikannya terus. Itu dua tahun yang lalu.
Pada awal tahun 2006, mimpi melokalisir jajanan kampung di sekitar Rumah Dunia muncul lagi. Di setiap akhir pekan, Rumah Dunia selalu ramai pengunjung, karena ada beragam kegiatan. Pada saat jam makan siang, para pengunjung kesulitan mencari makanan dan minuman. Dengan alasan itulah saya menemui Nawawi, anak dari almarhum H. Abu, pemillik tanah. Saya utarakan rencana Rumah Dunia, yang ingin membangun kios-kios jajanan kampung. Nawawi dan keluarga besar H. Abu mempersilahkan tanah peninggalan ayahnya dipakai. Berarti tinggal dana. Saya harus mencarinya.
Seperti biasa, saya menggalang dana dengan mengirimkan pesan singkat ke beberapa teman di Jakarta. Akmal Nasery Basral, Fahri Asiza, dan Inka B Laras dari Diagonal Comm, merespon dengan baik. Inka malah sudah mengirim uang sebesar Rp. 1 jt. Beberapa teman, pejabat di Serang dan tokoh masyarakat saya kirimi pesan juga, barangkali ada yang punya rezeki berlebih.  Andi Suhud menyatakan kesiapannya. Embay Mulya Syarif  - insya Allah – akan membantu. Muflihah mendoakan semoga sukses. Irham dari PKKL Serang merespon dengan baik?Beberapa yang lainnya tidak membalas.
Mimpi tak bisa dibendung lagi. Walaupun belum ada tambahan dana dari mereka, dengan modal uang kas Rumah Dunia Rp 1 jt dan sumbangan Inka B Laras Rp 1 jt, Jajanan Kampung Rumah Dunia dibangun awal Januari 2006. Maryani, Ikhsan, Pendi, Nani gotong-royong membangun 4 kios tiang dari  bambu, dinding bilik, dan atap dari weulit. Awalnya saya berjanji akan memberi modal Rp.100.000,-/kios. Tapi dengan berat hati saya batalkan, karena tidak ada lagi dana tambahan.
Keempat kios itu akhirnya diisi Masni dan Nasiah, berjualan bandrek, kopi, susu, teh, dan gorengan. Jumenah jualan pecel, karedok, ketoprak, asinan, dan rujak. Pecel buatan Jumenah ini sudah dirasakan kelezatannya oleh Ny. Cucu Munandar dan Marissa Haque. Sariah jualan nasi uduk, lontong sayur, soto dan gorengan seperti kroket, bihun, dan bakwan. Kios terakhir diisi Alpiah – pemilik tanah, jualan mie rebus, minuman ringan, dan buah-buahan. Madhupa bahkan membangun sendiri warung nasi rabeg di tanah Nawawi. Nasi rabeg ini khas Banten. Pasti akan jadi daya tarik.
 
OPTIMIS
Sabtu (14/1) pagi, dihadiri seluruh relawan Rumah Dunia, saya, Nawawi, Maryani, Pendi, Ikhsan, Nenek Atisah, jajanan kampung mulai dioperasikan. Kurnia Hidayat, RT Komplek Hegar Alam, menitipkan pesan, agar kehadirankios-kios jajanan kampung ini tidak menimbulkan iri hati di masyarakat, karena tidak bisa menampung semua orang untuk berjualan. Kasman, sesepuh, membaca doa. Setiap kegiatan sebaiknya diawali dengan doa, agar Allah memudahkan segala urusan. Optimisme muncul di wajah mereka. Apalagi Radar Banten memberitakan jajanan kampung ini.
Usai berdoa, Kurnia Hidayat diberi kesempatan sebagai pembeli pertama. Kurnia memesan kopi. Saya dan para relawan menyerbu nasi rabeg. Tias Tatanka dan Nenek Atisah nimbrung. Kurnia bergabung dan membayari para relawan. Bahkan masyarakat Ciloang dan Komplek Hegar Alam juga. Pukul 10-an, Heri Erlangga sekeluarga sarapan nasi rabeg. Heri mengantar mahasiswanya, STIKOM Wangsa Jaya, belajar kajian sastra. Toto ST Radik memberi materi kepada mereka. Tengah hari, mereka menyerbu jajanan kampung. Suasananya seperti di alun-alun saja, ramai orang makan dan minum. Suara tawa dan senyum bahagia menghiasi. Saya belum pernah melihat suasana ini sebelumnya.
Merangkak ke malam Minggu, giliran peserta workshop film Imajinasi Multimedia mencicipi. Mereka memutar film dokumenter karya mereka, sebagai tugas akhirworkshop. Film yang diputar berjudul “Antara Tahu dan Roti” serta “Rumah Pohon”. Kedua karya mereka bagus untuk ukuran Serang, yang memang belum mengenal film. Alfaris dari majalah budaya Katarsis dan Gito dari Fajar Banten berkunjung. Sayang, bandreknya habis.
Saya melihat wajah-wajah optimis pada mereka. Omset hari  Sabtu itu cukup cerah. Kios minuman meraup Rp. 200 ribu, pecel Rp. 150 ribu, uduk dan soto Rp. 85 ribu, mie rebus Rp. 50 ribu, dan nasi rabek Rp. 150 ribu. Cukup menggembirakan. Jumenah, penjual nasi pecel mengatakan, ”Daripada jualan keliling kampung, selain kaki sakit, penghasilannya lebih banyak di sini.”
Malam pun membalut kampung Ciloang. Semua membereskan dagangannya. Minggu besok akan banyak orang datang berkunjung ke Rumah Dunia.
 
PELATIHAN
Saya tidak bisa tidur. Segala macam rencana menjejali otak saya. Bagaimana caranya agar jajanan kampung selalu ramai dikunjungi orang? Bersama para relawan Rumah Dunia, kami akan menggelar Rumah Dunia 5K, lomba lari lintas alam sejauh 5 kilometer. Start dan finishnya di areal jajanan kampung. Beberapa warga malah meminta Rumah Dunia memutar film setiap malam Minggu. Tentu film anak-anak dan pendidikan yang diputar. Mimpi menjadikan Rumah Dunia sebagai tempat peristiwa ekonomi, sosial dan budaya, semoga pelan-pelan terwujud.
Suara adzan Subuh membuyarkan mimpi saya. Hari Minggu (15/1). Saya bergegas, karena akan banyak tamu datang hari ini. Sarapan pagi dengan nasi rabeg. Para relawan juga. Semua menikmati suasana yantg tidak pernah kami alami. Entah kami sedang berada di mana, seperti jauh di pedalaman. Makan di warung dengan atap weulit dan dinding bilik, angin sepoi, langit biru, suara cericit burung. Sungguh limpahan karunia Allah yang tidak terkira. Warga Komplek Hegar alam, yang pulang olahraga pagi mampir membeli nasi uduk. Mereka merasa senang, karena tidak repot lagi mencari sarapan. Satu-satu warga berdatangan, pagi pun ibarat puisi; kata demi kata mereka rangkai sendiri, penuh makna kebersamaan.
Pukul 09.00 rombongan dari sekolah Smart Ekselensia Bogor tiba. Sekitar 100-an anak, para guru beserta keluarganya. Suasananya seperti sedang ada bazaar murah saja. Langit pun bergembira, mencurahkan airnya. Semua berpindah ke panggung dan merapat ke emperan atap. Pelatihan jurnalistik, dipandu Ibnu dan Rimba tetap hangat berlangsung. Menjelang siang, hujan tinggal rintik saja. Pementasan teater dari mereka mendapat sambutan hangat dari anak-anak Ciloang. Lakon ”Kanan Kiri Oke”, yang mengisahkan kontes ”Boys Band” seolah satire dari realitas kehidupan yang menggilas moral remaja negeri ini. Dari Rumah Dunia juga menampilkan lakon ”Parodi Anak Sekolah”. Usai pementasan, Toto ST Radik dan Piter Tamba memberikan pelatihan teater.
Menjelang tengah hari, giliran rombongan Perguruan Pramitha, Binong, Karawaci Tangerang, datang. Sekitar 20-an orang dari tingkatan SMP, SMA, dan perguruan tinggi, mendapatkan wawasan tentang budaya literasi (keaksaraan), jurnalistik, dan fiksi. Saya dan Toto memandu langsung. Di sela-sela itu juga sekitar 15-an orang dari komunitas “Bengkel Cerpen Annida” Jakarta nimbrung. Peserta kelas menulis angkatan ketujuh tidak mau ketinggalan. Semuanya tumplek di Rumah Dunia dan menyerbu jajanan kampung. Sungguh, hari Minggu yang membahagiakan, karena kami mengisinya dengan sesuatu yang berguna dan bermanfaat.  Insya Allah. Saya betul-betul capek; batu di saluran kencing terasa sakit, dan tulang punggung yang menjepit syaraf seolah menusuki . Tapi saya bahagia.
 
AGENDA
Saya harus menjaga kesehatan, karena banyak kegiatan membentang sepanjang 2006 ini. Dalam waktu dekat, Sabtu besok, 21 Januari 2006, diskusi “Jurnalisme Sastrawi”, Pukul 14.00 – 17.00 WIB. Pembicara: Budi Setiyono (Pantau), Abdul Malik (Litbang Radar Banten), Heri Erlangga (Ketua STIKOM Wangsa Jaya). Semoga akan banyak orang datang berdiskusi dan mencicipi jajanan kampung Rumah Dunia.
Harapan paling besar pada perhelatan ODE KAMPUNG: Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara, 3 hingga 5 Februari mendatang. Semua sastrawan dari kampung-kampung di pelosok Nusantara akan berdatangan ke Rumah Dunia. Semoga saja jajanan kampung diserbu mereka! Amien. (Gola Gong, Ketua Umum Rumah Dunia, Pemred www.rumahdunia.net)
 


Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.

Tetap Semangat Mencintai Banten!



SPONSORED LINKS
Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card
Indonesia travel Bali indonesia Indonesia


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke