hehehehe.....sepertinya,majalah tentang permainan lelaki yang ke kanak kanakan.benar kang saprudin,saya saja "gak" mengerti tentang majalah play boy,hehehe itu baru meja kerja yang goyang bak gempa bumi,...bagaimana kalo yang di "bawah meje" ikut "bergoyang goyang".....????
--- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > aku gak tahu majalah play boy itu. apakah itu > majalah bacaan anak-anak tentang permainan ? apa > kasusnya sama seperti inul yang goyangannya bikin > meja kerja saya ikut bergoyang bak gempa bumi. > Ya. !! Indonesian might have some worms !!!! > > next, what !!! > > > > abduh imanulhaq <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Otot Mulut Lebih Kuat > > PENAMPILAN Sabam Leo Batubara masih tetap khas; > lugas dan berapi-api. Saat menjadi pembicara dalam > seminar tentang profesi wartawan di Semarang, Kamis > (26/1), suaranya yang berat dan nyaring cukup > mengusir rasa kantuk peserta. Gaya pemaparan anggota > Dewan Pers itu pun mengundang minat untuk > mendengarkan lebih jauh. > Terlebih saat Leo mengemukakan penilaian soal > polemik penerbitan majalah Playboy. Beberapa kelakar > yang dilontarkannya tak urung memancing tawa dan > senyum simpul. Namun, mimiknya berubah serius saat > ditelisik mengenai kinerja Dewan Pers terkait > pro-kontra majalah asal AS itu. > "Kami telah menerima banyak pengaduan, baik lisan > maupun telepon dari masyarakat yang berkeberatan. > Pemimpin majalah tersebut juga telah diundang. > Tetapi, patut diingat, majalah ini belum terbit, > sedangkan Dewan Pers hanya bisa menilai dari isi > suatu media," terangnya. > Dewan Pers, lanjut Leo, telah mengingatkan agar > isi majalah itu tak bertentangan dengan kode etik > jurnalistik atau rambu hukum. Menurut dia, > sebenarnya telah banyak media lokal yang memiliki > tampilan syur dan seronok. Jika setiap bulan > diadukan satu persatu kepada aparat hukum, dia yakin > para pemiliknya akan jera dan takut menerbitkan > kembali. > Namun, banyak pihak tutup mata dengan realita ini > dan lebih suka ikut arus dengan berbicara seputar > topik hangat teraktual. "Kalau Playboy itu terbit > diam-diam, kontoversinya tak akan sekeras ini. > Maklum, orang kita masih suka politisasi, mengumbar > opini dan bersuara keras di media. Konon, otot di > sekitar mulut orang Indonesia lebih kuat daripada > otot tangan dan kaki," selorohnya sambil tertawa. > (Abduh Imanulhaq) > > > > Abduh Imanulhaq > Pewarta Harian Suara Merdeka Semarang > Alumni SMAN 2 Serang > > > > > > > > > > > > Ibnu Adam Aviciena <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > MENYAMBUT KELAHIRAN PLAYBOY > Oleh Ibnu Adam Aviciena > > Majalah Playboy sebentar lagi akan lahir di > Indonesia. Rencananya Maret 2006 ini. Pada saat yang > sama sedang digodok RUU Antri Pornografi dan > Pornoaksi. Pro-kontra langsung mencuat. Yang menolak > RUU tersebut mengemukakan alasan berupa kekhawatiran > akan terjadinya pemasungan kreativitas, mengekang > kebebasan berekspresi, dan melanggar hak asasi > manusia. Yang setuju RUU mengatakan karena > pornografi dan pornoaksi tidak sesuai dengan > kebudayaan dan agama Indonesia yang Timur. Alasan > ini pula yang dijadikan penolakan lahirnya majalah > Playboy. > Sebelum kasus Playboy ini, Indonesia sempat > diramaikan dengan kasus pluralisme agama. Satu pihak > mengusahakan sekuat tenaga, menjelaskan bahwa > pluralisme agama sebagai sebuah keniscayaan dan ada > landasan teksnya. Satu pihak menolak dengan sekuat > tenaga pula, menyatakan haram dengan menyertakan > landasan teksdari sumber yang sama bahkan. > Sebagai sesuatu yang boleh, pasti akan terjadi, > dan biasa terjadi, pro-kontra semestinya disikapi > secara bijaksana, tidak perlu dengan menegangkan > urat leher, saling mencabut golok lalu menodongkan > kepada pihak yang beda pendapat. Tidak perlu juga > merusakan rumah, kantor, serta bangunan lain yang > dimiliki oleh pihak tertentu. > Tetapi yang terjadi sering kali tidak demikian. > Masing-masing, atau salah satu pihak yang tidak > sependapat itu, tidak bisa melakukan dialog dan > tidak bisa menerima perbedaan. Ironinya, seperti > tersebut di atas, dua pihak yang bertikai sama-sama > mengatas namakan Tuhan. Itulah barangkali yang > menjadi salah satu alasan Karen Armstrong merasa > tertarik untuk menulis buku The Battle For God > (Berperang Demi Tuhan). > > Bias Definisi > Perbedaan sikap terhadap kelahiran Playboy karena > bedanya masing-masing subjek mengambil sudut > pandang. Satu pihak mengambil sudut pandang hak > asasi manusia dan kesenian, satu pihak berikutnya > mengambil sudut pandang agama. Sekalipun kemudian > perlu diajukan pertanyaan: bagaimana relasi agama > dengan hak asasi manusia dan kesenian? Jika sejalan > semestinya perbedaan pandangan itu tidak terjadi. > Yang menjadi dasar utama kenapa perbedaan ini > terjadi yaitu berangkat dari batasan porno yang > kabur. Yang porno itu yang bagaimana? Bagi Dewi > Persik, apa yang biasa dilakukannya: mengenakan > pakaian ketat dan menggoyang-goyangkan bokongnya ke > depan dan ke belakang, yang kemudian disebut sebagai > goyang gergaji, bukan sesuatu yang porno. > Pendapat Dewi Persik tidak jauh berbeda dengan > pendapatnya Inul Daratista. Dia bilang apa yang > dilakukannya: mengenakan pakaian alakadarnya dan > memutar-mutar tubuhnya di depan publik bukan sesuatu > yang porno. Dewi Persik dan Inul sepakat apa yang > mereka lakukan ialah seni, selain karena permintaan > pasar. > Apa yang dikatakan dua pedangut tersebut > sebetulnya masih harus diperdebatkan. Apalagi mereka > menyebut apa yang mereka lakukan sebagai kebutuhan > pasar. Inul sendiri tidak konsisten dengan > pernyataan-pernyataan yang dia kemukakan ketika > wawancara ekslusif di Antv beberapa hari yang lalu. > Saat itu pewawancara menyodorkan beberapa tabloid > dan majalah yang menurut ukuran umum sebagai sesuatu > yang porno. Ketika Inul ditanya apakah foto-foto > yang ada pada tabloid dan majalah tersebut porno > atau tidak, Inul menjawab tidak. Itu seni, katanya. > Tetapi Inul juga menyatakan bahwa tabloid dan > majalah yang saat itu disodorkan tidak boleh dijual > secara umum apalagi sampai dikonsumsi anak-anak. Itu > berbahaya katanya. > Sementara Arswendo dan ketua MUI keduanya sepakat > bahwa foto-foto yang ada pada tabloid dan majalah > yang sisuguhkan pewawancara itu sebagai sesuatu yang > porno. Itu akan merusak moral, tidak bermanfaat, > serta tidak memberikan manfaat apapun kepada > pembacanya, selain hanya menjadi triger keluarnya > nafsu seks. > Pendapat Dewi Persik tidak jauh berbeda dengan > pendapatnya Inul Daratista. Dia bilang apa yang > dilakukannya: mengenakan pakaian alakadarnya dan > memutar-mutar tubuhnya di depan publik bukan sesuatu > yang porno. Dewi Persik dan Inul sepakat apa yang > mereka lakukan ialah seni, selain karena permintaan > pasar. > Apa yang dikatakan dua pedangut tersebut > sebetulnya masih harus diperdebatkan. Apalagi mereka > menyebut apa yang mereka lakukan sebagai kebutuhan > pasar. Inul sendiri tidak konsisten dengan > pernyataan-pernyataan yang dia kemukakan ketika > wawancara ekslusif di Antv beberapa hari yang lalu. > Saat itu pewawancara menyodorkan beberapa tabloid > dan majalah yang menurut ukuran umum sebagai sesuatu > yang porno. Ketika Inul ditanya apakah foto-foto > yang ada pada tabloid dan majalah tersebut porno > atau tidak, Inul menjawab tidak. Itu seni, katanya. > Tetapi Inul juga menyatakan bahwa tabloid dan > majalah yang saat itu disodorkan tidak boleh dijual > secara umum apalagi sampai dikonsumsi anak-anak. Itu > berbahaya katanya. > Sementara Arswendo dan ketua MUI keduanya sepakat > bahwa foto-foto yang ada pada tabloid dan majalah > yang sisuguhkan pewawancara itu sebagai sesuatu yang > porno. Itu akan merusak moral, tidak bermanfaat, > serta tidak memberikan manfaat apapun kepada > pembacanya, selain hanya menjadi triger keluarnya > nafsu seks. > Ini adalah fakta bahwa definisi porno masih belum > diketemukan kesepakatan. Ini akan menjadi semakin > kabur ketika dibawa ke ranah kebudayaan. Orang Eropa > dan Amerika sudah sangat jelas memiliki standar yang > berbeda tentang yang bagaimana itu yang porno. > Sekarang bagaimana pula dengan orang-orang Irian > Jaya, misalkan. Mereka porno atau tidak? > > Konsekwensi Syahadat > Mendiskusikan bagaimana itu yang porno saya yakin > akan alot. Atau bisa juga setelah disepakati > kemudian digugat. Gugatan itu bisa datang dari yang > selama ini menolak pornografi dan pornoaksi, > ataupun dari yang mendukung. Yang menolak bisa > menggugat karena apa yang disebut porno dan disahkan > oleh DPR itu samasekali bukan sesuatu yang porno. > Sedangkan bagi yang mendukung bisa jadi batasan yang > disahkan oleh DPR sebagai sesuatu yang tidak porno > ternyata porno. Sesuatu yang rumit bukan? > Saya tidak tahu bagaimana hasil akhir dari RUU > pornografi itu lahir, disahkan, dilaksanakan, dan > ditanggapi. === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
