Bung Pedje yang budiman, Baiklah, saya akan jawab pertanyaan cerdas Anda. Semoga jawaban saya, walaupun tanpa obat kuat, akan memuaskan Anda...hehehehe Benar kata Anda, bahwa sejarawan di dalam kerjanya dipengaruhi oleh unsur subyektivitasnya. Dan tidak ada karya sejarah yang tidak subyektif, tidak ada juga karya sejarah yang sepenuhnya obyektif. Tapi sebagai sejarawan, sebisa mungkin saya harus mengupayakan obyektivitas melalui serangkaian metodologi yang membimbing proses rekonstruksi sejarah. Collingwood, bapak sejarah modern mengatakan bahwa sejarawan harus merujuk kepada metodologi sejarah untuk menjaga agar unsur subyektivitasnya tidak terlalu kebablasan. Sejarawan, sebagai manusia biasa, at least dipengaruhi oleh personal bias (kecendrungan sikap pribadi/emosional), latar belakang budaya, konflik teori dan ideologi serta aliran politik. Nah, lalu bagaimana bisa mendekati obyektifitas kalau beberapa hal itu mempengaruhi sejarawan? Karena toh langkah awal penelitian, alasan pemilihan tema penelitian atau bahkan memilih judulpun adalah subyektif. Di dalam sejarah dikenal 4 langkah metodologi sejarah, yakni heuristik (pengumpulan bahan), kritik sumber (internal dan eksternal), sintesis (atau bisa juga disebut intepretasi), dan terakhir historiografi (penulisan sejarah) Langkah kedua dalam metodologi sejarahlah yang amat menentukan subyektif atau tidaknya sebuah karya sejarah. Kritik sumber itu mutlak diperlukan untuk melihat sejauh mana validitas bahan2 sejarah, siapa yang menulis, dari zaman apa bahan2 itu datang, apakah jenis kertas sumber sejarah sesuai dengan zaman di mana sumber itu ditulis, bagaimana latar belakang penulisnya, dsb..dsb... Jika kita tidak hati2 dalam memilih bahan, bisa dipastikan sejarah yang ditulis akan subyektif. Bagaimana bisa? Semisal begini, taruhlah buku sejarah pemberontakan tukang becak di Banten yang ditulis oleh seorang sejarawan bernama Udin Petot, di dalam daftar kepustakaannya mayoritas sumber sejarah yang digunakan berasal dari kepolisian saja. Bagaimana mau disebut obyektif jika sumbernya hanya dari satu sisi. Kalau mau obyektif ya datangi juga tukang becak yang berontak, wawancarai dan jadikan sumber tambahan. Atau kalau memang pemberontakan itu sudah lama terjadi, dan pelakunya sudah meninggal semua, gunakan sumber pembanding lainnya, semisal dari arsip koran-koran yang memuat peristiwa tersebut. Kalau hanya menggunakan sumber kepolisian saja misalnya, pasti polisi menyebut peristiwa itu sebagai peristiwa pemberontakan tukang becak yang mengganggu keamanan, mengganggu stabilitas, makar dll...dll.. padahal belum tentu demikian kejadiannya. Oleh karena itu diperlukan sudut pandang lain sehingga peristiwa sejarah lebih tampak mencerminkan apa yang terjadi. Jika si Udin Petot dalam rekonstruksinya semakin banyak menggunakan sumber sejarah dari berbagai sisi, maka paling tidak sejarah yang ia tulis lebih baik daripada sejarah yang hanya menyandarkan pada satu jenis dokumen saja. Oleh karenanya metodologi sejarah amat diperlukan sebagai koridor yang membimbing sejarawan melakukan pekerjaannya. Dengan kata lain mah metodologi tea sama dengan petunjuk penggunaan obat. Kalau tidak ada petunjuknya maka bisa jadi obat yang harusnya diminum 1x sehari malah diminum 3x sehari, atuh pan bisa mabok nyah... Nah, pada era tahun 1970-an muncul pemikiran posmodernisme yang dipelopori oleh Jean Francois Lyotard. Jacques Derrida, penganut paham posmo meragukan obyektifitas dalam ilmu sejarah. Bagaimana bisa sejarah dikatakan sebagai ilmu pengetahuan kalau kejadiannya saja sudah berlangsung jauh di belakang, dan bagaimana mau obyektif kalau obyeknya saja sudah tidak bisa disaksikan lagi. Dia juga meragukan validitas teks sumber sejarah, karena menurutnya penulis (arsip sejarah) bisa menyembunyikan atau bahkan menutup-nutupi kebenaran yang seharusnya dia tulis. Menurut dia juga bahwa makna kata tidaklah stabil. Dan sejarah, sebagai ilmu yang mengandalkan teks tertulis tentu amat sulit mendapatkan kebenaran dari masa lalu jika teks tertulis yang dijadikan sandaran mengandung ketidakstabilan. Semisal begini, ini misalnya lho...,di dalam arsip sejarah (dari buku harian seorang Tionghoa) yang ditulis pada tahun 1912 menyebutkan: Pada peristiwa kerusuhan anti Cina di Kudus, Jawa Tengah, telah terbakar 5 ribu rumah dan 700 orang tewas. Kalau merujuk pendapat Derrida hal seperti di atas adalah satu bentuk ketidakstabilan. Mengapa? Karena di dalam sumber tersebut tidak dikatakan rumah yang terbakar itu rumah jenisnya apa, milik siapa, milik Cina atau orang Jawa? Korbannya itu siapa saja, orang Cina atau Jawa? Apakah mungkin si Tionghoa yang menulis itu tidak membesar2kan kejadiannya? Kalau tidak ada sumber pembading tentunya kita akan menganggap bahwa 5 ribu rumah dan 700 nyawa itu datang dari pihak Cina saja, padahal bisa jadi kejadiannya tidak demikian. Oleh karenanya menurut Derrida sejarah itu bullshitt, omong kosong dan tidak mungkin mencapai obyektifitas. Namun tidak demikian bagi sejarawan. Bagi sejarawan yang terpenting adalah faktanya: bahwa di Kudus pada tahun 1912 ada kerusuhan anti Cina. Kalau memang informasi dari sumber itu tidak mengatakan rumah siapa yang dibakar atau siapa yang tewas, maka fakta yang berdiri dari sumber itu adalah: ada korban jiwa dan harta di peristiwa tersebut. Paling tidak sejarawan mempunyai keleluasaan untuk mengatakan bahwa peristiwa ini adalah peristiwa kerusuhan Cina yang cukup serius, dimana di dalam peristiwa itu ada pembakaran dan pembunuhan manusia. Untuk kepentingan penulisan sejarah maka sejarawan wajib menguji silang kebenarannya melalui dokumen lain, semisal dokumen pemerintah kolonial, apakah benar di tahun itu ada kerusuhan? Nah perkara besarnya korban harta dan jiwa adalah turunan dari peristiwa itu, dan sejarawan akan menggunakan hal tersebut untuk mengukur skala besar atau kecilnya kejadian itu. Pada intinya, sejarawan pasti dipengaruhi oleh subyektifitasnya. Namun melalui metodologi sejarah subyektifitas sejarawan memungkinkan untuk diminimalisir. Demikian Kang Pedje, semoga jawaban saya tidak memuaskan Anda. Supaya diskusi ini terus berlanjut. Punteng penjelasannya agak centang perenang, maklum bae lah...tanggal kolot, rada lalanjung sirah...heheheh... Ngomong2 kamana tah si Sony budak UGM tea. Sony, ayo ramaikan diskusi sejarah ini dengan pembahasan filsafat posmodernisme...kemon bro... Kang Samsul al Kompasy... where are you? Kang Gola Gong Al Ciloangsy, mana suara lantangmu? Kamarana yeuuuhh............???? Kang Saprudin, ulah pundung terus atuh..... Okeh deh. Tabik, Bonnie
Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kang Boni, banyak juga orang yang sengaja menceburkan diri ke masa lalu karena hari ini begitu pabeliuet, sementara masa depan begitu susah diteropong. Jadi, satu-satunya yang jelas dan pasti cuma masa silam. Barangkali, itulah sebabnya lagu-lagu nostalgia, model vintage dalam dunia fashion, dan fenomena retro akan selalu punya penggemar dari zaman-zaman. Ada juga yang mungkin punya masa silam tak menggembirakan, kemudian terperangkap dalam sekumpulan masalah di hari ini, lalu mencoba mencari "pembebasan" dengan membuat jalan pintas ke masa depan lewat bantuan dukun atau dengan cara mengambil hak orang lain (bahkan hak generasi yang belum dilahirkan, semacam udara bersih, air bersih, dan hutan nan hijau). Orang-orang semacam inilah yang senantiasa menyuburkan fenomena perdukunan di masyarakat dan juga mewarnai dunia kriminal. Selain itu, ada banyak juga yang justru takut menghadapi masa lalu, masa kini, dan masa depan lalu kemudian menciptakan dimensi waktu sendiri lewat narkoba dsb. Tapi, itu mah cuma dedugaan saya saja, jangan dianggap serius. Hehehe.... Yang serius mah pertanyaan ini, khususnya untuk Kang Boni. Begini. Meski sejarah adalah post-factum, bukankah ketika sejarah itu diangkat dan kemudian dianalisis (karena data yang ditemukan sejarawan kemungkinan besar selalu berupa mosaik, yang kadang sulit dicari benang merahnya satu sama lain) ada tafsir milik sejarawan yang ikut masuk? Kalau memang benar begitu, penelaahan dan rekonstruksi sejarah yang kita terima sekarang ini tentunya tak sama dengan data/peristiwa sejarah itu sendiri, kan? Dan, apakah tafsir yang masuk itu ada yang benar-benar bebas nilai dan bebas kepentingan, berhubung sejarawan bukanlah makhluk yang ujug-ujug datang dari langit? Lalu, bagaimana menilai obyektivitas sejarah? Apa saja parameternya? Semoga Kang Boni dan mungkin juga yang lain dapat membantu saya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Terima kasih sebelumnya. Salam, Pedje --- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bangsa ini akan selalu terbelit dalam permasalahan > masa lalu jika tidak mau berdamai dengan masa lalu. > Bagaimana mau jalan ke depan jika ribuan kontainer > permasalahan di masa lalu mengantri untuk > diselesaikan. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! SPONSORED LINKS Indonesia phone card Indonesia calling card Indonesia travel Bali indonesia Indonesia Indonesia hotel --------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS Visit your group "wongbanten" on the web. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
