GANTIAN AJA TUKANG BECAK YANG JADI TUKANG BUAT
BERITA....NANTI WARTAWAN YANG BACA
BERITANYA.....(xixixiixixi....)

> Kang Samsul Hadi, kalau ada wartawan mengintimidasi
> wartawan karena pemberitaan???
> Siapa yang harus mengadakan siaran pers???
> 
> --- Kompas - Muhammad Samsul Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> 
> > Dari milis tetangga
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "Bambang Wisudo" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Mon, 20 Mar 2006 17:34:00 +0700
> > Subject: [forum-kompas] siaran pers aji
> > 
> > Siaran Pers
> > Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
> > 
> > HENTIKAN TEROR DAN INTIMIDASI TERHADAP WARTAWAN
> DAN
> > HARIAN KOMPAS
> > 
> > 
> > Harian Umum Kompas 1 Maret 2006 memuat berita
> > tentang sidang yang digelar
> > PN
> > Tangerang terhadap sejumlah perempuan yang didakwa
> > sebagai pelacur. Dalam
> > persidangan terungkap bahwa aparat tramtib dan
> > polisi salah menangkap
> > perempuan baik-baik yang dicurigai sebagai
> pelacur.
> > Razia yang dilakukan
> > polisi menandai pemberlakuan Perda Pemerintah Kota
> > Tangerang No 8/2005
> > tentang Larangan Pelacuran di wilayah Kodya
> > Tangerang. Berita ini
> > mendapat
> > perhatian dari media massa cetak termasuk reaksi
> > protes warga yang
> > menilai
> > Perda Pelacuran itu menyudutkan perempuan. Hanya
> > atas dasar kecurigaan
> > anggapan, seorang perempuan bisa dituduh menjadi
> > pelacur.
> > 
> > Berita H.U Kompas ditindaklanjuti dengan tulisan
> > feature pada 2 Maret
> > 2006
> > pada halaman 1. Tulisan itu berisi gugatan
> terhadap
> > keberadaan perda itu
> > dan
> > kisah tragis seorang guru SD yang dituduh sebagai
> > pelacur, divonis
> > bersalah
> > dan dipenjarakan.
> > 
> > Pemberitaan H.U Kompas tersebut membuat geram
> > Walikota Tangerang, Wahidin
> > Halim. Lewat Humas Pemkot Tangerang, wartawan
> Kompas
> > dipanggil, akan
> > tetapi
> > walikota tidak mau menemui. Sejak pemberitaan itu
> > sejumlah aksi
> > demonstrasi
> > mendukung Perda Larangan Pelacuran marak di
> > Tangerang dengan berbagai
> > hujatan, termasuk seruan memboikot Kompas.
> > 
> > Pada Jumat, 17 Maret 2006, ratusan massa yang
> > menamakan dirinya Aliansi
> > Masyarakat Tangerang (Almakta) mendatangi kantor
> > redaksi H.U Kompas di
> > Jalan
> > Palmerah Selatan, Jakarta Barat. Sebagian peserta
> > demo tampak membawa
> > bendera dan atribut Partai Keadilan Sejahtera
> (PKS).
> > 
> > Massa memrotes pemberitaan di harian Kompas
> tanggal
> > 2,3,4 dan 8 Maret
> > 2006
> > yang dinilai tidak berimbang, tidak proporsional
> dan
> > cenderung kontra
> > terhadap Peraturan Daerah mengenai Pelacuran dan
> > Miras. Massa menuntut
> > H.U
> > Kompas meminta maaf pada 5 media cetak nasional,
> > merevisi pemberitaan
> > soal
> > Perda Pelacuran dan meminta wartawan Kompas di
> > Tangerang diganti. Dalam
> > berbagai orasi yang bernada keras dan mengancam,
> > sempat menyebut
> > wartawati
> > Kompas yang menulis berita Perda Laranagan
> Pelacuran
> > di Tangerang sebagai
> > Pelacur.
> > 
> > Aksi massa ini diramaikan orasi dan pemasangan
> > spanduk bertuliskan :
> > "Yang
> > mendukung Perda Pelacuran sama dengan
> > jablay/pelacur". Atau spanduk lain,
> > "Kompas jangan sok tahu. Masyarakat Tangerang
> sangat
> > mendukung Perda
> > Pelacuran".
> > 
> > Salah seorang pendemo menegaskan, "Kami akan terus
> > berdemo sampai
> > tuntutan
> > kami dikabulkan."
> > 
> > Menanggapi peristiwa tersebut, Aliansi Jurnalis
> > Independen (AJI)
> > Indonesia,
> > menyatakan :
> > 
> > 1. Apa yang diberitakan KOMPAS tentang pro-kontra
> > Perda Pelacuran di
> > wilayah
> > Tangerang merupakan produk liputan jurnalistik
> yang
> > bebas, seimbang,
> > profesional, dan bertanggung jawab. Demikian pula
> > aksi demo yang
> > dilakukan
> > warga Tangerang di kantor KOMPAS (17/3) merupakan
> > hak dasar warga negara
> > dalam berekspresi dan menyampaikan pendapat
> > 
> > 2. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam
> segala
> > bentuk ancaman,
> > intimidasi, maupun teror terhadap wartawan dan
> > kantor media KOMPAS dari
> > pihak manapun, yang mengatasnamakan rakyat maupun
> > kelompok masyarakat
> > tertentu, dan menyebut itu sebagai upaya serangan
> > terhadap kebebasan pers
> > dan kemandirian media
> > 
> > 3. Menyatakan bahwa segala bentuk ancaman,
> > intimidasi, dan teror oleh
> > siapapun, adalah bertentangan dengan hukum dan
> > menunjukkan arogansi yang
> > tidak dapat diterima dalam iklim demokrasi
> > 
> > 4. Meminta semua pihak agar saling menghormati
> > perbedaan pendapat,
> > menghindari segala pemaksaan sepihak, dan tidak
> > melakukan tindakan yang
> > bertentangan dengan demokrasi dan prinsip
> kebebasan
> > pers yang sudah
> > diakui
> > oleh Konsitusi tertinggi Negara RI
> > 
> > 
> > Jakarta, 19 Maret 2006
> > 
> > Koordinator Divisi Advokasi
> > Eko Maryadi
> > Kantor +62 21 5790 0489
> > Mobile +62 811 852 857
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > -Jika Anda karyawan Kompas dan mau bergabung kirim
> > e-mail ke:  
> > [EMAIL PROTECTED] Sebutkan
> > NIK/Divisi Anda!
> > -Untuk keluar/berhenti bergabung kirim e-mail
> kosong
> > ke:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > -Atau kirim email ke moderator: [EMAIL PROTECTED],
> > [EMAIL PROTECTED]  
> > -Jika tiba-tiba Anda tidak terima email--mungkin
> > di-bounce-- coba kirim
> > email kosong ke
> > [EMAIL PROTECTED] 
> > 
> > Milis Forum-Kompas tidak menerima attachment. Jika
> > Anda ingin mengirim
> > attachment penting, bisa dikirim melalui moderator
> > untuk diteruskan ke
> > Forum Kompas.
> > Netiket dapat dilihat di  -->
> > http://www.albion.com/netiquette/corerules.html
> > 
> > 
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke