Kebudayaan Asli Orang Indonesia: Zaman kapankah kita punya kebudayaan??? Sebelum kemerdekaan, budaya kita berbau kolonialisme bercampur priyayi dibumbui klenik (pagmanisme). Saat kerajaan islam, budaya kita berbaur antara budaya (timur tengah) islam, hindu dan sedikit pagmanisme. Saat kerajaan hindu dan budha, budaya kita terpengaruh oleh dewa-dewa dan manusia setengah dewa yang diberkahi pendeta-pendeta India. Ini sesuai sekali dengan pagmanisme yang dianut oleh masyarakat sebelum adanya agama (terutama agama islam). Sebelum ada kerajaan berdasarkan agama, budaya kita itu pagmanisme alias percaya bahwa alam itu mempunyai kekuatan yang patut dihormati, jika perlu disembah.
Kalau revitalisasi jati diri mengharuskan kita kembali pada budaya kita (sebelum adanya pengaruh agama), berarti menyuruh kita kembali pada zaman pagmanisme. Bukankah ini kemunduran besar buat kita??? Jadi, saya setuju dengan Kang Pedje, bahwa Kang Yayat dan Kang Udin mesti menggambarkan budaya asli yang sekarang sedang tergilas itu... Budaya yang mana??? Maka dari konsep budaya asli itu (bila sudah ketemu), kita dapat menyuarakan "Revitalisasi Jati Diri". Inilah muka kita. Bukan budaya dari barat, bukan budaya dari India dan juga bukan budaya dari timur tengah. Tapi budaya yang mana??? --- Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kang Yayat dan Kang Udin, sebaiknya kalau > membicarakan > konsep-konsep dan pemikiran disertai dengan > contoh-contoh agar tulisannya dapat mudah dicerna > dan > kesimpulan-kesimpulannya tak terkesan gebyah > uyah--yang malah bisa memancing orang untuk tertawa. > Coba lihat pernyataan "sudah lunturnya sikap gotong > royong, musyawarah dan mupakat ditengah kehidupan > masyarakat dewasa ini, akibat dari gejala > globalisasi". Apa benar begitu? Mana buktinya? > Bukankah sikap gotong-royong masih sangat jelas > terlihat dan kadang malah terasa semakin destruktif, > seperti maraknya fenomena gerombolan dari front ini, > kesatuan itu, forum A, lembaga B, serta semakin > brutalnya aksi tawuran, bahkan sampai ke gedung > parlemen; dan juga maraknya fenomena korupsi massal? > > Globalisasi adalah keniscayaan, tak bisa dibendung. > Persoalannya, siapkah kita? Tentu saja kita tak akan > siap kalau kita lebih suka memaki daripada > memperbaiki, lebih suka "membuat peraturan" untuk > orang lain daripada untuk diri sendiri, lebih suka > memanjakan diri menjadi "orang yang tak berdaya", > lebih suka bicara ngawur ketimbang berpikir untuk > menjadi bagian dari solusi. Kalau kita memang tak > sanggup untuk ikut memecahkan masalah yang ada di > dalam masyarakat, sikap untuk tidak ikut menjadi > bagian dari masalah itu saja merupakan hal yang > patut > dipuji. > > "Penetrasi akibat dari arus globalisasi membawa > dampak > kepada gaya hidup yang individualistis. Bukan hanya > segi ekonomi, tetapi lebih jauh adalah kepada > tatanan > budaya luhur bangsa ikut tergilas," kata Kang Udin. > > Ah, Kang Udin, tak selamanya individualistis itu > buruk. Justru sikap ini dapat menjadikan orang > sebagai > pribadi yang bertanggung jawab. Orang seperti ini > tak > akan berlindung di balik jubah gerombolan atau > institusi ketika ada tuntutan untuk > mempertanggungjawabkan pekerjaan atau tindakannya, > seperti banyak dilakukan oleh yang punya semangat > tinggi untuk bergotong royong. Btw, tatanan budaya > luhur bangsa ini yang seperti apa, sih? > > Saya setuju agar kita kembali menengok kembali jati > diri bangsa ini, untuk memperkuat kembali ikatan > kita > pada masa lalu guna membuat strategi yang lebih jitu > dalam menghadapi masa depan. Tapi, sebenarnya, > kenalkah kita dengan identitas bangsa ini? > Jangan-jangan begitu menengok masa lalu, kita justru > tak ingin mengenali lagi karena gambaran yang > diharapkan tak sesuai dengan keinginan kita. > Tengoklah > album foto dalam keluarga kita yang dibuat tahun > 1930-an, 1940-an, 1950-an, 1960-an, 1970-an. Adakah > Kang Yayat dan Kang Udin melihat gambar perempuan > berjilbab di sana, yang bergamis, misalnya? Bukankah > kebanyakan dari mereka hanya sekadar berkerudung dan > berkebaya, yang bersahaja? > > "Dari sekian banyak persoalan yang ada, setidaknya > ada > tiga permasalahan yang menonjol yang mengancam jati > diri dan kesatuan bangsa. Pertama, infiltrasi > budaya. > Semakin mudah masyarakat memperoleh informasi, maka > pengaruh budaya luar akan langsung tereduksi dalam > kehidupan sosial masyarakat. Yang paling parah kalau > budaya tersebut menjadi trend dan gaya hidup > masyarakat kita hingga menjadi kontra produktif > karena > budaya asli kita terisolasi oleh budaya asing. > Fenomena kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba > dan kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak > merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan > kehidupan > masyarakat kita. > "Kedua, polarisasi ideologi. Ideologi merupakan > jati diri atau karakter suatu bangsa. Ideologi > memberi > karakter dan pengaruh bagi bangsa dalam pergaulan > dunia internasional. Ketika transfer informasi > semakin > mudah, ditunjang dengan gencarnya pemberitaan media > massa, baik elektronik maupun cetak, maka faham atau > ideologi asing akan dengan mudah masuk dalam > kehidupan > bangsa kita. Masuknya ideologi asing, secara tidak > langsung akan mengubah tatanan kehidupan dan sistem > berpikir masyarakat," kata Kang Yayat. > > Kang Yayat, kita kok gemar menuding orang lain atas > kesalahan yang kita perbuat, ya? Masa sih "Fenomena > kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba dan > kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak > merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan > kehidupan > masyarakat kita"? Apakah bukan karena kesalahan para > orang tuanya dan para pendidiknya? Lagi pula, budaya > asing yang mana yang dimaksud Kang Yayat? Barat > (Eropa > dan Amerika Serikat), Arab, India, Cina, Afrika? > Bukan > tak mungkin lama-lama Kang Yayat akan menyalahkan > Tuhan yang telah menciptakan manusia bersuku-suku, > berbangsa-bangsa, dengan beragam budayanya. > > Kang Yayat, adakah budaya yang benar-benar asli, > yang > murni? Bukankah budaya adalah proyeksi pemikiran, > sikap, dan tindakan manusia, yang punya sejarah > panjang dan melintasi batas-batas geografis dalam > aliran darahnya? > > "Berbagai bentuk pemikiran saat ini telah > berkembang > sedemikian rupa, sehingga mewarnai sistem kehidupan > bangsa, mulai dari penganut paham konservatif, > sosialisme, marxisme hingga radikalisme, berbaur > menjadi satu dalam kehidupan masyarakat. Kebebasan > berpikir tidak menjadi tabu dan haram, akan tetapi > ketika kebebasan tersebut sudah melampaui > batas-batas > logika dan bisa merusak kehidupan sosial > kemasyarakatan, maka hal ini menjadi haram," tulis > Kang Yayat. > > Kang Yayat, kebebasan berpikir seperti apa sih yang > melampaui batas-batas logika, sehingga Anda > haramkan? > Logika apa? Bukankah logika ilmu pesawat terbang > justru menerobos logika hukum gravitasi? > > Bukankah ketika Muhammad menyerukan bahwa Tuhan > hanya > satu justru menimbulkan keguncangan dalam > masyarakatnya yang ketika itu menyembah berhala? > Begitu pula ketika beliau menyatakan telah melakukan > perjalanan dari Makkah ke Palestina dan kemudian ke > langit hanya dalam semalam, masyarakat Makkah > menjadi > guncang dan banyak orang Islam yang murtad? > > Kang Yayat dan Kang Udin, saya pribadi juga gentar > menghadapi derasnya arus kebudayaan dari berbagai > belahan bumi yang lain. Saya gentar karena merasa > tak > punya cukup "peluru" untuk melakukan dialog dengan > budaya yang beragam itu. Saya gentar, jangan-jangan > nanti akan muncul konflik antara saya dan berbagai > kebudayaan itu akibat kurang lancarnya dialog; yang > pada akhirnya malah menggiring saya untuk sibuk > mencari kelemahan beragam budaya lain itu serta > mencaci-makinya dan lupa melakukan intropeksi ke > diri > saya pribadi, yang ternyata seiring dengan > berjalannya > waktu, cadangan peluru saya semakin sedikit saja. > Ah! > > Salam, > > Pedje > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > protection around > http://mail.yahoo.com > Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
