Pak Saprudin, kalangan bawah itu kayak gimana. apakah orang-orang yang ada di 
kolong meja, kolong tempat tidur, atau di kolong jembatan. Perasaan orang 
Banten asli tidak mengenal istilah perbedaan (peodal) apalagi meng-assign 
rating, semua orang sama. Pengen bukti, coba perhatikan kalau orang banten 
bicara "kami henteu wasa kudu nincak hulu ka Pa Bupati, lamun Pa Bupati nincak 
hulu ka kami, pastina kami oge rek nincak hulu deui" (saya tidak mau kalau 
nginjak kepala Pak Bupati, kalau Pak Bupati nginjak kepala saya, pastinya saya 
juga akan nginjak kepala juga). "kami" dalam bahasa sunda Banten artinya "saya"

Wer ta kewer kewer......................

Mengenai cuplikan cerita yang ditulis oleh Pak Saprudin, itu sudah menjadi 
fitrah manusia sebagai maklhuq yang kontradiktif. Kenapa kontradiktif ? 
Bukankah manusia itu makhluq yang paling mulia dari seluruh makhluq ciptaan 
Allah? Nah derjat mulia yang Allah anugerahkan kepada manusia, ketika si Udin 
dan si Bejo tidak menyadarinya (banyak faktor yang menyebabkan si Udin dan si 
Bejo berbuat demikian) telah menjatuhkan derajat si Udin dan si Bejo satu 
tingkat dengan binatang ternak. Selain itu, manusia juga adalah makhluq yang 
bermasalah. Kalau kita buka al Qur'an dan akan kita dapatkan firman Allah, 
bahwa tatkala Allah hendak menciptakan manusia sudah mengundang reaksi protes 
dari para malaikat. Selain itu setelah manusia tercipta, juga mendapat reaksi 
protes dari Iblis yang enggan sujud kepada manusia (Adam).

Jadi sosok manusia si Udin dan si Bejo adalah manusia yang perlu didekati, 
dibimbing, dan dinasehati agar mengenal dirinya sendiri, setelah mengenal 
dirinya barulah dia akan tahu tentang Tuhan.

Amiin

----- Original Message ----
From: SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 6, 2007 10:56:38 AM
Subject: [WongBanten] Merugi

PERHATIAN !!
BACAAN KHUSUS KALANGAN BAWAH
 
 
 
"Skaaaak.... ....." teriak si Udin ketika dia sedang asyik bermain catur dengan 
si Bejo di atas bale-bale di bawah sebuah pohon belimbing yang rindang. Bak 
pemain catur berkelas master, si Bejo mengamati dengan serius langkah kuda yang 
dilakukan si Udin. Kemudian si Bejo melakukan tindakan penyelamatan dengan 
menggeser mundur posisi raja.
Keasyikan si Udin dan si Bejo bermain catur, telah menyita waktu hampir lima 
jam. Tiba waktu memasuki waktu magrib dengan ditandai suara adzan melalui alat 
pengeras suara dari masjid. "Allahu Akbar....Allahu Akbar......Allahu 
Akbar....Allahu Akbar....... ....Asyhaduallai laahaillallah. ......... dst.". 
Suara adzan yang lantang, nyaring jelas terdengar, tidak membuat si Udin dan si 
Bejo menghentikan permaincan catur, mereka tidak bergeming, malah bertambah 
asyik melakukan skak dan ster. Yang lebih gendheng lagi, ketika suara adzan 
dikumandangkan, mereka berdua malahan cekakak cekikik tertawa saling guyon dan 
bercanda. Sampai kumandang adzan selesai, mereka tetap dalam posisinya memaikan 
buah catur. Sebetulnya usia mereka sudah cukup dewasa berkisar 33-35 tahun, 
sebab masing-masing sudah berkeluarga dan punya anak. Saya lewat depan mereka 
untuk pergi ke masjid dan sekalian mengingatkan mereka "mas, udah adzan magrib 
lho, ayo kita ke masjid dulu, ntar lanjutin lagi main caturnya". Jawaban mereka 
sambil nyengir "wah mas tanggung nih, titip salam saja deh ama malaikat, saya 
lagi dapet nih he...he..he. ."
 
***
Pada waktu yang lain, si Udin dan si Bejo bersama rekan-rekannya sedang asyik 
ngobrol ngalor ngidul, tiba-tiba Pak H. Dultacan datang menghampiri mereka 
sambil mengucapkan salam, sontak saja obrolan mereka terhenti. Sambil 
membetulkan posisi pici putihnya, H. Dultacan "Wah kebetulan nih pada kumpul 
disini, begini saya dapat amanat dari H. Dulsohor untuk disampaikan kepada 
warga dan para tetangga bahwa ntar sehabis shalat isya ada acara gunting rambut 
kelahiran anak di rumahnya. Nah kalian datang ya, jangan enggak nih. Serempak 
si Udin, si Bejo dan rekan-rekan menjawab dengan semangat "Rebes Pak Haji, 
pasti kami datang deh".
 
Ceritanya undangan dari H. Dulsohor direspond dengan amat segera, tanpa basa 
basi. Yang biasanya si Udin, si Bejo dan rekan-rekan jarang mengenakan pici dan 
pakaian koko, hari itu tampang mereka seperti Ustad yang akan pergi mengajar 
ngaji. Di rumah H. Dulsohor mereka duduk berderetan dengan para Ustad beneran. 
Rumah H. Dulsohor penuh sesak hingga meluber tumpah ruah ke luar rumah bahkan 
gang pun penuh oleh para tamu yang menghadiri acara tersebut. 
Yang lebih menggelikan adalah pada waktu acara dzikir dan tahlil, surara si 
Udin, si Bejo dan rekan yang paling keras sambil mata terpejam seperti khusu 
dengan kepala miring kiri miring kanan.
 
***
Cerita tersebut diatas, ketika yang mengundang adalah Allah Yang Maha Besar, 
Allah Yang Maha Segala-galanya, Allah Yang Memberikan si Udin si Bejo dan Rekan 
rizki dan penghidupan untuk mendirikan shalat, namun tidak mendapat respon dari 
mereka malah dijadikan candaan. Namun ketika yang mengundang adalah H. Dulsohor 
yang nota bene adalah manusia sama seperti si Udin, si Bejo dan rekan langsung 
meresponnya dengan sigap tanpa tunda-tunda waktu. 
 
Ilustrasi tersebut diatas, pasti kebanyakan orang akan nyeletuk "Mas hidayah 
belum datang kepada mereka, kita jangan usil deh, orang mau insyaf mau gak itu 
urusan mereka, kalau Allah berkehendak pasti hidayah akan menghampiri mereka".
Ooooh begitu ya ? 
 
 
SP Saprudin 

 



Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 



 
____________________________________________________________________________________
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
http://mobile.yahoo.com/mail 

Kirim email ke