Mubazir/ Mubaziroh sih tampaknya sudah inherent, hampir tak dapat dipisahkan dengan keseharian kita….Gak perlu MTQ nasional yang tahunan, mubazir/ mubazirah lebih dahsyat bisa kita saksikan tiap hari di Jakarta, berapa juta orang membakar ratusan ribu/ jutaan liter BBM secara percuma di jalanan yang macet? Atau sesekali perhatikanlah di rumah dan di tempat kerja, berapa banyak orang yang sadar tak sadar menghambur2kan listrik, kertas, makanan, pakaian dll untuk sesuatu yang sia2 (jangan2 termasuk kita?)? Artinya, sekali lagi saya tetap melihat bukan MTQ-nya yang bermasalah , tapi lebih kepada oknum2nya dan lebih dari itu mungkin juga format acaranya, format hadiahnya, dsb, dsb....Daripada terus mencari2 sisi negatifnya, kenapa diskusinya tidak mengarah kepada bagaimana cara memperbaiki oknum dan format itu sedemikian rupa, sehingga MTQ tidak lagi menjadi ajang mubazir2an? Termotivasi dengan gerakan anti NATO-nya Muqoddas, di sini saya coba deh memulai mengusulkan sesuatu, meski masih amatiran dan belum tentu practicable di lapangan…Misal: Daripada menginap di hotel, mengapa mereka tidak diatur saja untuk menginap di pesantren2/ madrasah2 di sekitar Serang/ Banten? Selain bisa bersilaturrahmi, para kafilah dari seluruh Indonesia itu kan bisa menyempatkan untuk sharing tentang dunia kepesantrenan di daerahnya masing2?..Trus ongkos penginapan para kafilah…, itu juga lumayan kan untuk nambah2 dana pendidikan pesantren mereka... Daripada membuat panggung2 yang wah, kenapa dananya tidak kita gunakan saja untuk meningkatkan bobot hadiah kepada para pemenangnya? Misal, daripada sekedar tropi kenapa nggak ditambah hadiah beasiswa? Atau selain hadiah haji dan umrah, kenapa tidak sekali2 kita ganti dengan hadiah magang dan studi banding ke madasah2 quran tersohor di dunia. Pernah dengar kan Madrasah Quran “Jamiatul Quran” di Teheran yang melahirkan Sayyid Muhammad Husein Tabtaba’i , sang hafidz yang hafal Quran di usia 5 tahun dan meraih Doktor Honoris Causa bidang “Science of The Retention of The Holy Quran” pada usia 7 tahun dari Hijaz College Islamic University di Birmingham Inggris. Kenapa tidak kita fasilitasi lebih serius lagi para jago2 kaligrafi itu untuk membuat sanggar, bikin pameran, bikin paguyuban, dsb, dsb.. Kenapa tidak kita isi juga waktunya dengan seminar2 Alquran, pameran buku Islam, bedah buku dll sehingga menambah kesemarakan syi’ar Islam? Kenapa tidak kita usulkan saja temen2 yang paling pedes kritiknya di milis ini untuk menjadi panitia atau at least jadi penasehatnya? Buat saya, kegiatan kolosal ummat Islam seperti MTQ masih terlalu penting untuk dihapuskan..efeknya terhadap ummat bisa jauh lebih dahsyat ketimbang baca quran sendiri-sendiri…dan tak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan…Kalau tidak di Banten, daerah2 lain masih menunggu para reformis2 itu berkontribusi…
Wallahu a'lam bisshowab.. ----- Pesan Asli ---- Dari: tata purnama <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 21 Febuari, 2008 6:12:42 Topik: [WongBanten] AKAN LAHIR MUBAZIR-MUBAZIRAH PASCA-MTQ AKAN LAHIR MUBAZIR-MUBAZIRAH PASCA-MTQ Seandainya, sekalian aja Hari Valentine sedunia dirayakan di Banten, lalu menelan biaya Rp 43,7 miliar, saya setuju banget euy... Tapi urusan MTQ memakan duit segitu besarnya, nanti dulu Mang… Banyak urusan ‘agama’ lebih penting ketimbang ngadain lomba-lomba membawa simbol agama. 10 persen dr duit itu, jika dianggarkan beli buku, bisa-bisa tiap kecamatan punya perpustakaan, dak… Sepanjang sejarah Nabi, tidak ada MTQ yang biayanya milyaran rupiah (ukuran duit sekarang). Toh ketika itu, umat Islam rajin mengaji, sehingga rata-rata khatam Quran sebulan sekali. Sementara kita yang ada sekarang, mengadakan MTQ malah banyak yang tak bisa membaca Quran. Soal dana, alangkah baiknya DPRD (bukan yang korup) memunyai lembaga penelitian anggaran, agar dana untuk pembangunan tidak terbuang sia-sia. Pembangunan dilakukan tepat sasaran, bukan penghamburan biaya model MTQ begini. Kalau sebelumya pd MTQ dikenal mufasir/mufasirah (ahli tafsir), hafiz/hafizah (ahli tahfiz), khattat/khattatat (ahli kaligrafi), maka dipastikan, ada CABANG baru dalam MTQ tingkat nasional di Banten, yaitu mubazir/mubazirah. Ayo, siapa mau ikutan?? Contoh kecil aja, banyak makanan ringan maupun berat di sejumlah pos kafilah/rumah/ hotel yang ditempati dewan hakim/peserta/ panitia MTQ. Bahkan, tak jarang ada makanan yang dibuang ke kolam ikan karena tidak ada manusia yang memakan. Ini sudah tradisi di arena MTQ dari tahun ke tahun di berbagai daerah. Syiar agama kok dilakukan dengan cara mubazir dan berboros ria. Contohlah perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Kita bertakbir ria, melakukan kurban dan zakat lalu membagikannya kepada dhuafa. Bukan membuang duit hanya untuk makan2 bersama, dan sebagiannya masuk kantong pejabat. Ini SECARA gw gitu lhoo… Salam, tata septayuda tataseptayuda. blogspot. com Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! for Good ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/
