Saat Restorasi Meji  pada akhir abad ke 19 , sebuah perubahan yang 
sangat mendasar dari sosial budaya Jepang terjadi. Salah satunya 
poin penting adalah  hilangnya fungsi  para Samurai  sebagai 
prajurit bangsawan.Samurai secara fisik  tak ada lagi. Hilangnya 
fungsi itu  tak membuat mereka membawa pedang panjang ataupun 
menjadi centeng di pasar.  Namun semangat  Samurai melekat erat 
dalam jiwa setiap warga Jepang, tak pernah hilang.

Semangat Bushido  yang diwariskan para Samurai itu  membuat mereka 
tak  gampang menyerah. Itulah yang kemudian menjadikan Jepang 
sebagai negara kuat yang tak gampang dikalahkan. 

Jepang boleh diluluhlantakan  bom aton di Hiroshima dan Nagasaki 
pada Perang Dunia Kedua. Namun semangat Samurai itu menjadikan 
mereka cepat bangkit, dan merebut kembali kejayaan negaranya.

Hanya beberapa dekade, Jepang memimpin dunia dengan kemajuan 
industri dan teknologinya. Dalam tiga dekade terakhir ini, pasar 
dunia elektronik dan otomotif dikuasai Jepang, dan negara sekaliber 
Amerika Serikat sekalipun tak mampu menahan penetrasi produk Jepang 
ke negaranya.

Di Banten, semangat jawara terus berkobar, meski Kasultanan Lama 
Diluluhlantakan Belanda. Semangat perlawanan itu terus berkobar. 
Semangat Kyai yang bekerjasama dengan Jawara, membuat Banten tak 
mudah untuk ditundukkan. Bagi orang Banten, lebih baik hancur 
daripada harus menyerah.

Kini   Jawara-jawara muda melanglang mencari ilmu di berbagai kota 
dan belahan dunia. Sekolah-sekolah menengah atas di Banten, telah 
mengirimkan  lulusannya yang kemudian  menjadi  doktor, master dan 
sarjana  dari perguruan tinggi terkenal di dunia. Mereka kini 
berkarya di berbagai bidang ilmu dan profesi.

Beberapa hari lalu, paman saya, Handy Soetisna, bercerita tentang 
seorang anak muda asal Pandeglang yang sekolah di IPB. Hari jelang 
tengah  malam waktu itu, tiba-tiba rumahnya di Bogor yang kebetulan 
terletak berdekatan dengan asrama Pandeglang, diketok seorang anak 
muda. "Ada apa, kok malam-malam ini datang?" "Saya mau ikut makan 
bu, saya lagi berpuasa  sunah dan ingin berbuka," katanya.

Keluarga itu memang sudah menganggap anak-anak muda itu sebagian 
bagian dari keluarganya."Kenapa berbuka baru sekarang, bukannya dari 
Magrib tadi datang kesini." "Kalau saya datang kesini tadi saya malu 
meminta makan dua kali, tapi kalau sekarang saya bisa berbuka  
sekalian sahur,"katanya.

Cerita anak muda itu bukanlah satu-satunya cerita  tentang anak muda 
Banten yang tengah berjuang merebut masa depannya. Di Ciputat saya 
mendapati anak muda Banten yang tengah mencari ilmu di UIN Syarif 
Hidayatullah. Mereka mengontrak sebuah kamar kecil yang diisi oleh 7 
orang. Yang tidur duluan, beruntung bisa tidur diatas sebuah sajadah 
tipis. Sementara lainnya harus tidur di ubin, tanpa sehelai tikarpun.

Jika tengah memiliki uang, dia bisa makan di sebuah Warung Tegal. 
Namun jika tidak, mereka harus berpuasa, dan berbuka dengan 
sebungkus mie instan, yang dimasaknya di warteg langganannya dengan 
membayar jasa Rp 1000 rupiah. 

Anak-anak muda Banten di IPB dan UIN itu memiliki IPK diatas 3,5, 
keprihatinan tak membuat mereka gampang menyerah.

Di kobong-kobong santri pesantren yang tersebar di wilayah Banten, 
juga muncul cerita-cerita itu. Keprihatinan itu suatu ketika menjadi 
sebuah cerita manis yang  menjadi cerita penyemangat hidup ketika 
mereka beranjak dewasa kelak.

Sungguh merekalah jawara-jawara sejati, yang berjuang di tengah 
keprihatinan hidup. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tak 
pernah menyerah, namun tetap tawadhu. Mereka hanya  ingin hidupnya 
berarti untuk umat  yang lain. Mereka ingin hidup lebih baik, karena 
mereka percaya hanya ilmu yang bermanfaat yang akan mengangkat 
derajat hidup dan keluarganya.

Saya jadi ingat jaman kuliah di Lampung dua dekade silam. Hingga 
mahasiswa, saya memiliki hobi tenis meja. Pada hari-hari tertentu 
bersama teman-teman satu klub berlatih di GOR Saburai. Dalam 
perjalanan pulang, saya berjalan menelusuri Jalan Raden Intan. 
Selain untuk menghemat ongkos,   disana ada sebuah toko roti 
terkenal. 

Di depan toko itu saya berhenti sejenak. Bukan untuk membeli, namun 
untuk sekadar menikmati harum roti yang menyeruak keluar toko yang 
berasal dari oven. Dalam hati saya bertekad, suatu ketika saya harus 
bisa membeli roti itu.

Alhamdullilah kini, meski sekarang tak suka-suka amat memakan roti, 
cita-cita itu tercapai. Keinginan membeli roti untuk menjadi sebuah 
motivasi besar untuk saya. Dan kini saya tersenyum melihat anak-anak 
saya menikmati roti!

Salam
[EMAIL PROTECTED], http//machsusth.blogspot.com/

 


Kirim email ke