Assalamulalaikum Wr Wb
Sebuah SMS saya terima dari sahabat saya, Dr Ibnu Hamad (41 tahun), isinya,"Segala puji bagi Allah seru sekalian alam.Atas izinnya jualah SK Profesor saya hari ini saya terima dari Mendiknas.Mohon doa untuk kemanfaatan gelar tersebut," Kang Ibnu adalah lulusan SMP Banjar Pandeglang yang kemudian melanjutkan sekolahnya ke SMA 1 Pangelang, lulus tahun 1985, lalu ke FISIP Komunikasi UI pada tahun yang sama. Doktor komunikasi politik ini memang bukan profesor termuda di UI, Prof Hikmawanto meraih gelar ini pada usia 35 tahun, namun bagi kami Ibnu adalah sosok yang membanggakan. Cerdas, muda, namun tetap tawadhu dan sederhana. Kesederhanaan ini tetap bertahan dari jaman mahasiswa hingga mahaguru kini. Sampai sekarang kemana-mana Ibnu tetap naik KRL dan bus kota. Saya dan beberapa teman, antara lain Ka Dr Mukhlis Yusuf, dan Fuad Saugi, dan teman-teman lain sempat mendorong Ibnu untuk memimpin Pandeglang, dan bersaing dengan teman se angkatan lain di SMP 1 Pandeglang dan SMA 1 Pandeglang, Dimyati Natakusumah, dalam Pilkada Pandeglang beberapa tahun lalu. Sayang waktu itu, tak ada jalur independen, dan partai-partai tak tertarik dengan Ibnu, karena kami tak memiliki uang miliaran rupiah seperti yang mereka minta. Mereka lebih memilih kandidat yang memiliki Gizi ketimbang Visi, meski gizi itu kemudian bisa membawa mereka ke penjara. Seorang pengurus DPP sebuah partai islam yang dulu dikenal bersih malah menyarankan ka Ibnu belajar "ngaji" aja dulu sebelum mencoba terjun ke politik. Dalam hati saya tersenyum sendiri, karena saya tahu Ibnu adalah anak pesantren dan putra Kyai terkenal di Pandeglang yang sudah Khatam Al Quran sejak kelas 2 SD. Saya kira Ibnu adalah jawara lain dari Banten, yang meraih kehormatannya dengan terus belajar dan bekerja keras. Saya usul, bagaimana kalau forum ini mengundangnya untuk semacam "Pidato pengukuhan Guru Besar" ala Mailist Wong Banten. Kumaha tah, ka, lamun Wong Banten kumpul bari silaturahmi lebaran jeung babacakan? Salam Machsus Thamrin
