Edi Hudiata HMT 

"Agar Hidup Lebih Bermakna"

visit me at:
http://edihudiata.multiply.com
http://edihudiata.wordpress.com

--- On Sun, 8/31/08, khairul ashdiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: khairul ashdiq <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: -=Info PMIK=- Ditemukan Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, August 31, 2008, 3:39 AM










    
            Ditemukan Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883         
        
        
        
                        
                                                   
                           
                                 
                                                                                
                
                                        KOMPAS/AGUS SUSANTO             
                                        Aktivitas gempa vulkanik dalam, 
dangkal, dan letusan mewarnai Gunung Anak Krakatau, Selasa (30/10). Foto 
diambil tahun 2007.
                                  
                                  
                                                
                        
            
            
            /                        
                                                
                        
                        
                                                                
        Minggu, 31 Agustus 2008 | 10:51 WIB
        
                Laporan wartawan Kompas YurnaldiJAKARTA, MINGGU--
Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau
(Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang
pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat langka dan menarik, tiga
bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam. Peneliti dan ahli 
filologi dari Leiden University, Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada 
Kompas di Padang, Sumatera Barat, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, 
Minggu (31/8)."Kajian-kajian
ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir luput
mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang mencatat
kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun 1883 itu. Dua tahun
penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian pribumi dalam bentuk
tertulis, " katanya. Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus
1883, gunung Krakatau telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan
dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 km dan tsunami
setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.Sebelum
meletus tahun 1883, Gunung Krakatau telah pernah meletus sekitar tahun
1680/1. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang saling berdekatan;
Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata. Suryadi
menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan Gunung
Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The Eruption of 
Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa Committee of the 
Royal Society (London, 1883).Sedangkan sumber tertulis pribumi terbit di 
Singapura dalam bentuk cetak batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya 
mencatat 1301 H (November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul Syair 
Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (42 halaman). " Tak lama 
kemudian muncul edisi kedua syair ini dengan judul Inilah Syair Lampung Dinaiki 
Air Laut (42 halaman). Edisi kedua ini juga diterbitkan di Singapura pada 2 
Safar 1302 H (21 November 1884), " paparnya.Edisi ketiga berjudul Syair Lampung 
dan Anyer dan Tanjung Karang Naik Air Laut
(49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga ini juga
diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3 Januari
1886). Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut Syair Negeri Anyer 
Tenggelam. " Edisi keempat syair ini, edisi terakhir sejauh yang saya ketahui, 
berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya
(36 halaman). Edisi keempat ini juga diterbitkan di Singapura,
bertarikh 10 Safat 1306 H (16 Oktober 1888)," ungkap Suryadi, yang
puluhan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal
internasional.Menurut Suryadi, khusus teks keempat edisi syair
itu ditulis dalam bahasa Melayu dan memakai aksara ArabMelayu (Jawi).
Dari perbandingan teks yang ia lakukan, terdapat variasi yang cukup
signifikan antara masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh
kelisanan yang masih kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh
di Nusantara pada paroh kedua abad ke-19. Suryadi yang berhasil
mengidentifikasi tempat penyimpanan eksemplar seluruh edisi Syair Lampung Karam 
yang masih ada di dunia sampai saat ini menyebutkan, Syair Lampung Karam 
ditulis Muhammad Saleh.Ia mengaku menulis syair itu di Kampung Bangkahulu 
(kemudian bernama Bencoolen Street)
di Singapura. " Muhammad Saleh mengaku berada di Tanjung Karang ketika
letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat bencana alam yang hebat
itu dengan mata kepalanya sendiri. Sangat mungkin si penulis syair itu
adalah seorang korban letusan Krakatau yang pergi mengungsi ke
Singapura, dan membawa kenangan menakutkan tentang bencana alam yang
mahadahsyat itu," katanya.Bisa direvitalisasiSuryadi berpendapat, Syair Lampung 
Karam dapat dikategorikan sebagai syair kewartawanan, karena lebih kuat 
menonjolkan nuansa jurnalistik. Dalam Syair Lampung Karam
yang panjangnya 38 halaman dan 374 bait itu, Muhammad Saleh secara
dramatis menggambarkan bencana hebat yang menyusul letusan Gunung
Krakatau tahun 1883. Ia menceritakan kehancuran desa-desa dan kematian
massal akibat letusan itu. Daerah-daerah seperti Bumi, Kitambang,
Talang, Kupang, Lampasing, Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung,
Gunung Basa, Gunung Sari, Minanga, Tanjung, Kampung Teba, Kampung
Menengah, Kuala, Rajabasa, Tanjung Karang, juga Pulau Sebesi, Sebuku,
dan Merak luluh lantak dilanda tsunami, lumpur, dan hujan abu dan batu.Pengarang
menceritakan, betapa dalam keadaan yang memilukan dan kacau balau itu
orang masih mau saling tolong menolong satu sama lain. Namun, tak
sedikit pula yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri sendiri
dengan mengambil harta benda dan uang orang lain yang ditimpa musibah.
Selain menelusuri edisi-edisi terbitan Syair Lampung Karam
yang masih tersisa di dunia sampai sekarang, penelitian Suryadi juga
menyajikan transliterasi (alih aksara) teks syair ini dalam aksara
latin."Saya berharap Syair Lampung Karam dapat dibaca
oleh pembaca masa kini yang tidak bisa lagi membaca aksara Arab-Melayu
(Jawi). Lebih jauh, saya ingin juga membandingkan pandangan penulis
pribumi (satu-satunya itu) dengan penulis asing (Belanda/Eropa)
terhadap letusan Gunung Krakatau," jelas Suryadi.Peneliti dan
dosen Leiden University ini menambahkan, teks syair ini bisa
direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang akademik,
budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan untuk
mengemaskinikan teks Syair Lampung Karam itu dalam rangka
agenda tahunan Festival Krakatau. Juga dapat direvitalisasi dan
diperkenalkan untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian
khasanah budaya dan sastra daerah Lampung.
Yurnaldi        


      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke