--- On Fri, 3/13/09, danu primanto <[email protected]> wrote:
From: danu primanto <[email protected]>
Subject: [pantau-komunitas] Umi Halimah Saadah, Pewarta Warga Terbaik Februari 
2009
To: "narasi yogya" <[email protected]>, "narasi jakarta" 
<[email protected]>, "pantau komunitas" 
<[email protected]>, "kunci cultural studies" 
<[email protected]>, "selasar mrican" <[email protected]>
Date: Friday, March 13, 2009, 12:08 AM











    
            --- On Thu, 3/12/09, Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com> wrote:

From: Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com>

Subject: [media-jogja] Umi Halimah Saadah, Pewarta Warga Terbaik Februari 2009

To: 

Date: Thursday, March 12, 2009, 12:44 PM



Umi Halimah Saadah, Pewarta Warga Terbaik Februari 2009 

 

Ditulis Oleh Redaksi    



11-03-2009, 



Setiap pagi, Umi mengajar pendidikan Agama di SD. Sore hari, dia mengajar di 
Madrasah Diniyyah di desanya. Umi juga aktif berkegiatan bersama warga di 
lingkungan tempat tinggalnya: bergabung sebagai panitia Pemilu, mengisi kuliah 
Ramadan di masjid, anggota Badan Permusyawaratan Desa, Ketua Karang Taruna, 
aktif di kegiatan PKK, memimpin jamaah pengajian ibu-ibu, dan masih banyak lagi.



"Karena keaktifan saya ikut kegiatan sosial di desa sampai ada orang bilang 
kalau saya Srikandhi-nya desa," ujarnya.



Umi merasa, sampai saat ini budaya patriarki masih erat dengan kehidupan 
masyarakat, bisa dilihat dari berbagai kegiatan yang hampir semuanya dimotori 
mayoritas oleh laki-laki. Di desanya, Desa Derekan, Kecamatan Pringapus, 
Kabupaten Semarang, Umi menjadi satu-satunya perempuan yang ikut nimbrung dalam 
kegiatan kemasyarakatan yang notabene dihuni para lelaki. "Kegiatan itu saya 
lakoni sudah sejak lulus SMA," katanya.



Sejak muda, Umi sudah merasa tidak cocok dengan budaya patriarki yang begitu 
lekat dan dekat dengan lingkungan terdekatnya. Dia mulai menemukan referensi 
soal feminisme dan kesetaraan jender saat mondok sembari bersekolah di pondok 
pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak. 



"Ternyata itu bukan saja masalah pribadi saya, namun juga sebuah isu yang 
ketika itu sedang hangat diperbincangkan. Mulai saat itu saya selalu berusaha 
agar tidak kalah dengan laki-laki," akunya.



Sekembalinya Umi dari pesantren dan hidup di masyarakat, dia selalu mendapat 
kesempatan untuk bekerja sejajar dengan laki-laki, meskipun tak banyak rekan 
perempuan di bidang yang dinilai sangat 'lelaki'.



Kini, Umi tak hanya mengabdi untuk masyarakat. Ia telah menikah, dan sedang 
mengandung anak pertamanya. Perut buncitnya tak menghalangi dia beraktifitas, 
justru membuatnya mencari jalan lain untuk terus berbagi: lewat tulisan. Salah 
satu tulisannya, Perempuan Memakai Celana Panjang, Haramkah? , mendapat begitu 
banyak respons dari pembaca.



Umi juga pernah menuliskan pengamatannya terhadap tingkah polah para calon 
legislatif yang berkampanye hingga ke pintu-pintu rumah warga.



Di tengah segala kesibukannya, saat ini Umi masih dalam proses menyelesaikan 
pendidikan S-2 di IAIN Walisongo Semarang.



"Kepribadian yang grapyak, semanak, adaptif, komunikatif, membuat saya dekat 
dengan orang-orang sekitar, dari balita sampai manula. Dengan anak didik pun 
saya tidak bisa kalau harus mengambil jarak.. Saya lebih enjoy jika mereka 
menganggap saya seperti teman, sebaliknya saya dengan mereka."



Umi yang aktif, berpikiran kritis, memang layak mendapatkan predikat sebagai 
Srikandhi di desanya. Tak berlebihan pula kiranya

 bila tulisan-tulisannya di Suara Warga mengantarkan dia mendapat predikat 
pewarta terbaik di bulan ini.

 

http://citizennews. suaramerdeka. com/index. php? option=com_content& 
task=view& id=713&Itemid= 1

 

http://media- klaten.blogspot. com/

 

salam

Abdul Rohim


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke