Ada tulisan bagus, semoga menambah wawasan kita tentang islam dan Indonesia.


Intelejen dan Islam Radikal

oleh : He-Man*


Setelah Soeharto memperoleh kekuasaan ia dihadapkan padakondisi ideologi
Nasakom hasil binaan rezim lama masih kuat dan masih dianggap sebagai sebuah
ancaman besar bagi rezim Karena itulah rezim orba kemudian mengeluarkan
kebijakan ideologis untuk menanganinya. Kebijakan ideologis dan politis pada
masa awal orba yang di tempuh adalah menghancurkan kaum komunis, menekan
kaum nasionalis, dan mencegah naiknya kekuatan islam.

Setelah kekuatan komunis ditumpas habis, maka kekuatan kaum nasionalis
seperti PNI dilumpuhkan dengan menempatkan Hadisubeno menyingkirkan Hardi
yang kritis pada pemerintah. Motor utama untuk melaksanakan kebijakan
ideologis orba ini diserahkan kepada aparat intelejen

Dan setelah berhasil menuntaskan kebijakan terhadap kaum komunis dan
nasionalis. Maka target selanjutnya diarahkan pada kelompok Islam. Kebijakan
terhadap kelompok Islam terbilang unik dibandingkan dengan kebijakan
terhadap kelompok komunis dan nasionalis. Walaupun tergabung dalam Nasakom
tapi kelompok Islam memiliki peran dan jasa besar dalam menghancurkan
kekuatan komunis dan meruntuhkan rezim Soekarno selain karena kenyataan
bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut agama Islam.

Karena itu pemerintah memilih jalan yang lebih hati-hati untuk menghadapi
kekuatan islam ini. Untuk mencegah naiknya kekuatan Islam maka pemerintah
harus memiliki alasan dulu untuk menekankannya. Dan kemudian intelejen
sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk melaksanakan ini kemudian
memilih untuk menggunakan tangan kaum radikal Islam.

Kelompok radikal walaupun memang berbahaya tapi justru membuatnya menjadi
sangat mudah dikendalikan. Psikologi kaum radikal adalah psikologi orang
marah, seperti yang diketahui orang marah sangat kehilangan daya nalar
kritis dan akal sehatnya, sehingga bila mereka liar akan sangat tidak
terkontrol sebaliknya juga mereka menjadi sangat mudah dihasut dan dibohongi
sehingga menjadikannya sebagai pion yang sangat ideal karena akan mengikuti
apa saja kemauan penyuruhnya sekaligus bisa dikorbankan dengan sangat mudah.

Dan inilah yang disadari oleh Ali Moertopo sehingga ia kemudian merekrut
para mantan anggota DI/TII yang sedang dibina oleh Kodam Siliwangi. Aksinya
ini ditolak oleh Kepala Bakin pada masa itu Jenderal Sutopo Juwono juga
petinggi Bakin lainnya seperti Jendral Nicklany (yang kemudian akhirnya di
dubeskan), akan tetapi Ali Moertopo tetap pada pendiriannya dengan tetap
membawa para mantan DI/TII ini ke Jakarta.


Beberapa pentolan DI/TII yang dibawa antara lain putra dari Kartosuwiryo
yaitu Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmad Basuki, juga Adah Djaelani
Tirtapraja (Ma'had Al Zaitun), Rahmat Basuki (tersangka pengeboman BCA),
Amir Fatah, H Ismail Pranoto (Komando Jihad), Danu Muhammad Hasan, Helmy
Aminuddin (Gerakan Tarbiyah) dll.


Tebar, Pancing dan Jaring

Karena tidak memperoleh dukungan dari para petinggi Bakin, Ali Moertopo pun
membawa para mantan DI/TII ini dibawah pembinaan Opsus. Mereka kemudian
mendapatkan fasilitas dan dukungan finansial yang sangat besar sehingga
menimbulkan kemarahan sejumlah perwira ABRI pada masa itu terutama dari
kalangan Siliwangi yang merasa berjasa menangkap mereka dengan susah payah
bahkan bertaruh dengan nyawa.

Tapi berkat kedekatan Ali Moertopo pada Soeharto pada masa itu maka
protes-protes itu berhasil diredam. Sejumlah perwira yang menentang proyek
itu pun dengan segera dimutasi dan disingkirkan.

Ali Moertopo kemudian membina mereka dengan pelatihan-pelatihan intelejen,
seperti pembentukan jaringan, teknik perekrutan anggota, penyamaran,
pembuatan propaganda, operasi cuci otak, teknik teror dan intimidasi dan
lain sebagainya (ini yang menjelaskan kenapa kelompok radikal sangat ahli
dalam melakukan ini semua).

Setelah dibina mereka pun diterjunkan ke tengah masyarakat untuk menerapkan
ilmunya. Dan peritiwa-peristiwa teror pun terjadi, pemboman BCA, penyerbuan
kantor polisi di Cicendo, Wolya, Lampung, Borobudur dll, dimana semua
peristiwa ini dilakukan oleh para mantan DI/TII binaan opsus.

Dan aparat pun menangkapi mereka lagi bahkan sebagiannya juga dikorbankan
dan dibunuh. Tapi setelah tertangkap mereka kemudian dilepas lagi untuk
melakukan aksi-aksi lainnya. Berkat peristiwa-peristiwa itu pemerintah
mendapat legimitasi untuk menekan kelompok-kelompok Islam. Sejumlah aktivis
masjid di Bandung ditangkapi bahkan organisasi remaja masjid di masjid
Istiqamah yang pada waktu itu menjadi "Mekkah" nya aktivis muda islam pun
dibubarkan dengan tuduhan terlibat peristiwa Cicendo dan Wolya yang
dilakukan oleh jamaah Imron yang diprovokasi oleh Najamuddin seorang anggota
intelejen binaan Bakin dari Batalyon Artileri Medan, sejumlah kyai NU di
Jawa Timur ditangkapi bahkan dilenyapkan dengan tuduhan terlibat Komando
Jihad yang dikomandani oleh Haji Ismail Pranoto binaan Opsus. Keterlibatan
intelejen dalam kasus-kasus tersebut semakin kentara ketika dalam kasus
persidangan Danu Mohammad Hassan misalnya, ia mengaku sebagai orang Bakin.
"Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin." (Lihat Tempo, 24
Desember 1983). Belakangan Danu mati secara misterius, tak lebih dari 24 jam
setelah ia keluar penjara, dan konon ia mati diracun

Intelejen pun bergerak lebih jauh lagi untuk memprovokasi sejumlah kelompok
melakukan perlawanan yang dengan segera ditumpas dengan kejam oleh militer.
Peristiwa-peristiwa ini kemudian menjadi legimitasi bagi aparat untuk
melakukan sensor dan pengawasan yang ketat pada aktivitas dakwah. Para da'i
harus mempunyai surat izin untuk berceramah dan semua kegiatan dakwah harus
dilaporkan dulu kepada aparat dengan alasan mencegah penyebaran paham
radikal. Lalu pemerintah pun menetapkan kebijakan asas tunggal Pancasila
dengan alasan untuk menekan penyebaran ideologi-ideologi yang menyimpang.

Sejumlah kelompok Islam yang menentang kebijakanini pun segera dibekukan,
HMI kemudian terpecah menjadi dua dengan munculnya HMI MPO yang menolak asas
tunggal, Pelajar Islam Indonesia (PII), BKPRMI dan beberapa ormas islam lain
dibubarkan. Pemerintah juga mendirikan sejumlah organisasi islam baru
pendukung asas tunggal yang rata-rata dibawah binaan Golkar. Dengan demikian
semua kekuatan oposisi pemerintah dari kelompok Islam berhasil dilumpuhkan
dengan metode tebar, pancing jaring hasil rekayasa Ali Moertopo.


Strategi Pecah Belah dan Kuasai

Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi kekuatan
Islam pun berubah. Teknik tebar, pancing, jaring ala Ali Moertopo mulai
ditinggalkan karena justru malahan menambah instabilitas. Strategi yang
kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat seolah-olah
pemerintah mendukung kekuatan Islam.

Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan
kepemudaan islam mulai marak. Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat
di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian kalangan aktivis
muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan
berusaha membaurkan diri dengan masyarakat. Misal saja organisasi remaja
masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim jemput bola pada remaja-remaja
bermasalah seperti anggota gank motor, pecandu narkoba dll

Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru. Salah satu point
penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan semua
organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan
kendali pemerintah. Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga
organisasi profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun
dibawah kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau
tidak mendapat 'restu' dari pemerintah.

Akan tetapi organisasi-organisa si remaja masjid juga majlis-majlis taklim
yang tumbuh pada masa itu tidak demikian. Organisasi-organisa si itu
bersifat independen dengan struktur organisasi yang cair. Akan tetapi
pertumbuhan anggotanya sangat luar biasa.

Karena itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera dikontrol.
Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua organisasi
dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan formal dimana
kemudian pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi tersebut. Dan
pemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan memfasilitasinya dengan
menempatkan organisasi-organisa si tersebut untuk berkantor di masjid negara
Istiqlal. Akan tetapi eksperimen ini gagal, para aktivis yang berusaha
menjaga jarak dengan pemerintah menolak mengikuti gagasan tersebut.

Akan tetap intelejen kemudian memiliki pemikiran lain. Kekuatan dari
kelompok-kelompok dakwah tersebut harus dan bisa dimanfaatkan untuk
kepentingan rezim, bagi kalangan intelejen bila tidak mampu menundukkan
sebuah kekuatan/kelompok maka kekuatan/kelompok itu harus disusupi kemudian
dimanfaatkan akan tetapi mereka harus dikebiri terlebih dahulu kekuatan
untuk melumpuhkan potensi ancamannya. Kekuatan utama dari gerakan Islam pada
dasarnya bukanlah pada banyaknya jumlah anggota mereka melainkan pada
kedekatan mereka pada ummat dan ukhuwah mereka dengan kekuatan Islam yang
lain. Dan dua aspek penting inilah yang menjadi target intelejen untuk
dilumpuhkan. Kebijakan 'massa mengambang' adalah doktrin utama ideologi orba
untuk mencegah sebuah kelompok terlalu dekat dengan masyarakat, semua
kelompok harus berada dalam 'kotaknya' masing-masing.

Dan Bakin pun menugaskan Soeripto sebagai Ketua Tim Penanganan Masalah
Khusus Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud pada tahun 1986-2000 dengan misi utama
membentuk jaringan organisasi radikal Islam baru di kalangan remaja masjid
dan gerakan kampus yang berada dibawah binaan dan pengawasan intelejen.
Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai Sosialis
Indonesia (PSI) dengan masuknya ia
dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia
kemudian bergabung oleh Kodam Siliwangi sebagai kader militer Sukarela pada
tahun 1967 dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud. Soeripto kemudian menjadi
kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono dan Wahono), dan
secara struktur dibawah komando Yoga Sugama di Bakin yang waktu itu dipimpin
Sutopo Juwono. Sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staff Bakin dan
Sekretaris Lembaga Studi Strategis/Wanhankam nas dan menjadi utusan khusus
Pemerintah RI untuk normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981. Saat
ini Soeripto memegang jabatan di DPP Partai Keadilan Sejahtera dan menjadi
anggota DPR-RI asal partai ini dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan dengan
nomor urut 1.. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy Aminuddin
putra dari Danu Muhammad Hasan.

Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII sebelum
akhirnya ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan ditahan tanpa
pengadilan di Rumah Tahanan Militer di Cimanggis dan dibebaskan antara tahun
1983-1984. Pada masa itu ada rumus utama untuk menentukan aktivis binaan
intelejen yaitu semua anggota ekstrim kanan yang dipenjarakan dan dibebaskan
antara tahun 1970-1988 atau di masa kekuasaan Ali Moertopo dan L.B Moerdani
dua jendral yang paling anti Islam dan gerakan Islam sudah pasti telah
menjadi suruhan intel untuk menghancurkan gerakan Islam.

Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin yang saat ini menjabat sebagai Ketua
Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berada di bawah binaan Soeripto
lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari mengadopsi ajaran
dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan
Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa pimpinan khwanul Muslimin
cabang Suriah sekitar tahun 1985. Dimana sepulangnya dari sana dan dibawah
dukungan Bakin di bawah komando Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada
antara tahun 1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang
diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul, Al Islam dan
Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi
bacaan wajib para kader inti gerakan.Helmy Aminuddin sendiri kemudian
menjadi Mursyid 'Aam Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991.

Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader
kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran
ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian juga
penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini melalui
media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat murah
padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi.
Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan
SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu kertas
yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan buku-buku terbitan GIP pada masa itu
dijual dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga
terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama
penerbitan buku-buku sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur
buku-buku islam yang lain.

Tujuan utama pembentukan kelompok ini oleh intelejen adalah menghancurkan
dan melumpuhkan semua kelompok dakwah pemuda dan remaja masjid yang tidak
berada dalam kontrol pemerintah lalu menyatukan semuanya dalam satu kelompok
besar yang bisa dikendalikan aparat intelejen.Selain itu juga jama'ah
tarbiyah juga diberi peran untuk memutus mata rantai hubungan
kelompok-kelompok aktivis masjid dengan masyarakat juga dengan ormas islam
lain.

Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan
penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil alihan
khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah tarbiyah seperti mobilisasi
massa, black propaganda, penculikan aktivis, teror dan intimidasi dll
seperti yang pernah terjadi di masjid Salman ITB pada tahun 1994 dimana
kader-kader binaan intelejen yang dikenal dengan julukan "gerobak" singkatan
dari Gerombolan Batak melakukan aksi pengambilalihan kekuasaan dengan
menghalalkan segala cara.


Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian langsung
melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman. Seluruh aktivis yang tidak
mengikuti kelompok mereka disingkirkan. Semua aktivitas dakwah yang
berhubungan dengan masyarakat luas dihentikan demikian juga semua bentuk
hubungan dengan organisasi dakwah lain dibekukan. Aktivitas masjid hanya
diarahkan untuk pembinaan internal demi mencetak sebanyak-banyaknya kader
militan dan radikal di masjid..
Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan
dengan indoktrinisasi.

Semua aktivitas yang melibatkan partisipasi masyarakat luar dihentikan.
Pembinaan pada kalangan luar masjid seperti kalangan remaja akhirnya menjadi
hanya lembar sejarah lama. Hubungan silaturahmi dengan organisasi dakwah
lain yang tidak 'sefikrah' dihentikan total.

Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing bagi
masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian. Isu masalah
jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya menggusur isu mengenai
kenakalan remaja, isu jilbab menjadi agenda yang menjadi prioritas utama
mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.

Dalam hal hubungan dengan organisasi dakwah lain pun sontak mencapai titik
terendah. Kajian jamaah tarbiyah yang disebarkan kepada anggotanya mengenai
kelompok dakwah lain diarahkan untuk memberi citra negatif yang dipenuhi
prasangka dan kecurigaan serta paham kebencian.

Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan aktivis
masjid pun dilumpuhkan total. Dengan dilumpuhkannya kekuatan utama kelompok
dakwah masjid ini maka aktivis dakwah masjid tidak lagi dianggap sebagai
ancaman, maka tindakan represi terhadap kelompok ini pun dilonggarkan.
Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka intelejen pun menghentikan
operasi-operasi pengawasan yang ketat pada mereka. Itulah sebabnya aktivitas
jama'ah tarbiyah tidak pernah mendapat gangguan dari aparat pada masa itu
walaupun mereka menyebar paham radikal. Dengan dikuasainya masjid-masjid
oleh kelompok radikal maka peristiwa pendudukan gedung DPR RI oleh gabungan
massa dari berbagai ormas pemuda dan remaja islam seperti pada waktu
penolakan RUU Perkawinan pun tidak perlu dikuatirkan lagi.

Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal islam
lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk mengawasi dan
mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup memegang kepalanya
saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh. Paham eksklusif kelompok
radikal menjadi penentu sukses penggunaan metode "pecah belah dan kuasai"
kelompok-kelompok Islam
dan memotong 'sayap' mereka sehingga tidak bisa lagi 'terbang' sehingga
aktivis islam bagi pemerintah hanyalah sekelompok unggas saja.

Akan tetapi ada misi lain dari pembentukan kelompok radikal ini oleh
intelejen. Yaitu sebagai media yang akan menyediakan "korban" dalam jumlah
yang cukup besar. Operasi intelejen adalah operasi rahasia yang memerlukan
bukan saja pengorbanan waktu, materi dan pikiran tapi juga nyawa. Para kader
intelejen selalu merupakan kader terbaik di kesatuannya karena operasi
intelejen hanya bisa dirancang dan dilaksanakan oleh personel-personel yang
memiliki bukan saja kualitas teknik terbaik tapi juga bisa bersikap dan
berpikir secara taktis dan strategis. Oleh karena itu terlalu mahal kalau
harus mengorbankan kadernya sendiri. Maka intelejen pun selalu berusaha
merekrut orang-orang di luar kalangannya untuk melakukan "pekerjaan kotor"
mereka juga untuk "mencucikan baju kotor" mereka. Kalangan yang secara
tradisional dimanfaatkan intelejen diantaranya para advonturir dan para
tahanan dengan imbalan dan janji-janji tertentu. Inilah yang dilakukan
sebelumnya pada para tahanan DI/TII yang diberi kebebasan, dana, pelatihan
dan janji (yang seringkali bahkan selalu palsu) untuk mendukung perjuangan
politik mereka.

Akan tetapi cara ini kemudian dianggap terlalu mahal dan "korban" yang
tersedia terlalu sedikit sehingga dalam beberapa tahun saja atau beberapa
kali operasi, orang yang dikorbankan menjadi tidak cukup. Dan berdasarkan
pengalaman dalam sejumlah operasi intelejen dan kontra intelejen ke tubuh
kelompok Islam maka ditemukan sesuatu hal yang menarik yaitu betapa bodohnya
orang fanatik.

Dan orang fanatik pun menjadi korban yang paling sempurna untuk sebuah
operasi intelejen. Para advonturir rata-rata selalu mencari keuntungan dalam
menjalankan tugas dan mereka lebih dibutuhkan agar tetap hidup sebagai
boneka atau tameng, sementara para mantan tahanan politik seringkali kadang
bertindak diluar kontrol karena memiliki agenda tersendiri.

Syarat utama seorang pelaksana tugas lapangan intelejen adalah pertama
mereka harus tau sesedikit mungkin bahkan lebih baik tidak tau sama sekali,
yang kedua mereka bisa bahkan secara sukarela mau untuk dikorbankan nyawanya
tanpa imbalan apapun. Karena bila ada sesuatu yang terjadi maka pihak
intelejen bisa mencuci tangan dan sekaligus memiliki kambing hitam, bahkan
seringkali dibutuhkan orang atau kelompok yang perlu dikorbankan nyawanya
untuk menaikkan citra. Dan kaum fanatik menjadi kandidat paling sempurna.
Mereka tidak dianggap terlalu berharga, terlalu bodoh dan tidak terlalu
banyak bertanya, dan selalu rela mengorbankan diri dan nyawanya demi tujuan
suci kelompoknya (yang bisa dengan mudah dibelokkan intelejen).

Atas alasan inilah pihak intelejen memfasilitasi dan mensponsori pembentukan
kelompok radikal Islam ini dengan memafaatkan para mantan tahanan DI/TII
yang merasa mereka memanfaatkan intelejen untuk mendukung cita-cita mereka.
Para anggota level bawah kelompok radikal Islam ini dibuat untuk tidak
banyak tau bahkan tidak tau apa-apa tentang apa dan bagaimana keadaan di
atas mereka. Sampai artikel ini dibuat saya berani jamin hanya sangat
sedikit anggota jama'ah tarbiyah bahkan yang sudah belasan tahun bergabung
sekalipun yang tau bahwa Helmy Aminuddin adalah mursyid 'aam gerakan mereka
dari tahun 1991-1998, apalagi untuk tau latar belakangnya.

Ketika seseorang telah didoktrin oleh jama'ah tarbiyah maka dengan serta
merta ia pun kehilangan daya nalar dan pola pikir kritisnya. Yang ia tau
hanya bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginan kelompoknya dan berusaha
mengapai tujuan kelompok dengan semua cara. Dan yang lebih menarik lagi
adalah operasi cuci otak ini bisa dilakukan secara massal dan cepat dengan
hasil yang maksimal.

Sehingga tidak heran kelompok radikal Islam Indonesia akhirnya memiliki ciri
khas yang lain dari kelompok radikal islam di negara-negara lain terutama
dalam hal hubungan mereka dengan militer dan intelejen. Kelompok-kelompok
radikal islam timur tengah misalnya selalu berada dalam posisi vis a vis
dengan militer dan intelejen. Sementara kelompok radikal Islam Indonesia
justru sebaliknya, mereka justru bermesraan dengan militer dan intelejen.

Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS sebuah
partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan kecenderungan pemihakan pada
kandidat presiden dari militer memperlihatkan dengan jelas siapa sebenarnya
mereka. Tapi sungguh disayangkan para pion ini tidak pernah sadar bahwa
dirinya cuma pion..



------------ --------- --------- --------- --------- --------- ---------
--------- --------- ---------

* Penulis adalah mantan Sekretaris II Badan Komunikasi Pemuda
Remaja Masjid Indonesia Wilayah Jawa Barat (2000-2003) dan
moderator mailing list wanita-muslimah@ yahoogroups.
com<http://mc/[email protected]>

http://arifullah-ibn-rusyd.blogspot.com
021-98054913

Kirim email ke