mungkin ada yang tertarik. maaf kaalou dobel.

--- On Tue, 5/19/09, suparno sutrisno <[email protected]> wrote:

From: suparno sutrisno <[email protected]>
Subject: [forum-interaktif-kabarindonesia] "Orang Syiah lupa Al Kafi"
To: [email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Date: Tuesday, May 19, 2009, 2:54 AM











    
            
            


      
      Kitab al Kafi adalah kitab rujukan termashur dikalangan syiah

imamiyah. Kitab hadis karya syekh Kulaini memang dikenal juga sebagai

satu rangkaian dengan kitab rujukan yang lain yang tergabung dalam

Kutub Arba'ah tapi dibanding ketiga kitab rujukan yang lain kitab yang

disusun kurang lebih selama 20 tahun di desa Kulain di daerah Rey ini

memiliki kelebihan spesifik.



Sebelumnya perlu disampaikan juga bahwa ulama syiah tidak pernah

sekalipun mengatakan bahwa kitab hadist dan riwayatnya rujukan orang

syiah seratus persen tidak terdapat riwayat buatan yang disusupkan dan

semacamnya. Dalam ilmu rijal para ulama syiah tidak berhenti mengkaji

hadis dan riwayat dalam kitab rujukan yang ada. Memang ada segolongan

pecahan shi'ah yang dikenal dengan khabariah yang meyakini bahwa kitab

arba'ah yang terdiri atas kitab Al Kafi. At Tahdzib, Al Ihtibshar dan

Man Layahdharul Faqih adalah seratus persen shahih. Golongan ini

selain dulu jumlahnya sangat sedikit sekarang sudah tidak ada lagi

pengikutnya.



Kondisi keilmuan dan idiologi masyarakat Rey waktu itu begitu majemuk.

Hali terlihat dari beberapa tulisan syekh Kulaini untuk menjawab

berbagai pertanyaan dari golongan bermacam-macam. Pembuatan buku ini

dilakukan ditengah-tengah masyarakat dengan ragam pemikirannya menjadi

alasan akan keunggulan keilmuan penulis. Letak daerah kulain yang jauh

dari pusat pemerintahan juga menjadi pendukung sehingga Syekh kulaini

lebih bebas untuk berkarya.



Kelebihan al Kafi dari tiga kitab yang lain diantaranya:



1. Riwayat yang terdapat dalam Kitab ini tersusun rapi sesuai kuat,

jelas dan lemahnya riwayat baik dari segi sanad maupun segi yang lain.



2. Riwayat yang terdapat didalamnya dinuqil hanya dari tiga orang

langsung ke sumbernya. Jadi keaslian hadist semakin lebih dapat

dipercaya mengingat jarak yang masih begitu dekat.



3. Memiliki judul-judul yang pendek dan menunjukkan kandungan yang

terdapat pada masing-masing riwayat.



4. Riwayat yang ada ditulis apa adanya tanpa menambahkan

penjelasan-penjelas an tertentu didalamnya. Hal ini cukup membantu

mencegah adanya tasbih antara penjelasan dengan riwayat asli.



5. Semua sanad dari masing-masing hadist dan riwayat disebutkan

detail. Hal ini menjadi poin lain yang membedakan Al Kafi dengan tiga

kitab yang lain.



6. Riwayat yang dinuqil adalah riwayat yang bisa menjadi bab

tersendiri dan disitu juga dihindari penukilan hadist yang saling

bertentangan.



7. Riwayat diletakkan sesuai masing-masing bab.



8. Penyusunan riwayat rapi dan logis serta detail. Dari pembahasan

Aqal, kejahilan, ilmu baru kemudian pada pembahasan tauhid. Pembahasan

tentang ilmu ma'rifat juga diletakkan diawal pembahasan. Setelah itu

dilanjutkan dengan pembahasan tauhid sampai pada pembahasan imamah.

Untuk masalah akhlak diteruskan dengan pembahasan furu' dan masalah

hukum fikih. Pada ahir pembahasan terdapat riwayat dengan tema umum.



9. Pengelompokan pembahasan fikih, aqidah, dan ahlak menjadi nilai

lebih dibanding tiga kitab arba'ah yang lain.



10. Penulis masih sempat hidup dijaman 4 wakil Imam zaman dan juga di

jaman Imam Hasan al Askari. Kedekatan ini menjadi nilai positif atas

karya-karya besarnya.



Mengingat pentingnya kitab ini pada bulan Mei 2009 diadakan pertemuan

guna mengumpulkan artikel-artikel yang membahas tentang kitab rujukan

terpenting orang syiah ini. Salah satu poin penting adalah bahwa

pengkaji yang datang dari berbagai penjuru dunia itu sebagian bukan

orang islam. Sebuah keprihatinan ketika didapati adanya masyarakat

syiah yang menyebutkan nama kitab araba'ah saja tidak bisa. Jangankan

kitab arba'ah, nahjul balaghah dan shahifah sajadiyah saja masih asing

untuk beberapa kalangan. Di Hauzah Ilmiah Qum pembahasan masalah

nahjul balaghah  shahifah sajadiah dan berbagai ilmu hadis dan Qur'an

masih minim. Penelitian terkait kitab rujukan syiah juga kurang begitu

diminati. Kebanyakan masih cenderung pada ilmu fikih dan

cabang-cabangnya.



Budaya membaca terjemah Al Qur'an, shahifah sajadiah, nahjul balaghah

ketika digalakkan akan sangat bermanfaat. Karena dengan begitu akan

dipahami pelajaran-pelajaran yang tersimpan darinya. Kitab mafatihul

jinan dan kitab doa yang lain tidak hanya sebuah doa untuk dibaca tapi

banyak pelajaran yang bisa dipelajari. Muatan keilmuan dari masalah

kemasyarakatan, politik ekonomi sering disinggung didalamnya. Jadi

jangan sampai orang syiah asing dengan kitabnya.


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke