ketika air laut menguap dan menjadi awan serta butir-butir air, tetes demi tetes yang kita sesap tak ada rasa asinnya, tawar. tahukah maksudku, tanya sang bapak. begini, lebih baik jalan kaki daripada naik kuda; dan lebih baik naik kuda daripada mobil; dan lebih baik naik mobil daripada pesawat, tandas sang bapak di sebuah bukit pada musim dingin dan salju bertebaran di luar kota beograd, ketika mereka istirahah sambil menyeruput teh yang mereka bikin. aku teringat masa kecilku, dan betapa perkasanya, lanjut sang bapak, kakekmu. dia mengajak aku ke rumah ibrahim dengan naik keledai, dan oooo, betapa indaahnya lembah dalam sapuan kabut terbentang dan kami memandang dari atas bebukitan. dan tolong ingatkan aku, nanti kita berhenti di atas bukit itu. hampir 50-an tahun kenangan itu menggayut, dan sang bapak yang memiliki isteri dan empat anak, imigran maroko yang sudah tinggal di perancis selama 30-an tahun, kini dalam perjalanan ke mekah melintasi italia, slovania, kroatia, yugoslavia, turki, yordania, siria, dan mereka mengendarai mobil setengah tua, seperti sang bapak yang suka batuk, sering kena demam namun tak pernah luput dari sholad, keyakinan yang dijalninya tanpa kompromi, seperti dia memberikan sadakah; sebagaimana dia menyerahkan seluruh dirinya kepada jalan keyakinannya. dan di sana, sang bapak bersemayam. film garapan ismael ferroukhi dengan tajuk LE GRAND VOYAGE terasa bersifat biografis, personal, dan sangat kuat dalam percakapan, dengan angel kamera yang sederhana, dan dipenuhi oleh konflik, kesalahpahaman serta humor yang cerdas, yang menurut saya film ini bukan hanya layak, tapi perlu ditonton.
