>
>
>
>
> >
>KRONOLOGIS AKSI DEMO MAHASISWA UNTIRTA TERHADAP KASUS PLAGIARISME
>
>Pemberitaan media massa tentang kasus
>plagiat yang dilakukan oleh guru besar kami Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat,
>membuat kami para mahasiswa UNTIRTA yang CINTA KEJUJURAN dan PEDULI KAMPUS
>merasa
>terkhianati dan dibohongi. Oleh karena itu kami para Mahasiswa UNTIRTA
>melakukan berbagai rencana dan pengkajian terhadap artikel guru besar kami.
>
>Beberapa malam tepatnya dua malam
>sebelum melakukan gerakan aksi demo tersebut, sudah menemukan data-data valid
>tentang artikel yang diplagiat oleh Sholeh Hidayat. Dan kami melakukan kajian
>analisis paragraph per paragraph membedah artikel tersebut. Dan Malam itu,
>Kamis (18/2) jam 18.00 s/d 21.00 melakukan rapat pertemuan dan sudah siap untuk
>turun kejalan dengan membuat petisi atau surat
>tuntutan kami terhadap guru besar UNTIRTA yang melakukan plagiat, untuk
>disampaikan ke Senat dan komisi etika kampus.
>
>Malam itu, teman-teman sudah
>mempersiapkan berbagai macam yang bersangkutan tentang akis kami besok pagi.
>Dan menurut salah seorang teman kami, yang mengkaji data dan mengkonfirmasikan
>ke mahasiswa hukum. Ternyata, kasus plagiat ini termasuk kedalam tindak
>kebohongan publik dengan berbagai persoalan lain yang masih menyangkut dengan
>Sholeh Hidaya serta beberap stafnya di LPPM UNTIRTA, maka kami sepakat untuk
>aksi bersama-sama besok menuntut hal itu. Tetapi, ketika malam berganti pagi
>dan kami dari para mahasiswa yang hendak turun aksi, mendapati teman-teman
>mahasiswa dari beberap jurusan bahkan fakultas yang mau ikut gabung berkurang.
>Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat kami para mahasiswa Cinta Kejujuran
>dan Peduli Kampus UNTIRTA. Meski hanya ada sekitar 20-25 orang, kami tetap
>melakukan aksi tersebut.
>
>Sekitar pukul 10.20 WIB, kami
>aksi di depan rektorat dengan melakukan orasi-orasi yang mengumandangkan
>kebohongan palsu, pengkhianatan dan kebodohan public yang mencontreng nama baik
>kampus UNTIRTA terhadap artikel Sholeh Hidayat. Di aksi demo tersebut kami
>dilayani langsung oleh Pembantu Rektor Satu, bapak Sadeli Hanafi, dan beberap
>staf rekotorat lainnya. Kami membacakan tuntutan kami, dan menolak keras
>plagiarisme yang dilakukan oleh guru besar kami. Sebab, hal itu sama halnya
>memberikan stigma buruk terhadap kampus UNTIRTA dan khususnya mahasiswa Cinta
>Kejujuran
>dan Peduli kampus UNTIRTA.
>
>Inilah tuntutan kami:
> 1. mendesak senat Untirta untuk segera menindak tegas
> Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., yang telah melakukan plagiasi
> (jiplakan)
> 2. mendesak senat Untirta untuk mengeluarkan putusan
> tentang pencopotan gelar Profesor, Sholeh Hidayat.
> 3. mendesak Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., untuk
> mengakui tindakan plagiasi yang dilakukannya dan meminta maaf kepada
> seluruh sivitas akademika kampus UNTIRTA, dan masyarakat Indonesia .
> 4. seluruh sivitas akademika UNTIRTA harus menjunjung
> tinggi nilai-nilai kejujuran.
>Dari empat tuntuntan tersebut
>ditanggapi langsung oleh PR 1, dan katanya tuntutan nomor dua bukan wewenang
>Senat UNTIRTA, karena penyematan gelar Profesor itu atas kewenangan Mendiknas.
>Dan kami menerima itu, tapi kami meminta agar Senat UNTIRTA melakukan tindakan
>atau keputusan atas tindak plagiasi yang dilakukan oleh Prf. Dr. H. Sholeh
>Hidayat, M.Pd., dan kami juga meminta Senat UNTIRTA menggelar sidang terhadap
>Sholeh Hidayat dengan menghadirkan para penulis yang tulisannya di jiplak, para
>Senat UNTIRTA, pakar Linguistik, dan para media massa. Setelah itu, surat
>pernyataan atau
>tuntutan kami ditandatangani oleh PR 1 dengan harapan kasus plagiasi itu cepat
>diproses dan menginformasikan keputusannya, di tunggu paling lambat 4 x24 jam.
>
>Setelah demo di depar gedung
>rektorta dan dilayani langsung oleh PR 1 dan para staf nya. Kami pindah aksi
>deo di depan gedung LPPM, dengan harapan pak Sholeh Hidayat mengakui tulisannya
>tersebut memang plagiat. Namun, beberapa menit kemudian, kami para aksi demo
>disuruh masuk kedalam mendiskusikan hal kasus tersebut.
>
>Di dalam ruangan gedung LPPM
>sudah hadir Sholeh Hidayat (ketua LPPM sekaligus orang yang melakukan
>plagiasi), Hidayatullah Haila, (sekretaris LPPM), Budi ( alumni UNTIRTA dan
>dosen Teknik yang mendampingi kedua orang tua tersebut) dan para staf LPPM
>lainnya yang berdiri, duduk menyaksikan peristiwa tersebut. Dari kami mahasiswa
>Cinta Kejujuran dan Peduli UNTIRTA, Ihya (selaku korlap dan presma UNTIRTA),
>Nidu (perwakilan BELISTRA) dan Wahyu (perwakilan mahasiswa) serta mahasiswa
>lainnya yang menyimak diskusi/pembicaran tersebut.
>
>Dalam pembicaran tersebut, kami
>meminta pak Sholeh Hidayat mengakui tulisannya tersebut memang plagiat, dengan
>apa yang sudah kami analisis dan konfirmasi ke media yang bersangkutan. Akan
>tetapi, lagi-lagi Profesor tersebut tidak mengakui kesalahannya, bahkan ia
>mencak-mencak menyebutkan jasa-jasanya di UNTIRTA, awal pertama kali di duduk
>di UNTIRTA, dan berbagai macam lainnya, dengan dibantu sekretaris dan dosen
>teknik tersebut.
>
>Perdebatan tersebut berkahir
>menjelang beberapa menit sholat Jumat. Dan kami para mahasiswa undur diri untuk
>bubar dengan kesimpulan bahwa pak Sholeh Hidayat tidak mengakui bahwa dia
>melakukan kesalahan. Sholat Jumat selesai dan kami para mahasiswa melakukan
>aktvitasnya masing-masing. Namun, yang membuat kami tercengang adalah, ketika
>salah satu mahasiswa bahkan sebagian mahasiswa yang awalnya akan ikut gabung
>aksi dan tidak itu aksi, berdasarkan informasi mendapat anacaman yang tidak
>mengenakan dari pihak LPPM mengenai kasus plagiasi Sholeh Hidayat ini. Dan
>tidak tanggung-tanggung, ancamannya adalah ancaman pembunuhan.
>
>Saya, dan teman-teman mahasiswa
>Diksatrasia yang tergabung dalam mahasiswa Cinta Kejujuran dan Peduli UNTIRTA
>merasa terkejut. Dari hal itu saya atau kami memahami hal itu sambil
>membincangkan kembali kasus tersebut.
>
>Menjelang malam, tepatnya sebelum
>adzan magrib berkumndang. Saya dan teman saya Nita mendatangi PKM BEM UNTIRTA
>untuk menyelamatkan data-data dan arsip Koran yang masih berhubungan dengan
>kasus plagiasi tersebut. Tanpa di sangka-sangka empat orang dari pihak LPPM
>dating ke PKM BEM UT menanyakan tentang aksi demo tadi dan
>menanyakan siapa Korlapnya. Begini kalau mau jelasnya:
>
>“Assalamualaikum.” Dua laki-laki
>itu masuk ke ruang BEM ketika kami sedang membereskan Koran.
>
>“ Ada ketua BEM-nya?”
>
>“Nggak ada pak. Emang ada apa
>ya?” kata teman saya Nita.
>
>“Nggak, Cuma mau ngomong aja.
>Korlap yang tadi demo siapa ya?” Tanya laki-laki itu dengan nada tak
>bersahabat.
>
>“Iya, emang ada apa pak? Korlapnya
>ketua Presma.” teman saya Nita.
>
>“Bapak dari mana?”
>
>“Kami dari LPPM.” Dua laki-laki
>itu masuk sambil melihat-lihat isi ruangan dengan wajah masam.
>
>Saya dan teman saya agak sedikit
>curiga mencoba untuk tenang.
>
>“Tadi, ikut aksi tidak.”
>
>“Iya, ikut. Emang ada apa?”
>
>“Kami mau ngomong nih.”
>
>“Wah, kalau mau ngomong enaknya
>harus ada ketuanya deh…”
>
>“Iya, kami mau ngomong masalah
>demo tadi.”
>
>“Emang tujuan demo tadi apa?”
>
>“Wah, pak. Kalau ngomong sekarang
>nggak enak kalau tidak ada teman-teman yang lainya. Enaknya banyak saja pak.”
>
>“Iya, tahu nomor presma tidak?”
>
>Teman saya Nita meminta kepada
>teman yang lain yang sedang main laptop sedang saya berdiri mengamati dua
>lelaki yang masuk di ruang BEM tersebut.
>
>“Ini pak nomornya.”
>“Ketua Presmanya sedang ke
>Pandeglang.” Kata saya. “Tapi nggak tahu pulangnya kapan.”
>
>Kumandang adzan magrib pun
>terdengar. Saya dan teman saya hendak pulang, dan dua dari empat laki-laki itu
>masih berjaga di luar ruangan. Masih menanyakan hal yang sama tentang demo aksi
>tadi.
>
>Dan kami buru-buru pulang, tapi
>mereka menitipkan pesan bahwa dua dari empat laki-laki itu, “tolong sampaikan
>salam dari Leo dan Eidi.”
>
>Kami buru-buru pulang dan
>menghubungi teman-teman yang ada diluar supaya tidak dating ke kampus karena
>akan disantroni oleh pihak LPPM yang sepertinya beritikad tidak baik.
>
>
>wasalam
>
>
>Muhden
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
________________________________
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!