ABS (Asal Bapak Senang)



Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD


One-day Assessment Centre


Ditayangkan di KOMPAS, 18 Juli 2009


Saya terpana ketika seorang pimpinan perusahaan mengatakan bahwa salah
satu kriteria utama yang ia cari saat akan mempromosi seorang
eksekutif adalah orang yang pintar membuat dirinya 'senang'. Padahal,
kita tahu betapa kita 'alergi' terhadap sikap-sikap tidak terpuji yang
diperlihatkan seorang karyawan seputar 'menyenangkan atasan' , cari
muka atau 'apple polishing' itu. Konotasi negatif ini muncul karena
membuat atasan senang, banyak dikaitkan dengan kegiatan berpolitik
yang justru membuat atasan pada akhirnya tidak berkinerja secara
realistis.

Jika dipikirkan lebih jauh, kehadiran bawahan di dalam tim memang
sebetulnya adalah untuk memudahkan hidup atasannya, bukan? Atasan
tentu saja lebih suka dengan bawahan yang membawa solusi daripada
bawahan yang sedikit-sedikit datang membawa masalah. Tidak salah bila
atasan lebih memilih bawahan yang aktif memberi suport daripada
bawahan yang sibuk mengkritisi dan cuma bersikap jadi pengamat. Kita
sadar bahwa atasan memang bergantung pada bawahan, dan bawahan yang
suportiflah yang akan membuat tim yang dipimpin seorang atasan bisa
berproduksi dengan optimal.

Kita sering, bahkan hampir selalu, tidak bisa memilih atasan.
Beruntunglah kalau kita mendapatkan atasan yang baik hati, jago
mengembangkan bawahan bahkan menjadi 'coach' bagi kita. Sebaliknya,
kalau tidak beruntung, kita bisa mendapatkan atasan yang bisa membuat
hidup kita tidak leluasa, menuntut tanpa mengembangkan dan tidak
memberi kesempatan untuk maju. Masalahnya, apakah kita mau terjebak
dalam paradigma mengharap atasan menentukan nasib kita? Bukankah hidup
kita bisa lebih nyaman bila berada di posisi aktif, responsif,
bertujuan, dan siap memberi dukungan 'all out' bagi atasan dan
organisasi?

No "Yes-man"

Dalam pemikiran masyarakat, membuat atasan senang dikonotasikan dengan
sikap 'Yes-Man'. Apapun yang dikatakan atau diinginkan atasan, harus
di-iya-kan, alias "kumaha juragan wae" . Tentu saja, sikap seperti ini
sudah sangat basi jika masih dilakukan di jaman serba dinamis dan
kompetitif seperti sekarang. Atasan perlu menyadari bahwa dia bisa
kehilangan banyak informasi penting untuk mengambil keputusan yang
tepat, bila dikelilingi bawahan dengan sikap mendukung yang 'semu'.
Bawahan yang melulu bersikap 'Yes-man' juga lambat laun akan
kehilangan kredibilitas dirinya.

Seorang teman saya, malahan sangat senang memilih bawahan yang menurut
persepsinya 'bisa melawan'. Dalam kacamatanya, ia butuh 'sparing
partner' dan orang yang mempunyai persepsi berbeda, sehingga bisa
melengkapi keputusan keputusannya. Jelas hidup si atasan justru
dipermudah dengan adanya pendapat, masukan dan koreksi dari
bawahannya. Dengan mencurahkan pikiran terhadap 'concern' atasan,
seorang bawahan bisa memperoleh kredibilitas lebih, melalui perdebatan
dan perbedaan pendapat yang didasari analisa yang lebih mendalam.

Tidak Selamanya 'Problem Solving'

Persepsi kita bahwa lingkup kerja atasan  adalah menghadapi hal-hal
sulit sering membawa kita pada pendapat bahwa ia tidak perlu dibantu
untuk tugas-tugas yang 'tidak bermasalah'. Mendukung atasan sebetulnya
banyak mengacu pada mengerjakan pekerjaan yang tidak diperhatikan
orang, tidak menjadi fokusnya, rutin namun krusial. Kita tidak selalu
perlu menyenangkan atasan dengan beramai-ramai mengeroyok tugas-tugas
yang menjadi fokus dan prioritasnya, justru karena perhatiannya sudah
tumpah ke sana. Seorang ahli manajemen mengatakan tentang dukungan
atasan :" "if you don't want a no, give him/her a hand. "

Kita lihat, betapa capres dan cawapres tidak terpilih sebetulnya bisa
menjadi kekuatan yang sakti bagi presiden terpilih, bila masing-masing
mendekat, mengkontribusikan pemikiran, keahlian, tenaga dan
profesionalisme mereka serta menyatakan dukungannya. Sepertinya,
akuntabilitas mendukung atasan ini dipandang orang bukan sebagai
kegiatan menyenangkan atasan. Sejauh ini, bawahan lebih bersikap
sekedar mengambil tanggung jawab  dan men-'deliver' hasil sesuai yang
ditargetkan. Dari sini terlihat, bahwa kita sering melupakan bahwa
memberi dukungan pada atasan adalah ketrampilan penting yang perlu
dikembangkan seperti halnya ketrampilan lainnya.

Pikirkan Anda Berada di Posisi Atasan

Dalam banyak situasi saya menyaksikan ketidakpuasan terhadap atasan
disikapi dengan menjauhinya, berbicara di belakang, mencemooh dan pada
akhirnya, tidak melakukan apa yang diharapkannya. Pernah saya bertanya
pada seorang bawahan dari atasan yang kurang populer: "Apakah pernah
terpikir untuk menggantikan posisinya?". "Apakah pernah terpikir
bagaimana rasanya menjadi atasan bersangkutan?" Dengan tidak
memikirkan bahwa kitalah suatu saat nanti yang akan menjabat sebagai
atasan, kita memang bisa kehilangan 'kedekatan' dengan posisi tersebut
dan secara otomatis kita jadi seperti alergi terhadap individu yang
berada di posisi itu.

Para 'new agers' sering berslogan "Visualize yourself as you want to
be and you'll find yourself moving closer to your goal.". Ber- 'mind
set' 'jika saya jadi..."adalah hal positif yang akan meyakinkan kita
untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi tantangan, berani meraup
lebih banyak tanggung jawab dan "walk the extra mile" dan mulai untuk
berperan sebagai bawahan yang professional dan lebih suportif.



EXPERD CONSULTANT | Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2 | Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310 |
Telp. 021-7590 6448 | Fax.  021-7590 6442

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke