KEKUATAN KOMUNITAS

Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
One-day Assessment Centre

Ditanyangkan di KOMPAS, 25 Juli 2009

Seorang pimpinan bank mengeluhkan sulitnya menggerakkan anak buahnya
untuk terlibat secara 'all out' dalam program peningkatan servis dan
efisiensi di cabangnya. "Kenaikan target dan berbagai kegiatan yang
diadakan atau diusulkan, ditanggapi dengan dingin, bahkan dikomentari
sinis. Enerji yang dikerahkan lebih banyak digunakan untuk membela
diri, menyalahkan orang lain bahkan berkelompok dan saling
bermusuhan."

Dengan ancaman krisis yang kita hadapi sekarang, ada perusahaan atau
organisasi yang terasa sekali bahu membahu satu sama lain memperkuat
perusahaan. Namun, ada juga organisasi yang individunya malah
kehilangan 'sense of belonging', bahkan main sikut antar karyawan.
Gerakan 'short term management' yang melahirkan strategi downsizing,
outsourcing dan program pemangkasan biaya sumber daya manusia, tak
pelak membuat perusahaan seringkali harus membayar mahal akibatnya,
dengan menerima kenyataan bahwa perusahaan tidak lagi menjadi 'place
of engagement' yang nyaman. Komitmen individu begitu rapuh atau tumbuh
hanya sekedarnya saja.

Kita lihat, ternyata "depresiasi" tidak selalu berkenaan dengan
hal-hal finansial, tapi juga bisa terjadi pada rasa kebersamaan.
Padahal, sebagai makhluk sosial, proses sosial dan ikatan kekuatan
dalam kelompok adalah hal yang sangat penting. Menurunnya spirit
komunitas ini, sebetulnya adalah kegagalan manajemen yang cukup
monumental, tapi sering kali tidak terasa. Dalam kondisi seperti ini,
masihkah seorang pemimpin mampu membangkitkan semangat dan mendapatkan
dukungan dari anggota kelompoknya?

Komunitas itu Sakti!

Kita bisa amati bagaimana ensiklopedia Web Wikipedia, serta
berkembangnya system operasi komputer Linux, mengandalkan komunitas
terbuka. Siapa saja boleh berpartisipasi, tidak banyak batasan untuk
bergabung, memberi masukan, menyuarakan pendapat dalam komunitas
tersebut. Hasilnya, kumpulan pikiran, perasaan dan tindakan ini
bagaikan bola salju yang berkembang dan menyebar pesat secara positif.
Manfaatnya langsung bisa dirasakan banyak orang. Kita juga tahu betapa
kesaktian komunitas sudah dinikmati Barack Obama, yang tadinya bukan
siapa-siapa, namun karena dukungan komunitas teman, jaringan facebook,
lalu bisa memanfaatkan energi luarbiasa.

IBM juga dimotori oleh komunitas informal ketika memasuki dunia
'e-business'. Seorang programmer yang sangat antusias, mengumpulkan
rekan-rekan yang sama-sama meyakini kesempatan ini. Mereka memulai
kegiatannya tanpa budget sama sekali. Lou Gerstner, CEO yang
mengetahui adanya  buah pikiran komunitas ini, segera memberi
dukungan, dan akhirnya, IBM menikmati bisnisnya.

Komunitas juga sering berkembang tanpa disengaja. Sebut saja,
komunitas makan siang, pulang bersama, atau kegiatan agama yang karena
secara rutin berkomunikasi lalu membangkitkan kesamaan rasa secara
sosial. Dalam banyak situasi, komunitas dalam perusahaan punya
kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan pemimpinnya sendiri. Dalam
buku terbarunya: "Community: The Structure of Belonging", pakar
konseling Peter Block, mengatakan bahwa perubahan akan dengan mudah
terjadi bila kelompok manusia di dalam sebuah organisasi, lembaga
bahkan pemerintah menyadari dan menemukan kekuatannya sendiri,
sehingga tidak ada sikap menunggu gebrakan dari pemimpin atau top
manajemen, yang kadang tidak dapat menguasai emosi atau mendapatkan
kepercayaan komunitas sepenuhnya.

"Care": Landasan Komunitas

Kita tentunya sangat familiar dengan berbagai komunitas, seperti
komunitas jantung sehat, makanan organic atau bike to work. Jarang
sekali, kita menangkap kesan negatif pada komunitas ini. Komunitas
selalu mempunyai greget yang positif, kepedulian, respek dan 'care',
sehingga mempunyai kekuatan inspiratif yang kuat.

Merangsang individualisme, mengadu domba, merangsang kompetisi di
dalam perusahaan memang bisa berguna untuk pendorong prestasi. Namun
sebaliknya, kita juga perlu memanfaatkan emosi sosial yang beredar di
sebuah organisasi. Toyota, bahkan Pixar, dengan slogannya "make the
community a magnet for talented people" jelas-jelas menghidupkan
"sense of belonging" terhadap perusahaan melalui komunitas yang
"mengikat" individu didalamnya, layaknya sebuah 'keluarga'.

Visi yang Luhur: Memperkuat Organisasi

Semua orang sadar bahwa mencetak keuntungan adalah sasaran utama
perusahaan. Bagi karyawan, cara mencari untung dan kualitas dalam
menjalankan usahalah yang sesungguhnya bisa menumbuhkan semangat
kebersamaan dan komitmen yang tidak ada matinya. Secara sederhana ,
dalam sebuah perusahaan nasional klien saya, rasa 'nasionalisme',
cinta Indonesia  digaungkan di kalangan insinyur insiyur muda yang
perlu berhadapan dengan klien yang kebanyakan lebih senior dan
berkebangsaan lain. Misi dan budaya yang luhur seperti inilah yang
membuat karyawan seolah siap 'berjuang' bersama perusahaan.
Sebaliknya, tanpa visi yang menarik, perusahaan bisa jadi hanya
bergerak bagaikan manusia tanpa kepribadian, seperti tulang dan daging
tanpa nyawa dan jiwa.

"Sense of community" biasanya memang berakar di tengah-tengah
organisasi. Adanya "sense of community" ini biasanya menjadikan
karyawan lebih aktif secara sosial, bertanggung jawab dan siap
menguatkan organisasi. Bila pemimpin bisa menangkap dan memanfaatkan
kekuatan sosial ini, tantangan untuk menggerakkan dan mengarahkan
kelompok tentu bisa jadi lebih mudah. Inilah sebabnya, pengembangan
'sense of community' tidak bisa diabaikan dan perlu dilakukan sejalan
dengan pengembangan kepemimpinan.

EXPERD CONSULTANT | Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2 | Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310 |
Telp. 021-7590 6448 | Fax.  021-7590 6442

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke