5 KIAT PRAKTIS MENGATASI PERSOALAN HIDUP
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah apa
yang disebut masalah atau persoalan hidup. Dimanapun, kapanpun, apapun dan
dengan siapapun, semuanya berpeluang memiliki potensi masalah. Namun andaikata
kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap
orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada
pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah
menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada
persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu
siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia
adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya
dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan
kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan,
cita-cita dan tanggung jawab.
Ada lima hal yang dapat kita lakukan ketika dihadapkan pada aneka
persoalan hidup ini. Diantaranya adalah:
1. Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap
menghadapi yang tidak cocok dengan yang diinginkan.
Kita memang diharuskan memiliki keinginan, cita-cita, rencana yang
benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih
berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal
kemampuan yang Allah SWT berikan kepada kita. Namun bersamaan dengan itu
kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak
keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar
dan kemampuan kita.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah SWT pun punya rencana, dan yang
pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah SWT.
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap
pula kalau tidak jadi nikah, karena melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik
seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orangtuanya.
Saat mencari pekerjaan, carilah pekerjaan dengan penuh kesungguhan,
namun hati harus siap andaikata Allah SWT, tidak mengijinkan karena Allah SWT,
tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat
bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat
bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung terbaik menurut
perhitungan Allah SWT. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.
2. Ridho
Siap menghadapi apapun yang akan terjadi dan bila terjadi maka
satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar
ridho/rela dengan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun
dongkol, uring-uringan, kecewa berat tetap saja kenyataan sudah terjadi. Pendek
kata ridho tidak ridho kejadian tetap sudah terjadi, maka lebih baik hati kita
ridho saja menerimanya.
Tentu saja ridho/rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah
total sehingga tidak bertindak apapun, itu adalah pengertian yang keliru.
Pasrah/ridho itu hanya amalan hati kita menerima kenyataan yang ada, tapi hati
dan tubuh kita ikhtiar memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhoi Allah
SWT dan kondisi hati yang tenang/ridho ini sangat membantu menjadikan proses
ikhtiar menjadi positip, optimal dan bermutu.
Orang yang stres adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental menerima
kenyataan yang ada, selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan
kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai-andai dengan sesuatu yang tidak
mungkin terjadi, sungguh kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak
monoton, ini adalah kenyataan hidup, silahkan kenangn perjalanan hidup kita
yang telah lalu benar-benar kita harus arif menyikapi setiap episode dengan
lapang dada, kepala dingin dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan
keluh kesah, semua ini tidak menyelesaiikan masalah, bahkan bisa jadi
sebaliknya; menambah masalah.
3. Jangan Mempersulit Diri
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi
mengarang, mendramatisir dan mempersulit diri, sebagian besar penderitaan kita
adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri, selain tidak pada
tempatnya, juga pasti membuat masalah akan menjadi besar, lebih seram, lebih
dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya dan
tentu ujungnya akan terasa jauh lebih nelangsa, lebih repot dalam
menghadapinya/menyelesaikannya.
Orang yang menghadapi masa pensiun terkadang jauh sebelumnya sudah
sengsara terbayang gaji yang kecil, pasti tidak akan mencukupi kebutuhan
padahal saat ini saja sudah pas-pasan, ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang
kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah belum
lunas, utang belum terbayar, belum lagi andaikata sakit, tak ada anggaran
pengobatan, umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita
buat, maka semakin panik menghadapi pensiun, tentu saja sangat boleh kita
memperkirakan kenyataan yang akan terjadi namun harus terkendali dengan baik
jangan sampai perkiraan itu membuat putus asa dan sengsara sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun yang ternyata tidak segawat
yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbagahagia daripada
sebleumnya, apakah Allah SWT, Yang Maha Kaya akan menjadi kikir terhadap para
pensiunan atau terhadap kakek dan nenek-nenek padahal pensiun hanyalah salah
satu episode hidup yang harus dijalani yang tidak mempengaruhi janji dan kasih
sayang Allah SWT.
Maka dalam menghadapi persoalan apapun, jangan hanyut dan tenggelam
dalam pikiran yang salah, kita harus tenang, menguasai diri, renungkanlah janji
dan jaminan pertolongan Allah SWT, dan bukanlah kita sudah sering melalui
masa-masa yang sangat sulit dan ternyata bisa lolos pada akhirnya, tidak
segawat yang kita perkirakan sebelumnya.
4. Evaluasi Diri
Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pegunungan, apa yang kita
bunyikan suara itu pulalah yang akan kembali pada kita, artinya segala apa yang
terjadi pada diri kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.
Allah SWT Mahapeka terhadap apapun yang kita lakukan, dan dengan
keadilannya tidak akan meleset siapapun yang berbuat sekecil apapun kebaikan
dan setersembunyi apapun, niscaya Allah akan membalas berlipat ganda dengan
aneka bentuk yang terbaik menurutnya, dan sebaliknya kezhaliman sehalus apapun
yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzhalimi orang lain padahal
sesungguhnya kita sedang menzhalimi diri sendiri dan sedang mengundang bencana
balasan dari Allah SWT yang pasti lebih getir dan gawat, naudzhubillah.
Andaikan ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus
ridho, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke
kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala kita pun begitu kecil?
Bisa jadi semua ini peringatan bahwa kita sering lalai bersujud, atau sujud
kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia,
pasti segalanya ada hikmahnya.
Jangan terjebak hanya menyalahkan dan mendamprat orang lain, karena
tindakan emosional seperti ini, sedikit sekali nilai tambah bagi kepribadian
kita. Bahkan bila tidak tepat serta berlebihan hanya akan menimbulkan kebencian
dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh merubah diri, maka berarti pula
kita merubah orang lain. Camkan, orang lain tidak hanya punya telinga, namun
memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang
sebenarnya.
5. Hanya Allah-lah Satu-satunya Penolong
Andaikata kita sadar dan meyakini bahwa bekal yang sangat kokoh untuk
mengarungi hidup ini sehingga kita tidak gentar menghadapi persoalan apapun
karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita sebenarnya
Allah SWT, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuan-Nya Yang
Mahasempurna.
Dan Dia sendiri berjanji akan menuntun memberi jalan keluar dari
segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit
dan pelik karena semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah tapi takutlah tidak
mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongannya kita akan
terus berkelana dalam kesusahan, persoalan yang berujung pada persoalan baru,
tanpa nilai tambah bagi dunia akhirat kita, benar-benar kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan selamat berbahagia bagi saudara-saudaraku yang taat kepada
Allah dan semakin taat lagi ketika episode hidupnya dalam kesusahan atau
kesenangan dengan tetap menjaga shalat, akhlak mulia, dermawan, hati bersih,
dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah SWT.
__._,_.
__,_._,___
CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.