Senin, 10/01/2011 11:27 WIB
LPI Vs ISL:Buruk Rupa Sepakbola(1)
Bukan Soal Prestasi, Tapi Periuk Nasi
Didik Supriyanto - detikNews


Jakarta - Beragam cara yang dilakukan PSSI untuk menggagalkan berputarnya
kompetisi Liga Primer Indonesia atau LPI, tidak membuahkan hasil. Akhirnya
Mabes Polri mengizinkan digelarnya pertandingan-pertandingan sepak bola LPI,
dimulai dari Solo pada Sabtu
(8/1/20011).

Peristiwa ini bukan sekadar kekalahan politik Nurdin Halid dkk, tetapi juga
mengancam periok nasi. Bagaimana tidak, atas nama PSSI, Nurdin Halid dkk
bisa menggelar kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) atau Indonesia Super
League (ISL), yang bergelimang uang; sementara biaya operasional klub tetap
dibebankan kepada APBD.

LPI, di sisi lain, menjanjikan transparansi dan profesionalisme pengelolaan
dana. PT Liga Primer Indonesia selaku penyelenggara LPI mensubsidi klub-klub
untuk berkembang. LPI juga menegaskan diri, tidak akan menggunakan dana APBD
untuk menggerakkan kompetisi bermutu.

Benarkah LSI bergelimang uang? Para pengelolanya menolak, malah dalam
beberapa kesempatan mereka menyebut merugi. Namun, jika benar merugi,
pertanyaannya sederhana saja: kenapa LSI terus bergulir? Siapa yang mau
terus menerus menyokongnya?

Beberapa laporan menyebutkan, sebagai sponsor utama LSI, PT Djarum
menggelontorkan ratusan miliar per satu putaran kompetesi. Beberapa
perusahaan sponsor pendukung juga membayar mahal. Jangan lupa juga ada harga
jam tayang siaran televisi. Semua dana masuk ke PT Liga Indonesia yang
dimiliki oleh PSSI dan beberapa pengurusnya.

Namun di sisi lain, berkali-kali terdengar keluhan: PT Liga Indonesia atau
PSSI belum membayar fee atau hadiah kepada klub peserta LSI. PSSI juga kerap
menyebut minimnya fasilitas sebagai biang minimnya prestasi. Bahkan
pemerintah selaku pengelola Gelora Bung Karno (GBK) juga kerap
dipersalahkan, sebab untuk tampil di sana PSSI pun harus merogoh uang
sendiri.

Lalu kemana larinya uang sponsor hasil memutar kompetisi yang berlangsung
setiap tahun, jika banyak klub merasa tidak mendapat jatah sebagaimana
semestinya? Inilah yang tidak pernah jelas, sebab sebagai sebuah perusahaan
swasta PT Liga Indonesia tidak gampang diintervensi. PSSI pun hanya sebatas
melaporkan penggunaan dana bantuan pemerintah yang jumlahnya tidak seberapa.


Yang lebih merisaukan adalah terus berlanjutnya praktek mengeruk dana APBD
oleh klub-klub peserta kompetisi, baik di LSI maupun Divisi Utama. Isu ini
pernah menuai protes sekitar lima tahun lalu, sehingga Menteri Dalam Negeri
sampai mengeluarkan peraturan Nomor 903/187/SJ yang isinya melarang dana
APBD digunakan untuk menyokong kegiatan klub-klub sepak bola profesional.

Nyatanya peraturan itu hanya jadi macan kertas. Praktek penggunaan dana APBD
untuk klub peserta kompetisi tetap terjadi. Bahkan di beberapa daerah terasa
ironi, karena jumlah dana yang digunakan untuk menyokong klub sepak bola
jauh lebih besar daripada dana yang dikeluarkan untuk membiayai sektor
pendidikan dan kesehatan.

Soal besarnya dana yang terserap untuk membiayai klub bisa dilihat pada
komponen transfer dan gaji pemain. Pemain top nasional, macam Bambang
Pamungkas dan Firman Utina rata-rata bergaji Rp 100 juta per bulan. Harga
yang sama juga berlaku bagi pemain asing yang pernah menjadi pemain nasional
di negaranya. Itu belum termasuk bonus dan berbagai macam jaminan
kesejahteraan.

Celakanya klub-klub yang membanggakan dirinya sebagai klub profesional,
ternyata tidak mampu mengumpulkan dana sendiri, baik dari tiket pnonton
maupun sponsor. Sementara dana besar yang masuk ke PT Liga Indonesia dan
PSSI hanya menetes saja ke mereka. Akibatnya, dengan dalih "demi nama baik
daerah" merekapun menjarah dana APBD.

Lagi-lagi, soal penjarahan ini PSSI mempunyai andil. Alih-alih mengajari
klub-klub untuk meningkatkan profesionalisme menajemen klub, mereka malah
dibela dan diajari untuk terus mengambil dana APBD. Beragam cara dilakukan,
mulai dari menunjuk pejabat daerah sebagai Ketua Pengda PSSI atau ketua
klub, sampai mengakali adminstrasi laporan pertanggungjawaban keuangan.

Dengan cara itu, pengurus PSSI tidak hanya merasa telah "membantu"
membesarkan klub, tetapi juga terhindar dari tuntutan klub untuk berbagai
dana yang masuk dari sponsor kompetisi. Itulah sebabnya mengapa Nurdin Halid
dkk tidak mau beranjak dari PSSI, meskipun selama kepengurusannya nihil
prestasi. (diks/iy)

*Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke