Senin, 10/01/2011 13:09 WIB LPI VS ISL:Buruk Rupa Sepakbola(2) Buruk Rupa, Nurdin Halid Diberi Kaca Deden Gunawan - detikNews
Jakarta - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) punya saingan. Ia tidak bisa memonopoli lagi pertandingan bola dan menguasai sendiri keuntungannya. Indonesia Super League (ISL) yang digelar PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid mempunyai banyak cacat. Kemunculan Liga Primer Indonesia (LPI) seperti menjadi cermin yang membuat Nurdin tidak nyaman. Kompetisi LPI mendapat banyak pujian. Kompetisi besutan Arifin Panigoro ini membawa angin segar bagi persepakbolaan Indonesia. Pertandingan LPI dirasa lebih profesional. "Benar-benar atmosfer yang berbeda" begitu kata Ketua Umum PSM Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengomentari laga antara kesebelasan Peribo Bojonegoro versus Batavia Union, Minggu (9/1/2011), yang berkesudahan 2-0 untuk Batavia Union. Ilham, yang juga menjabat Walikota Makassar ini menambahkan, perbedaan atmosfer yang dimaksudkannya adalah suasana pertandingan yang digelar Liga Primer Indonesia (LPI) yang mulai digelar, Sabtu (8/1/2011). Menurutnya pertandingan yang digelar LPI jauh berbeda dengan yang digelar Indonesia Super League (ISL). "Saat wasit menunjuk titik putih di gawang Persibo para pemainnya tidak memaki-maki atau memprotes secara berlebihan. Ini karena wasit yang memimpin pertandingan dianggap tepat memberikan ganjaran pinalti," jelas Ilham kepada detikcom. Selama ini, kata Ilham, masalah putusan wasit dalam setiap pertandingan di kompetisi yang digelar PSSI hampir selalu berbuah kontroversi. Karena reputasi wasitnya yang dianggap kurang dan terkesan berat sebelah. Jangan heran kalau sering terjadi kericuhan di setiap pertandingan. Masalah kepemimpinan wasit ini pula yang menjadi salah satu alasan PSM dan beberapa klub hengkang dari kompetisi yang digelar ISL dan memilih gabung ke LPI yang dibesut bos minyak Arifin Panigoro. Sebab masalah wasit hampir selalu menjadi momok dalam setiap pertandingan yang digelar PSSI. Soal wasit yang berat sebelah dan putusan yang sering kontroversial ini disebabkan tidak independennya wasit. Wasit mudah disuap atau diatur oleh pihak lain, seperti oleh pengurus PSSI sebagai penyelenggara setiap kompetisi sepakbola di tanah air. Tudingan intervensi terhadap wasit ini bukan isapan jempol belaka. Mantan pengurus PSSI Bidang Wasit, IGK Manila sempat mengungkapkan, dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2008, dirinya sempat mendapat telepon dari Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Saat itu Nurdin meminta Manila untuk mengganti wasit yang akan memimpin pertandingan antara Jawa Timur vs Papua. Alasan Nurdin, pergantian wasit tersebut untuk menghindari kericuhan. Soalnya dalam pertandingan tersebut rencananya akan disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun permintaan Nurdin yang dilakukan saat masih mendekam di penjara Rutan Salemba itu, tidak digubris Manila. Nah, cara-cara semacam inilah yang membuat sejumlah klub peserta kompetisi yang digelar PSSI menjadi gusar. Sebab wasitnya mudah diintervensi dan disuap. Hal inilah yang jadi sebab kenapa setiap keputusan diprotes keras para pemain maupun official. Karena sudah menjadi rahasia umum wasitnya tidak independen. Wajar kalau setiap keputusannya selalu dicurigai. Selain soal wasit, masalah lain yang juga sangat merugikan klub adalah soal jadwal pertandingan. Jadwal yang diatur PSSI dinilai sangat kacau. Sehingga terkadang dalam seminggu salah satu klub harus melakoni 3 pertandingan. Jadwal yang kacau dan terlampau padat tersebut akhirnya merugikan pemain dan klub. Sementara manajer Persibo, Letkol Taufik Risnandar kepada detikcom mengatakan, perbedaan lain antara sistem penyelenggaraan kompetisi yang dilakukan ISL dan LPI adalah soal transparansi. Sebab dalam setiap kompetisi yang dilakukan PSSI tidak pernah membeberkan berapa hasil yang didapat dalam setiap musim kompetisi. "Kalau di LPI semua klub peserta mengetahuinya. Sebab klub yang ikut berkompetisi juga sebagai pemilik. Jadi semua mengetahuinya," ujar Taufik. Selain transparansi, keuntungan yang didapat LPI juga dapat dinikmati klub peserta kompetisi. Dalam aturan yang disepakati, semua hasil keuntungan yang diperoleh LPI dari sponsor atau dari pendapatan lain selama kompetisi 50% akan diambil oleh konsorsium LPI. Sementara 50% lainnya akan dibagikan kepada klub-klub peserta. Dengan sistem pembagian seperti ini dianggap bisa menambah kepercayaan diri klub-klub peserta. Mereka akan merasa memiliki sehingga punya semangat lebih untuk memajukan kompetisi yang digelar LPI. Dengan perubahan seperti inilah, LPI lebih bisa memotivasi klub-klub peserta untuk membentuk kultur baru dalam persepakbolaan nasional, yakni era industri sepakbola. "Kita akan percaya diri dalam mencari sponsor dengan payung yang profesional. Dan pengelolaan dana lebih fair," tegas Taufik. Kemunculan LPI tentu saja membuat gerah PSSI dan PT Liga Indonesia. Mereka tidak mau dibanding-bandingkan dengan saingan baru tersebut. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, menganggap pelaksanaan LPI sebagai sebuah pengacau liga di Tanah Air. Menurutnya, jika seseorang mempunyai ide bagus dalam pelaksanaan kompetisi di Indonesia, seharusnya bergabung bersama menajemen PSSI. "Itu namanya pengacau. Oleh karena itu, jika mereka mempunyai ide bagus, maka PSSI siap menerima dan melaksanakan, bukan malah menggelar kompetisi di luar PSSI," kata Nurdin, beberapa waktu lalu. CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono saat dikonfirmasi detikcom mengatakan, baik buruknya sebuah sistem kompetisi tidak bisa dilihat dari 1 atau 2 pertandingan saja. Sebab kompetisi merupakan perjalanan panjang yang menyangkut banyak aspek. "PSSI dan PT LI tidak dalam posisi membanding-bandingkan, karena sebenarnya kita menjalankan sesuai dengan yang kita rencanakan. Tentu siapa pun bisa memberikan atribut dirinya sendiri, bisa menberikan ulasan sendiri. Tapi, ini sebenarnya hanya waktu dan publik yang memilih," papar Driyono. Driyono mengakui, dalam pengelolaan sepakbola yang ditangani PSSI dan PT LI memang ada banyak masalah. Untuk itu ia berharap semua pihak untuk sama-sama memperbaiki bukan justru menghancurkan pembangunan sistem sepakbola itu sendiri. "Kita harusnya bisa memisahkan antara sosok Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dengan program pengembangan sepakbola di Indonesia. Ini sesuatu yang berbeda. Jadi jangan karena ada masalah dengan Nurdin, maka semua program dan sistem yang dibangun jadi sasaran," jelasnya. Pria berkacamata ini melanjutkan, kompetisi yang sedang digelar LPI justru bisa menghancurkan program-program yang telah dibuat selama bertahun-tahun. Misalnya soal sistem degradasi dan promosi, bisnis, dan bayaran pemain. Menurutnya, sistem degradasi dan promosi yang diterapkan dalam kompetisi yang digelar PSSI untuk menyaring klub-klub supaya benar-benar kompetitif. Jadi bila sebuah klub mencapai taraf prfesional berarti klub tersebut telah melalui proses yang berat untuk mendapatkannya tidak secara instan. Sementara soal bisnis, dengan cara yang dilakukan LPI dikhawatirkan terjadi persaingan yang tidak sehat. Begitu pun dengan bayaran terhadap pemain yang bergabung dalam LPI. "Yang saya dengar bayaran pemainnya lebih tinggi dari pemain di ISL. Bayaran lebih mahal tentu saja merusak sistem pembayaran yang sudah kita jaga sebelumnya. Dengan bayaran yang sangat tinggi tentu bakal membebani klub," ulasnya. Pria berkaca mata ini kemudian menilai kompetisi yang digelar LPI lebih pada godaan bagi klub maupun pemain dengan iming-iming uang semata. Sementara pengembangan serta profesionalitas bagi klub maupun pemain diabaikan. Perbedaan konsep dalam pengelolaan kompetisi inilah yang membuat LPI dan PT LI (PSSI) tidak pernah menemui titik temu. Mantan Manajer Timnas dan Persija, Mayjen (Purn) IGK Manila menilai LPI bisa menjadi cermin untuk kemajuan sepakbola Indonesia. "Kalau yang namanya LPI itu bisa menjadi cermin, kan akan terlihat mana yang masih menggunakan APBD atau tidak, mana yang berprestasi atau tidak. Jadi sebenarnya bisa jadi cermin untuk perubahan dan perbaikan sistem di PSSI. Ketua Umum PSSI jangan menganggap setiap yang muncul di permukaan itu musuh," kata Manila. (ddg/iy) *Warm Regards, Zigo AlCapone * -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
