Senin, 10/01/2011 14:51 WIB
LPI Vs ISL:Buruk Rupa Sepakbola(3)
Uang Miliaran Dijarah Atas Nama Bola
Deden Gunawan - detikNews







Jakarta - Persibo Bojonegoro pertengahan 2010 berhasil menjadi jawara di
Divisi Utama PSSI. Capaian tersebut membuat Laskar Angling Darma ini berhak
atas tiket Indonesia Super League (ISL), ajang kompetisi profesional sepak
bola antarklub di Indonesia.

Tapi bukan hanya catatan keberhasilan yang ditorehkan Persibo di 2010. Di
tahun yang sama klub ini juga tersandung masalah. Pasalnya para pengurus
klub dianggap telah melakukan tindak korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) yang dialokasikan untuk klub tersebut.

Kasus korupsi Persibo Bojonegoro berawal dari hibah APBD 2008 senilai Rp
12,5 miliar. Dana itu diberikan dalam dua tahap, pertama dicairkan Rp 5
miliar. Tapi yang diterima Persibo hanya Rp 3 miliar. Sementara Rp 2 miliar
menguap. Ada dugaan uang tersebut dikorupsi pengurus Persibo, Pemkab dan
Ketua DPRD.

Modus yang digunakan untuk mengkorupsi dana APBD, kata Manajer Persibo,
Taufiq Riesnandar, dengan kolusi saat penyusunan RAPBD. Ketika dana cair
sebagian akhirnya dibagi-bagi orang DPRD dan Pemkab.

"Kalau kasus yang menimpa Persibo tempo hari seperti itu modusnya. Kalau
klub di daerah lain saya kurang begitu tahu," ujar Taufik kepada detikcom.

Kasus dugaan korupsi APBD ini tentu saja mengkhawatirkan. Koordinator ICW J
Danang Widoyoko kepada detikcom mengatakan, praktik pengemplangan dana APBD
oleh sejumlah klub tidak lepas dari budaya korupsi di kompetisi yang digelar
PSSI. Di setiap kompetisi PSSI dianggap marak penyuapan untuk mengatur skor,
mendapatkan promosi, serta terhindar degradasi.

Mau tidak mau untuk meningkatkan gengsi klub, sejumlah pengurus klub
akhirnya berupaya menyiapkan anggaran lebih, selain untuk bayar pemain,
official, maupun operasional. Sialnya yang jadi sasaran adalah dana APBD.
Soalnya banyak klub
selama ini dibiayai APBD. Hanya beberapa saja yang mandiri alias tidak pakai
dana APBD.

Contoh kasus suap ini sempat diungkapkan manajer Persikapro Kabupaten
Probolinggo, Hengky Bambang Widodo kepada wartawan. Ia menyebutkan, banyak
pengelola klub yang frustasi lantaran sering jadi sapi perah PSSI.

Hengky mengaku dirinya sebagai pengurus klub Persikapro empat kali diminta
setor uang kepada Badan Liga Amatir (BLA) melalui Pengurus Provinsi PSSI
Jawa Timur. Saat itu klubnya jadi tuan rumah babak penyisihan zona Jawa II
di kompetisi divisi III PSSI. Untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah
Hengky diminta setor uang Rp 50 juta ke PSSI Jawa Timur dengan iming-iming
kubnya bakal dinaikkan ke divisi II.

Persikapro sediri sudah dua kali jadi tuan rumah. Otomatis dua kali pula
Hengky mengaku setoran Rp 50 juta ke PSSI Jawa Timur. Sementara untuk dapat
promosi ke Divisi II ia kembali keluar uang total Rp 30 juta untuk PSSI Jawa
Timur.

Selain Persikapro, Hengky juga menyatakan bahwa Persewangi Banyuwangi gagal
promosi dari divisi I ke divisi utama tahun ini kendati telah setor uang Rp
500 juta kepada pengurus PSSI.

Selain Hengky bekas manajer Persekabpas Pasuruan, Abu Bakar Asegaf juga
punya pengalaman serupa. Kata Abu, untuk memenangkan pertandingan di sebuah
kompetisi bukan perkara sulit. Hanya cukup menyiapkan Rp 10-20 juta kepada
wasit, tim bisa dimenangkan dengan mudah.

Sementara ICW punya catatan lain lagi. Menurut Danang Widoyoko, kasus
besarnya uang yang disetorkan kepada PSSI atau wasit memang bisa berpengaruh
kepada prestasi klub di setiap kompetisi. Danang kemudian memberi contoh
PSIS Semarang.

Selama 2004-2008, PSIS Semarang prestasinya terus meningkat dengan kucuran
dana yang meningkat pula dari APBD. Pada 2004 PSIS menerima Rp 3,1 miliar
dan keluar sebagai Peringkat 9 Liga Indonesia (LI) XI 2004.

Tahun 2005 klub ini menerima Rp 7,2 miliar lalu menjadi Juara III LI XII
2005. Berikutnya, pada 2006 PSIS menerima dana Rp 14 miliar lalu menjadi
Juara II LI XIII 2006. Tapi ketika pada 2007 menerima dana Rp 12,2 miliar,
PSIS Semarang kemudian masuk degredasi dari liga profesional terjun ke
Divisi Utama.

ICW menduga, dana APBD 2007-2008 untuk PSIS digunakan untuk dana Kampanye
Sukawi Sutarip, ketua Umum PSIS Semarang dan walikota semarang 2004-2009.
Dia menggunakan dana saat Pemilihan Gubernur Jateng 2008.

"Karena dipakai kampanye akhirnya dananya habis dan tidak bisa menyuap sana
sini untuk meningkatkan posisi PSIS di LI. Akibatnya PSIS terdegradasi,"
ujar Danang.

Dana APBD yang dikucurkan ke klub PSIS Semarang bisa dibilang sangat besar
dibanding untuk program penting di daerah tersebut. Sebagai gambaran, ICW
mencatat, di APBD 2006 dana untuk perbaikan gizi masyarakat hanya Rp 607
juta. Dana program pendidikan anak usia dini Rp 1,4 miliar. Dan anggaran
untuk pengembangan UMKM sebesar Rp 1,6 miliar. Sementara dana hibah untuk
PSIS justru berlipat-lipat, yakni mencapai Rp 14 miliar.

Sayangnya, walau anggaran besar telah dikucurkan PSIS prestasi tidak ada.
Dan Pemda tidak dapat apa-apa. "Ini bukan saja pemborosan anggaran. Tapi
juga tidak berdampak bagi masyarakat Semarang," tegasnya.

Jadi, sambung Danang, kalau diestimasi semua klub yang menerima kucuran APBD
jumlah duit negara yang menguap bisa mencapai Rp 720 miliar hingga Rp 1
triliun. Asumsi ini jika dana APBD digunakan oleh 18 klub LSI ditambah 36
klub Divisi Utama.

Jika klub yang ikut LSI mendapat Rp 20 miliar dan klub Divisi Utama Rp 10
miliar, berarti tiap tahun mereka menghabiskan Rp 720 miliar- Rp 1 triliun.
Padahal uang sebanyak itu sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan
dan kesehatan masyarakat di daerah-daerah.

Penggunaan APBD untuk klub inilah yang coba direm penyelenggara Liga Primer
Indonesia (LPI). Dengan menjadi klub mandiri dan profesional diharapkan bisa
menghilangkan klub dari ketegantungan terhadap APBD.

Managing Director PSM, Husain Abdullah saat berbincang-bincang dengan
detikcom mengatakan, sebelum gabung ke LPI, klub yang dipimpin Walikota
Makassar Ilham Arief Sirajuddin, dapat kucuran dana APBD berkisar Rp 10
miliar- Rp 12 miliar.

Tapi ia mengklaim uang tersebut sepenuhnya digunakan untuk membayar pemain
maupun operasional. Ia mencontohkan, untuk gaji pemain asing saja, per tahun
menghabiskan Rp 700 juta per orang. "Jumlah pemain asing kita paling tidak
ada 5 orang. Jadi kalau dikalikan 700 juta sudah menghabiskan hampir Rp 4
miliar," jelasnya.

Sedangkan untuk pemain lokal, kata Husain, PSM menggaji pemainya sekitar Rp
300 juta per orang. Kalau jumlah pemain lokal sebanyak 15 orang maka dana
yang diserap sebesar Rp 4,5 miliar. Selebihnya uang tersebut digunakan untuk
operasional dan tiket pesawat.

PSSI sendiri mengelak jika dikait-kaitkan dengan dugaan korupsi yang
dilakukan sejumlah klub peserta kompetisi di bawah naungan PSSI. Menurut CEO
PT Liga Indonesia Joko Driyono, soal anggaran klub itu kewenangan
masing-masing peserta kompetisi. Sementara PSSI hanya penyelenggara
kompetisi saja.

"Itu urusan masing-masing klub. Mereka cari jalan sendiri untuk pendanaannya
untuk ikut berkompetisi. Kita (PSSI dan PT LI) tidak ikut campur dengan
penggunaan APBD," pungkasnya. (ddg/iy)

*Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke