**
**
*Dicari Pendekar Bodoh  !*
Oleh : AS Laksana

“Saudara-saudara sekalian, mari kita bersihkan saja negeri ini dari para
politisi. *Sampean* tahu sendiri, kan, mereka itu pekerjaannya cuma bikin
gangguan,” kata Commodus, raja lalim dalam film *Gladiator* arahan sutradara
Ridley Scott. Ketika itu, tahun 180 Masehi, ia barusan merampas kekuasaan
Romawi dari tangan ayahnya Caesar Marcus Aurelius sang filosof. Tetapi
Commodus jatuh tak lama setelah itu, bukan oleh celoteh para politisi. Ia
tertikam mati oleh Maximus Decimus Meridius, jenderal yang dibencinya, dalam
pertarungan otot di Koloseum Roma.

Mengenai politisi, yang celotehnya membuat Commodus muak, saya kira profesi
ini agak mirip-mirip nasibnya dengan dunia pelacuran: ia tetap diminati
orang meskipun selamanya dianggap sebagai dunia yang kotor. Dan pandangan
tentang politik sebagai dunia yang kotor tampaknya abadi sampai hari ini.
Para politisi, di banyak tempat, hampir selalu dianggap sebagai
gangguan--oleh penguasa, juga oleh publik yang diwakilinya. Seorang jurnalis
Inggris, Katharine Whitehorn, menyatakan pendapat buruknya tentang politisi
sebagai berikut, “Kata suami saya, kebanyakan politisi bukanlah bajingan
sejak lahir, mereka seperti itu karena tuntutan pekerjaan.”

Pendapat itu terasa sebagai pandangan yang traumatik, dan saya tidak
berharap bahwa pandangan itu benar. Bagi saya pribadi, politik adalah
sesuatu yang kadang terasa bising sekali. Saya pernah mengira sebelum ini
bahwa puncak kebisingan adalah saat-saat menjelang pemilu, yakni ketika para
politisi ramai mengumbar janji. Maka saya merasa lega ketika pemilu
berakhir. Saya pikir dunia dan seisinya akan kembali tenang dengan
selesainya pemilu. Tetapi saya keliru besar di situ. Dunia politik
rupa-rupanya tidak pernah berhenti bising. Selalu ada yang bisa diributkan.
Tepatnya, selalu ada bahan untuk dipolitisir. Mungkin memang di situlah poin
utamanya: Kalau tidak bisa mempolitisir apa pun, lalu apa gunanya orang
menjadi politisi?

Secara bersungguh-sungguh saya pernah membuat pengandaian, tentu saja cuma
di depan teman saya sendiri, bahwa sekiranya Tuhan berminat menurunkan lagi
seorang nabi, saya yakin nabi baru itu akan diturunkan di Indonesia.
Pengandaian ini tak ada hubungan dengan munculnya orang-orang yang
menyatakan diri sebagai nabi atau juru selamat. Anda bisa menganggap mereka
itu lucu-lucuan saja, dan saya kira mereka akan kesulitan jika diminta
menunjukkan surat pengangkatan dari Tuhan. Jadi, santai sajalah, tak ada
yang serius dengan deklarasi mereka.

Namun tetap ada pelajaran menarik dari munculnya “nabi” yang lucu-lucu itu.
Setidaknya kita bisa mempertimbangkan bahwa kondisi kita hari ini mungkin
memang “memenuhi syarat” untuk diturunkannya seorang nabi. Banjir besar,
ada. Tsunami, ada. Gempa, ada. Kebobrokan massal, ada. Untuk menyederhanakan
urusan, dan biar terasa lebih bombastis, saya bisa mengatakan ada keruwetan
di setiap inci tanah yang kita pijak, dan ada ketidakpastian untuk menjalani
hidup, di hari ini maupun di masa depan. Lebih dari itu, ada kegagalan kita
untuk berpikir simpel.

“Jika 10% orang terkaya di Indonesia rela memberikan 20% penghasilan mereka
(bukan harta atau aset), maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia,”
kata H.S. Dillon tiga tahun lalu. Semudah itukah mengatasi masalah
kemiskinan di Indonesia ? Mungkin. Tetapi cara yang semudah itu pun tak
pernah bisa kita lakukan. Kita gagal di banyak tempat dan dalam banyak
urusan.

Di Sidoarjo saja kita gagal menemukan cara paling adil untuk menangani
korban semburan lumpur. Sekarang sedang diusut masalah pelanggaran HAM yang
terjadi di sana. Di Purwokerto, seorang mandor kebon gagal memaafkan Nek
Minah yang, karena kemiskinannya, tergiur memetik tiga butir kakao untuk ia
jadikan bibit. Vonis 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan memang
tidak mengharuskannya mendekam di sel penjara, tetapi proses hukum telah
menjadikannya sasaran pemerasan. Ia bilang telah didatangi orang yang
mengaku polisi dan orang itu meminta biaya sidang kepadanya. “Saya sampai
harus utang Rp50 ribu kepada tetangga,” katanya.

Dengan sogokan atau pemerasan mulai dari kelas Rp50 ribu sampai Rp6 miliar
model jaksa Urip Tri Gunawan beberapa waktu lalu, saya kira Pak Presiden
harus serius memikirkan bagaimana cara menjadikan aparat penegak hukumnya
berkualitas. Dan, anda tahu, apa yang dialami Nek Minah itu terjadi setelah
pidato Presiden tentang program 100 hari yang menempatkan pemberantasan
mafia hukum di posisi teratas.

*Di mana lagi kita gagal ?* Banyak. Kita tidak bisa membangun jalan aspal
yang kokoh di sepanjang pantai utara Jawa dan di mana-mana. Dunia pendidikan
kita, selain ribut soal ujian nasional perlu diadakan atau tidak, juga tidak
tahu bagaimana cara membangun gedung sekolah yang tidak mudah roboh. Hal
lainnya, kita hidup di negeri dua musim dan di kedua musim itu kita
sengsara. Pada musim penghujan, banjir. Pada musim kemarau, kekeringan. Dan
kita tampaknya semakin tidak tahu bagaimana mengatasi banjir dan kekeringan
itu.

Melanjutkan pengandaian tentang nabi, saya kira negeri ini idealnya memang
dipimpin oleh seorang kepala negara yang sekaligus nabi. Ia bisa figur
seperti Sulaiman, hakim yang adil dan penguasa atas manusia, jin, dan
hewan-hewan. Bisa seperti Daud, si kecil yang mampu mengalahkan raksasa
Jalud. Bisa seperti Musa yang di waktu kecil sudah menarik janggut Firaun.
Bisa seperti Isa sang juru selamat. Bisa seperti Muhammad, pemikul amanah
yang bisa dipercaya.

Tetapi, karena tidak ada lagi nabi yang diturunkan, saya punya saran lain
yang sangat religius, yakni kita bisa mengandalkan Tuhan untuk menyelesaikan
segala keruwetan. Bagaimana cara terbaik menangani Anggodo, kita serahkan
pada Tuhan. Bagaimana kasus Bank Century harus diselesaikan, kita serahkan
pada Tuhan. Bahkan untuk memastikan apakah benar Pak Presiden difitnah,
seperti yang sering ia sampaikan, kita serahkan saja benar atau tidaknya
pada Tuhan.

Setelah itu kita bisa mendengkur, sehari saja di dalam kamar atau ratusan
tahun di ceruk gua seperti para pemuda ashabul kahfi, dan ketika kita bangun
semuanya sudah beres. Teman saya mencibir: Ngawur!

Kepadanya saya bilang jangan omong sembarangan; kepasrahan kepada Tuhan
bukanlah tindakan ngawur. Demi keamanan dirinya, saya tidak akan membocorkan
siapa nama teman saya itu. Saya takut ia digeruduk kaum fanatik.

Kalau pengandaian yang religius tidak memungkinkan, saya kira pengandaian
sekuler dari dunia persilatan bisa lebih masuk akal. Maksud saya begini,
sekiranya kita hidup di dunia persilatan, segala pertanyaan akan mudah
dijawab. Misalnya, siapa yang akan memenangi pertarungan dalam kasus Bank
Century ? Jawab: orang yang paling bodoh.

Selalu begitu dalam dunia persilatan. Di buku-buku silat yang pernah saya
baca, para pengarang biasanya punya kecenderungan akut untuk mengagungkan
kebodohan. Banyak pendekar besar, pemilik ilmu kanuragan yang tak
tertandingi, semula adalah para pemuda bodoh yang lambat sekali mencerna
pelajaran apa pun dari guru mereka. Di dunia persilatan, anda tahu,
kecerdasan berjalan sejajar dengan kelicikan, dan kebodohan selalu identik
dengan kebaikan. Dasarnya sepele saja, orang bodoh selalu dianggap lebih
jujur ketimbang orang cerdas.

Tetapi sebuah negara demokrasi bukanlah dunia persilatan semacam itu. Dan
apa yang membedakan demokrasi dari dunia persilatan ? Tidak ada, jawab
filosof dan matematikawan Inggris Bertrand Russell (1872-1970). “Demokrasi
yang kita agungkan,” katanya, “cenderung menganggap orang bodoh sebagai
orang yang lebih jujur ketimbang orang cerdas, dan para politisi kita
mengambil keuntungan dari anggapan ini dengan tampil lebih bodoh dari yang
disangka orang.”

Jika Russel benar, maka dunia politik pun menjadi mudah diduga. Artinya,
dalam setiap pertarungan politik, politisi paling bodohlah yang akan memang.
Itu karena ia tampak lebih jujur.



-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." *
**
*- Aga Madjid -*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke