****
 *IT’S COMPLICATED*****

 ****

*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*****

*EXPERD           *****

*‘Executive Coaching”*****

Dimuat di Kompas, 24 September 2011****

Mendengar atau membaca berita di media massa belakangan ini, seringkali
malah membuat kita jadi tidak bisa melihat apa permasalahannya dengan jelas.
Sebut saja, asal muasal pengeroyokan wartawan yang simpang-siur,
sampai-sampai kita sulit menggambarkan situasi yang ada dengan jelas. Belum
lagi masalah korupsi yang saling tuding, saling menghindar, saling terkait
dan komentar berbagai pihak yang saling timpal-menimpali, sehingga kita
tidak tahu lagi siapa yang benar, apa yang salah, bahkan sampai-sampai tidak
bisa melihat bagaimana masalah tersebut harus diselesaikan.
“Kompleksitas”situasi
, saat ini memang sudah menjadi kata yang populer di dunia  politik, binis
maupun pergaulan. Kerap orang menggambarkan kerumitan permasalah yang ada
dengan meminjam istilah populer di akun facebook, mengenai status hubungan
pribadi:”*it’s complicated*”.****

Situasi yang membingungkan, disadari ataupun tidak, sering dijadikan ‘excuse’
bagi para eksekutif yang gagal. “Bagaimana saya bisa fokus, bila setiap pos
berkaitan satu sama lain?”, “Bagaimana saya mempertanggungjawabkan suatu
kegagalan, bila kesuksesan saya sangat tergantung pada orang atau bagian
lain?”. Ya, situasi yang kompleks memang dihadapi oleh hampir semua orang.
Bila kita tidak bisa berpikiran jernih dengan mudah kita melihat
permasalahan seperti ‘lingkaran setan’, tidak bisa kita uraikan lagi. Masalah
banyak dan ‘*challenging*’, jawabannya seolah yang tidak ada. Ada orang yang
kemudian menjadi dengan enteng mengemukakan: “*M**asalahnya terletak
di…*”, tanpa
merasa berkewajiban mengemukakan solusinya. Ada pula atasan yang merasa
tidak perlu bertanggung jawab apalagi mengundurkan diri, bila bawahannya
berbuat kesalahan. Kompleksitas sesungguhnya bukan sekedar merupakan keadaan
yang perlu kita hadapi, tetapi kita jugalah yang memegang peranan dalam
menciptakan situasinya. Dengan demikian, kita sebetulnya juga punya tanggung
jawab untuk mengurai dan menemukan esensi serta solusinya.****

Banyaknya keberbedaan di masyarakat, apakah itu pendapat, nilai maupun
pandangan, menyebabkan orang yang berusaha mensimplifikasikan masalah kerap
sulit mendapatkan solusi, bahkan ujung-ujungnya bisa dianggap tidak
responsif. Di sisi lain, kita sadar bahwa respons yang tidak berhati hati,
sering mengakibatkan kita tidak mampu memprediksi hasilnya. Standar yang
sebenarnya dibuat untuk menyamakan “bahasa”, sekarang malah muncul dalam
berbagai versi. Standar profesi, yang dikeluarkan oleh negara di Eropa, belum
tentu diakui di Amerika, demikian pula sebaliknya. Jadi situasi
yang:”*ever-increasing
uncertainty*” dan sulit dibaca ini memang terjadi dimana-mana dan
menyebabkan para analis keuangan atau politik pun sulit mengambil
kesimpulan. Logika sebab-akibat sudah tidak bisa digunakan lagi. Solusi yang
kita gunakan hari ini, mungkin sekali basi dalam waktu yang dekat.
Pertanyaanya,
sampai kapan kita akan membiarkan diri tenggelam dalam kompleksitas situasi,
tanpa urgensi untuk menghadirkan solusi? ****

*Berpegang pada Fakta*****

Beberapa pimpinan perusahaan, entah disadari atau tidak, sering mengambil
kebijakan yang merugikan karena tidak sabar melihat perkenbangan perusahaan,
misalnya saja mengadu 2 divisi atau channel distribusi. Dalam industri
manufaktur,
terkadang ada kebingungan untuk mengikuti standar internasional versus
respons terhadap pasar lokal. Pejabat yang mengajukan ide pemberantasan
korupsi secara tidak lengkap atau individu yang memberi komentar
“asal-asalan” mengenai cara penanggulangan kemacetan, tak jarang menuai caci
maki habis-habisan di media. Itu sebabnya kita memang perlu senantiasa
belajar berpegang pada fakta yang mendukung sebelum menyikapi kompleksitas
yang ada. ****

Tidak salah bila dalam tahap awal kita mengeluarkan berbagai hipotesa
penyebab masalah yang ada. Dalam berbagai metode perbaikan kualitas pun kita
diajarkan untuk mengidentifikasi semua hal yang bisa menjadi penyebab
masalah. Namun, jangan lupa bahwa ujungnya tetap kita harus memilih satu-dua
akar masalah yang paling mendasar dan mencurahkan energi dan fokus kita
untuk menyelesaikan hal-hal yang mendasar itu.****

*Keyakinan Diri sebagai “Guiding Star”*****

Bersikap kalang kabut dan menjawab kompleksitas dengan kompleksitas sudah pasti
bukan solusi yang baik. Perusahaan ABB pernah membuat struktur organisasi
berbentuk matriks yang bersisi 6, tak lama sesudahnya kembali
menyederhanakannya. Bila kompleksitas ini tidak bisa diurai, maka kita perlu
kembali menelaah diri kita sendiri yang justru adalah pos yang bisa kita
kontrol. Bila saja kita tetap mengacu pada sebuah “*guiding star*” yang
jelas, maka kita bisa mempunyai cakrawala yang lebih jelas dan paling tidak
bisa menentukan prioritas. Seorang ahli manajemen menyatakan : “Ramalan
cuaca juga tidak pernah benar 100 %. Tetapi adanya ancaman bencana tetap
banyak dimonitor oleh ramalan tersebut juga”. ****Ada**** masanya memang
kita tidak perlu kejelasan yang benar benar factual. Kita cukup mempunya Dos
dan donts yang jelas, sehingga tidak terperosok ke hal hal yang tidak
termasuk jalur aman. Selebihnya kita tentunya tetap maju menuju sasaran yang
sudah kita canangkan.****

Ketika di perjalanan kita mendapatkan ‘warning’ bahwa situasi sedang tidak
‘aman’ maka kita memang perlu menentukan plan B. Namun, “Purpose and values”
yang kuat akan membuat kita kokoh, dan lebih tahan banting menghadapi
kompleksitas ini. Pada akhirnya kita akan tampil sebagai orang yang
berkeyakinan tinggi dalam menghadapi segala macam situasi. ****


*EXPERD CONSULTANT*
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang ****Jakarta**** 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
*http://www.experd.com*****


-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." *
**
*- Aga Madjid -*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke