percaya pa gak, gw ngelap loh meja tempat gw makan gw kalo makanan gw tumpah ke meja, n semua sampah gw tarok di baki, jadi mereka tinggal buang dari baki itu ajah, temen gw juga gitu, tapi baru kek gitu ajah seh, hehehehehe
laik dis artikel * I do my thing & u do ur thing, I'm not in this world to live up to ur expectations & u are not in this world to live up to mine. U are u & I am I, & if by chance we find each other, it's beautiful.... If not, it can't be helped The Gestalt prayer, FP* 2011/9/29 aga madjid <[email protected]> > *EMPATI* > > *By: Andy F Noya* > > > > Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji > dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah > berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang > memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap > melayani.. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. > > Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang > menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang > membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. > > Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. > Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani > anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau > akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika > saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik > menyantap makanan. > > Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak > terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa > makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, > mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut > menjadi istimewa. > > Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang > dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja > bersantap di meja itu ? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang > berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik > perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas > makanan. > > Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas > meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi > di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan > remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. > > Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya > tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah > berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan > yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang > pelayan sekalipun. > > Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa > makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak > melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah > melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan > teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah > keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah > jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan > terbatas karena tenaga kerja mahal. > > Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal > meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. > Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan > besar sekali bagi para pelayan restoran. > > Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti > besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan > sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.. Karena setiap hari > warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, > lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu. > > Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak > itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. > Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, > umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. > Keteladanan > kecil yang berdampak besar. > > > Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap > orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari > itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa > bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu > seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal > mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum. > > Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap > membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di > belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan > merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia > bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus > kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya > berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. > > Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang > setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda > puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada > orang-orang di sekitarnya. > > Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata > "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. > Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat > orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan > orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita. > > Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, > bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri > saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir > kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu > kan tidak mengejar setoran ?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari > sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan > umum yang menyerobot seenak udelnya, > saya segera teringat nasihat istri tersebut. > > Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat > orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati > pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan > membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan > pekerjaan pelayan restoran. > > Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah kita > membayar, tentunya kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan > tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari > perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet. > > Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di > antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka > pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah > ada orang lain di belakang kita ? Saya pribadi sering melihat orang yang > membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang > di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. > > Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak > memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari > hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah > sekarang juga. > > > ------------------------------ > > > > -- > *".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL!!! > ...." > * > > *- Aga Madjid -* > > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
