*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 08 Februari 2014*

Pernahkah kita mengamati dan memikirkan kebiasan buruk kita? Teman saya
mempunyai kebiasaan *'last minute*' dalam segala hal. Email anak buah baru
dijawab setelah waktu deadline mepet. Materi rapat dibaca hanya sesaat
menjelang sesi dimulai. Kerap terjadi, koleganya dibuat *sport *jantung
karena kehadirannya terlambat dalam *meeting *dengan klien. Ia memang
sangat pandai, juga kritis, dan memiliki banyak kelebihan lain, sehingga
kebiasaan '*last minute*' ini diterima dan dimengerti rekan kerjanya
sebagai '*weakness*'-nya. Orang menggunakan rumus *"strengths vs weaknesses*'
untuk menganalisis dan bertoleransi padanya. Pernahkah kita berhitung,
betapa sering kita mentolerir bahkan menyuburkan kebiasaan buruk, meskipun
sadar kebiasaan buruk nyata-nyata mengurangi produktivitas?

Orang kerap berkomentar bahwa setiap manusia unik dan harus diterima apa
adanya, dengan segala kekurangannya. Kita bahkan memberi julukan 'orang
malam', 'perokok berat' yang membuat orang menerima kebiasaan buruknya
dirinya dan orang lain dengan lapang dada. Beratnya perubahan dalam
manajemen pun sesungguhnya mempunyai logika yang sama dengan apa yang
terjadi di individunya. Adakalanya kebiasaan buruk dalam organisasi
ditolerir, misalnya kebiasaan datang terlambat saat meeting, kebiasaan
memotong pembicaraan orang atau kebiasan membuat keputusan tidak
berdasarkan data dan fakta. Tidak berubahnya suasana ataupun kultur
organisasi ini, kerap di '*back up*' oleh alasan-alasan yang yang
diciptakan, sehingga tanpa sadar kita memelihara 'bad habits' itu terus
menerus.

Para ahli mengatakan bahwa '*habit*' adalah *respons *atau tindakan yang
karena muncul begitu sering, akhirnya sering muncul tanpa dipikirkan lagi.
Bahkan filsuf pada jaman sebelum masehi, Aristoteles, mengatakan : "*The
Power of Habit is about turning thinking people into unthinking
machines"*Artinya, manusia yang membiarkan dirinya memelihara bad
habits bisa
dikatakan me-'robot'-kan dirinya, karena tanpa disadari ia menjadi manusia
yang berespon otomatis, bertindak tanpa memikirkan lagi kerugian
tindakannya. Banyak juga kebiasaan yang kemudian kita pandang sebagai
'penyakit kepribadian', yang tidak bisa diperbaiki lagi. Benarkah demikian?
Apakah gejala ini memang betul 'penyakit' yang tidak bisa disembuhkan atau
sekedar '*bad habit*'?

*Reason dan Reasoning*
Kita semua tahu kelebihan manusia adalah pada akal budinya. Manusia
mempunyai kekuatan untuk 'memikirkan' tindakan-tindakannya, bahkan
mengontrolnya. Di sisi lain, akal dan rasional yang kita miliki juga bisa
kita gunakan untuk membuat alasan-alasan pembenaran kebiasaan buruk kita.
Banyak orang bisa dengan cepat memberi jawab rasional mengapa ia terlambat,
mengapa ia merokok, mengapa ia menunda pekerjaan, dan lain lain. Ini adalah
kelebihan dan kekurangan manusia karena alasan tersebut bisa benar, tetapi
juga bisa dibuat-buat.

Selanjutnya, selain membuat alasan, manusia pun bisa melanjutkannya dengan '
*reasoning*'. Ada teman yang mengatakan: "Semua orang yang tidak merokok
akan mulai memerlukan  lensa kacamata plus pada usia yang lebih muda
daripada yang perokok". Semakin banyak ungkapannya ini diucapkan, walaupun
sambil bercanda, semakin sah ia meneruskan * bad habit-*nya. Individu, dari
hasil risetnya seolah memiliki 'rumus' untuk mensahkan '*bad habit*'-nya
berlanjut. Kita bisa melihat, terkadang banyak *reasoning *yang berbahaya.
"Ah, orang lain pasti juga paham bahwa saya mengalami kemacetan". "
*Reasoning*' atau penalaran ini dikatakan sudah tanpa didukung fakta,
seolah-olah riset sudah selesai dilakukan. Jadi, kehendak untuk memutus bad
habit dipatahkan oleh teori diri sendiri. Dengan kekuatan akal sehat, kita
sebetulnya perlu terus mengingat bahwa  '*Reason*' dan '
*Reasoning-reasoning*' untuk membenarkan kebiasaan buruk, hanyalah
pembohongan diri yang tak berguna.

*Skema Pembentuk Kebiasaan Buruk*
Mengubah kebiasaan pada dasarnya memang sulit. "*There is no magic bullet,
there is no short cut*", begitu kata seorang ahli. Jadi, mengubah kebiasan
buruk perlu didasari kehendak dan mentalitas yang kuat, untuk mengembalikan
si kebiasaan tersebut ke kesadaran dulu. Kita perlu berjuang dan
menganalisa secara jujur, bagaimana kebiasaan ini tumbuh dan melekat dalam
reaksi-reaksi kita. Kita bahkan perlu bisa melihat skema "
*cue-routine-reward*" yang membentuk terjadinya kebiasaan buruk kita dengan
gamblang. Katakanlah kebiasaan untuk tidak mengambil keputusan. Situasi
atau 'cue'-nya adalah 'keputusan sulit'. Respon otomatis atau '*routine*'-nya
adalah menghindar dan membiarkan atasan mengambil alih. Kebiasaan terbentuk
karena diperkuat oleh '*Reward*', yaitu rasa lega lepas dari tanggung
jawab. Skema ini sangat masuk akal, bukan? Dengan memahami skema tersebut,
kita bisa memahami mengapa orang akhirnya terbelenggu oleh kebiasan
buruknya.

Kebiasaan buruk diperkuat karena adanya '*reward*', itu sebabnya untuk
merubah kebiasaan buruk, kita perlu membuat saingan '*reward*'. Apa hal
positif yang bisa kita peroleh dengan 'mengambil keputusan sulit', untuk
bisa menyaingi 'perasaan lega' yang didapat dari menghindari keputusan? Di
sini rasional individu harus bekerja dengan kencang. Bila individu bisa
melihat bahwa ia akan mendapat pengalaman berharga, terlihat kredibel,
mendapat apresiasi dan kemungkinan mendapat promosi, muncullah kekuatan
untuk memutus skema lama dan membentuk skema kebiasaan baru. Ini baru satu
kebiasaan dari satu individu. Dalam organisasi, manajemen dapat membuat
upaya yang berfokus pada *'reward-reward*' yang bisa didapatkan kalau
kebiasaan buruk diubah. Para karyawan bisa diajak untuk memilih hal-hal
yang lebih maju dan moderen, lebih memilih kreativitas dan inisiatif
daripada kebiasaan dikontrol atasan, lebih memilih memberi usulan, daripada
rasa aman birokratis yang kaku. Standar prosedur bisa diperbaiki, misalnya
tata cara rapat, yang mengingatkan orang untuk mendengar sampai habis dulu,
baru berbicara. Bayangkan betapa besarnya perbaikan produktivitas bisa kita
dapatkan bila beberapa individu atau banyak karyawan bisa merubah kebiasaan
buruknya.






*EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Kemang 89 Building, 3rd
- 4th Floor Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730 Telp. 021-718 0805 Fax.
021-718 3101*




-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke