*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 01 Februari 2014*

Apakah pekerjaan Anda lebih banyak menuntut Anda bekerja tim, atau bekerja
sendirian? Bila kita memiliki profesi yang lebih* 'soliter'*, katakanlah
artis, pelukis, peneliti, *programmer * komputer, betulkah kita tidak
membutuhkan orang lain untuk mengembangkan karir kita? Mari kita berpikir,
apapun pekerjaan kita, mungkinkan kita bekerja sendiri tanpa bantuan orang
lain? Bisa kita lihat betapa tidak ada pekerjaan yang di mana kita tidak
butuh orang lain. Hakekat kita sebagai manusia adalah bahwa kita mahluk
sosial. Kita akan lebih efektif bisa berada dan bekerjasama dengan orang
lain, berkeluarga, berkelompok, berorganisasi, ataupun berbisnis bersama.
Betapa ruginya bila kita tidak mengasah dan memprioritaskan untuk bisa
berhubungan baik dengan orang lain.

Berhubungan dengan orang lain, sering tampak mudah tetapi sebetulnya
hubungan interpersonal sering menyebabkan kegagalan. Berapa banyak kita
mendengar anak buah mengeluh mengenai atasannya, begitu juga para atasan
mengeluh tentang bawahannya. Bukankah banyak kita menyaksikan orang yang
sebenarnya cemerlang, tetapi tidak bisa menyesuaikan diri dengan
organisasi, sehingga terus-menerus gagal. Bukankah pemimpin juga selalu
dipersoalkan hubungannya dengan anak buah, atasan dan teman sejawatnya?
Sebelum kita menuding orang lain yang 'bermasalah' dalam membangun hubungan
baik, kita jelas harus ingat bahwa sebagai orang dewasa kita harus
bertanggung jawab terhadap hubungan yang kita bina. Semakin bertanggung
jawab, semakin dewasalah kita, dan semakin terlatihlah kita untuk
*'dealing'* dengan individu lain.

*Setiap Manusia Unik*
Bertanggung jawab dalam berhubungan bisa juga kita artikan dalam tanggung
jawab berkomunikasi. Kita, yang sadar akan perlunya hubungan dengan orang
lain, perlu selalu menanamkan keyakinan bahwa kitalah yang berkewajiban
membuka dan menutup komunikasi. Atasan atau rekan kerja kita, tidak bisa
dilihat semata dari jabatan, status ataupun fungsi. Mereka semua manusia
unik yang punya gaya kerja, gaya komunikasi yang khas. Setelah kita
memahami kekhasan gaya *interpersonal *kita, kita memang perlu juga
mempelajari kekhasan mitra kerja kita dan menyesuaikan sehingga '*channel*'
komunikasi jadi terbuka dan lancar. Jadi rahasia untuk menjadi efektif
adalah tetap mengingat bahwa manusia unik, dan berusaha keras memahami
setiap individu.

*Self knowledge*, yang kita tahu penting, jelas kita butuhkan untuk kita
memahami bagaimana 'gaya' dan kekuatan kita dalam berhubungan dengan orang
lain. Jenderal *George Patton*, yang memimpin pendaratan di Normandia,
sebetulnya pernah dianggap sebagai komandan yang lebih jago dalam  *following
*daripada berada di depan. Kita harus mengenal cara kita bekerja dan juga
bekerjasama dengan orang lain. Apakah kita lebih senang berfungsi sebagai
penasehat  atau justeru meng'*enjoy*' pengambilan keputusan berisiko.
Apakah kita dalam mengambil keputusan terbiasa Mandiri atau harus bertanya
kepada beberapa pihak terlebih dahulu. Ini adalah gaya kita berhubungan, di
mana kita bisa memanfaatkan hubungan dengan orang lain untuk menjalankan
pekerjaan kita.

*Mempraktekkan "caring manner" *
Organisasi, tidak ada lagi yang dibangun dengan kekerasan, seperti jaman
perbudakan. Organisasi masa modern di bangun atas dasar: *trust*, rasa
percaya. Selanjutnya rasa percaya itu perlu dikembangkan, tidak statis.
Orang yang percaya pada orang lain, tidak selalu suka satu sama lain,
apalagi memahami satu sama lain. Sekarang ini, orang berorganisasi secara
multifungsi. Begitu banyak profesi dan fungsi berkumpul dan membentuk
organisasi. Kita jelas perlu trampil membangun komunikasi yang dilandasi
kepercayaan dan hubungan baik yang kuat, karena setiap profesi biasanya
memiliki 'bahasa'-nya masing-masing. Para *engineer *berbicara dengan
bahasa teknis, dan karena berfungsi di produksi juga berbicara berbahasa
produksi. Di sisi lain, barisan sales, terbiasa berbicara dengan bahasa
pasar saat mengajukan permintaan modifikasi produk. Perbedaan persepsi,
bahasa, dan pemahaman jelas tidak terhindari. Salah siapakah ini? Kitalah
yang berkewajiban untuk membuat lawan bicara atau mitra kita 'paham'
tentang apa yang ada dibenak kita.

Bersikap ramah, baik, tidak kasar, mudah diakses dan diajak bicara adalah
sikap yang sangat efektif dalam pengembangan diri dan karir. Bila anak buah
ngeyel dan perlu dikoreksi, bukankah kita masih bisa mengkonfrontasi dengan
cara yang 'manis' dan tidak menyerang? Cara yang menegur yang 'merangkul'
malah berulang kali teruji lebih 'kena', lebih diingat dan menghujam bagi
lawan bicara kita. Bila kita tidak terbiasa memelihara 'caring manner,
sebetulnya bahayanya bukan saja berdampak pada emosi kita, tetapi juga pada
keadaan fisik. Bukankah banyak orang menderita '*stroke*' akibat konflik
dan ketegangan hubungan interpersonal yang tak bisa diatasi?

Tidak populernya sikap '*caring*' ini sebetulnya dilatarbelakangi tidak
adanya pendidikan formal yang mengajarkan sikap ini. Padahal, individu
perlu sekali bisa membedakan situasi di mana ia bertenaga, berkuasa, atau
sebaliknya '*powerless*', merasa 'intim ' atau tidak 'intim' dengan orang
lain. Kemampuan merabarasakan situasi ini sebetulnya adalah dasar untuk
mengembangkan '*trust*' antara kita dengan orang lain. Dalam hubungan
interpersonal, kita perlu memberi waktu untuk mawas diri, kemudian
memperbaiki, lalu mawas diri kembali, dan seterusnya. Banyak hal yang
sebenarnya diajarkan sejak kita masih balita seperti '*sharing*' , bersikap
*fair*, membuat evaluasi yang obyektif, merelakan, atau mengalah. Bila
setelah dewasa tiba-tiba kita tidak memelihara sikap kita, bisa jadi karena
kita mungkin menganggap hal ini tidak penting dan menomorduakannya
sepanjang pengembangan hidup kita. Padahal, bisakah kita bayangkan berada
di tengah orang yang tidak nyaman dan tidak percaya pada kita, dan terus
berada di situ bertahun tahun? Bisa jadi, ini juga menjadi penyebab kita
tidak terlalu sukses.



-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke