maaf sekedar copas ... mudah2an bermanfaat

Artikel Bodoh
Feb 4, '09 3:58 AM
http://akmal.multiply.com/links/item/55

Link: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/30/58/187713/rekor...
http://bankroma.multiply.com/journal/item/17/Rekor_Masuk_Neraka_

Menyusul fatwa MUI yang terbaru, berlomba-lombalah orang menjadi penjilat pada 
para perokok dan pedagangnya. Sepertinya dunia bakal kiamat kalau tidak ada 
lagi yang merokok. Sepertinya orang akan mati kelaparan seperti di Afrika sana 
kalau tidak lagi memasukkan asap najis itu ke dalam paru-parunya. Mereka minta 
kita untuk memaklumi para perokok, padahal yang menjual, membeli, dan menghisap 
rokok tak pernah minta pendapat orang lain sebelum berurusan dengan benda bodoh 
itu.

Saya, terserah mau dianggap mewakili kalangan non-smoker atau tidak, menegaskan 
bahwa di akhirat nanti insya Allah kami akan tuntut setiap miligram nikotin dan 
racun yang dimasukkan paksa ke dalam tubuh kami oleh para perokok yang sudah 
paham keburukan benda itu, apalagi yang hati kecilnya sudah tahu bahwa rokok 
itu haram. Jadi terserahlah, mau bilang apa. Kalau memang yakin rokok itu 
halal, nantikan saja tuntutan dari saya dan orang-orang semacam saya di akhirat.

Belakangan ini muncul pembenaran-pembenaran yang sangat menjengkelkan. Segala 
cara mereka lakukan untuk membenarkan rokok. Bahkan Emha Ainun Nadjib, yang 
kadung terkenal sebagai cendekiawan pun, ternyata menggunakan logika murahan 
ala Islam liberal. Semua demi rokok. Demi hawa nafsu para perokok, all for one, 
one for all! Ah, andaikan saja Emha sesigap dan setegas ini dalam membela 
rakyat Gaza tempo hari...

Mentang-mentang rokok dinyatakan haram (meskipun sebenarnya belum difatwakan 
100% haram), lantas ulama dituduh telah menjebloskan segenap rakyat Indonesia 
ke neraka. Rekor masuk neraka, katanya, sesuai judul artikel tersebut. 
Benar-benar komentar selevel orang kafir atau mualaf yang belum banyak mengerti 
ajaran Islam.

Perbuatan haram tidak membuat manusia terjeblos ke neraka. Perbuatan haram 
hanya menghasilkan nilai dosa, sebagaimana perbuatan baik menghasilkan nilai 
pahala. Kalau pahala dan dosa sudah ditimbang, barulah ditentukan bagi tiap 
manusia, apakah akan masuk surga atau neraka. Tidak sekonyong-konyong karena 
merokok lantas manusia dilempar ke neraka. Manusia pun tak sebodoh itu, apalagi 
Allah SWT.

Inilah provokasi tipikal Islam liberal, selalu mengada-adakan masalah yang 
tidak ada. Yang kecil dibesar-besarkan, yang biasa-biasa saja dibikin kelihatan 
ekstrem, yang normal dibuat gawat. Saya mengenal Emha sebagai orang yang 
cerdas, meskipun seringkali tidak sependapat dengannya. Tapi baru kali ini saya 
melihat dirinya menggunakan logika yang benar-benar merendahkan, memalukan, dan 
menghinakan dirinya sendiri.

Ah, label "cendekiawan" memang bisa melenakan, bahkan menyesatkan...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mau Gabung di AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)?
Kenal dulu dan ikuti langkah sukses mereka di:
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
BERGABUNG: http://tiny.cc/formulir
INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MAILING LIST: http://tiny.cc/milis
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa



--- In [email protected], "trus_terang" <trus_ter...@...> wrote:
>
> Tuhan 9 cm oleh Taufik Ismail
> Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
> Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
> tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
> Di sawah petani merokok,
> di pabrik pekerja merokok,
> di kantor pegawai merokok,
> di kabinet menteri merokok,
> di reses parlemen anggota DPR merokok,
> di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
> hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
> di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
> di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
> di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
> di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
> sangat ramah bagi perokok,
> tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
> Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
> di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
> di kampus mahasiswa merokok,
> di ruang kuliah dosen merokok,
> di rapat POMG orang tua murid merokok,
> di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
> apakah ada buku tuntunan cara merokok,
> Di angkot Kijang penumpang merokok,
> di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
> orang bertanding merokok,
> di loket penjualan karcis orang merokok,
> di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
> di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
> di andong Yogya kusirnya merokok,
> sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
> Negeri kita ini sungguh nirwana
> kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
> tapi tempat cobaan sangat berat
> bagi orang yang tak merokok,
> Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
> diam-diam menguasai kita,
>
> Di pasar orang merokok,
> di warung Tegal pengunjung merokok,
> di restoran di toko buku orang merokok,
> di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
> Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
> tak tertahankan asap rokok,
> bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
> menderita di kamar tidur
> ketika melayani para suami yang bau mulut
> dan hidungnya mirip asbak rokok,
> Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
> saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
> tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
> Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
> mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
> kita ketularan penyakitnya.
> Nikotin lebih jahat penularannya
> ketimbang HIV-AIDS,
> Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
> dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
> Bisa ketularan kena,
> Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
> di apotik yang antri obat merokok,
> di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
> di ruang tunggu dokter pasien merokok,
> dan ada juga dokter-dokter merokok,
> Istirahat main tenis orang merokok,
> di pinggir lapangan voli orang merokok,
> menyandang raket badminton orang merokok,
> pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
> panitia pertandingan balap mobil,
> pertandingan bulutangkis,
> turnamen sepakbola
> mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
> Di kamar kecil 12 meter kubik,
> sambil `ek-'ek orang goblok merokok,
> di dalam lift gedung 15 tingkat
> dengan tak acuh orang goblok merokok,
> di ruang sidang ber-AC penuh,
> dengan cueknya,
> pakai dasi,
> orang-orang goblok merokok,
> Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
> sangat ramah bagi orang perokok,
> tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
> bagi orang yang tak merokok,
> Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
> diam-diam menguasai kita,
>
> Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
> duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
> kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
> Mereka ulama ahli hisap.
> Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
> Bukan ahli hisab ilmu falak,
> tapi ahli hisap rokok.
> Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
> terselip berhala-berhala kecil,
> sembilan senti panjangnya,
> putih warnanya,
> ke mana-mana dibawa dengan setia,
> satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
>
>
> Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
> tampak kebanyakan mereka
> memegang rokok dengan tangan kanan,
> cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
> Inikah gerangan pertanda
> yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
> dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
> Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
> Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
> Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
> Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
> Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
> Kalau tak tahan,
> Di luar itu sajalah merokok.
> Laa taqtuluu anfusakum.
> Min fadhlik, ya ustadz.
> 25 penyakit ada dalam khamr.
> Khamr diharamkan.
> 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
> Daging khinzir diharamkan.
> 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
> Patutnya rokok diapakan?
> Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
> Wa yuharrimu `alayhimul khabaaith.
> Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
> karena pada zaman Rasulullah dahulu,
> sudah ada alkohol,
> sudah ada babi,
> tapi belum ada rokok.
> Jadi ini PR untuk para ulama.
> Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
> Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
> jangan,
> Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
> Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
> yaitu ujung rokok mereka.
> Kini mereka berfikir.
> Biarkan mereka berfikir.
> Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
> dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
> Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
> sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
> Korban penyakit rokok
> lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
> lebih gawat ketimbang bencana banjir,
> gempa bumi dan longsor,
> cuma setingkat di bawah korban narkoba,
> Pada saat sajak ini dibacakan,
> berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
> jutaan jumlahnya,
> bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
> dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
> diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
> Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
> tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
> karena orang akan khusyuk dan fana
> dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
> dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
> Rabbana,
> beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini
>



Kirim email ke