Untuk Nita:
Menyebutkan "peace", saya jadi teringat teman saya, mantan aktifis SU
yang energik dan enak diajak ngobrol, yang sepedanya sampai hilang tiga
kali selama tinggal di AIT :D
Untuk Pak Arriva:
Tidak disangka ternyata Pak Ariva tahu juga bagaimana temperamen-nya
mantu Pak Agun Gumelar itu. Secara skill saya (dan banyak yang
lainnya) mengakui dia memang hebat dan spesial, tapi mungkin karena
mental dan temperamen-nya itu yang menyebabkan dia jatuh terlalu cepat
("naik-turun-turun-turun" menurut termonologi Pak Ariva). Saat nonton
SEA GAMES di Naknon Rachasima tahun 2007 lalu saya sempat nonton dia
secara langsung. Cara dia menyampaikan protes ke penjaga garis seperti
meremehkan penjaga garis itu. Ini tentu saja tidak menimbulksn simpati
penonton.
Mengenai kenapa prestasi olahraga tim (keroyokan) Indonesia tidak ada
yang sampai mendunia seperti prestasi olahraga individual, ini yang
sulit dijawab. Namun saya kira ini karena untuk membentuk tim yang
kuat butuh banyak individu yang berkualitas baik dan juga sistem
pembinaan yang baik, tidak seperti olah raga individu yang dapat
menonjol karena ada satu atau dua orang yang hebat.
Misalnya, mungkin saja dalam tim sepakbola (atau volley, basket, dll)
Indonesia ada satu atau dua pemain yang prestasinya sangat menonjol,
tapi karena tidak ada teman-temannya yang kualitasnya hampir sama
dengan pemain yang hebat itu, akibatnya prestasi tim tidak bisa bagus.
Artinya, untuk membentuk tim tangguh tidak bisa didasarkan hanya
kebetulan terlahir seorang seperti Pele atau seorang seperti Maradona
di bumi Indonesia, tapi harus didasarkan pada sistem pembinaan dan
atmosfer olahraga yang kondusif sejak dini. Ini yang saya kira menjadi
kelemahan di Indonesia.
Salam,
F.T. Wong
Quoting [email protected] on 04/08/09:
hihiihih..
kayaknya bagus juga tuh jadi bahan tesis hehhehee peace!!!
Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/08/2009:
Kang Didin,
Saya kira bukan karena jarang berlatih. Coba aja tengok PSSI, kurang
apa soal perjalanan liga dari Liga Primer Jarum, Sampurna, Bank
Mandiri, dan lain-lain calon sponsor utama Liga Utama PSSI,
rekrutmen pemain asing, dan pelatih asing termasuk Mario Kempes
pahlawan Piala Dunia Argentina 1978 juga pernah melatih di
Indonesia, tapi tetep aja prestasi PSSI jalan di tempat, sementara
Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Thailand udah pada lari.Volley
ball, basket ball, base ball gak pernah ada cerita tim indonesia
bercerita di SEA games saja, kan? Ini cerita olahraga keroyokan.
Tapi tanpa basa-basi, Donald Pandiangan pernah meraih emas panahan
di olimpiade, Susi Susanti dan Alan Budikusuma pernah meraih emas di
olimpiade. Elias Pical pernah jadi juara OPBF walaupun jadi bulan2an
Khaosai Galaxy, Syamsul Anwar Harahap sama pernah jadi juara di
OPBF. Chris John malah jadi juara dunia kelas bulu versi WBA. Tonton
Suprapto kan kalau sekedar kelas Tour of d'Langkawi mah sudah
langganan juara. Ini cerita olahraga perorangan.
Latihan hanya salah satu faktor, tapi saya kira ada faktor genus dan
anthropologis yang perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan ini,
bagi kita termasuk Tim Indonesia di AIT, yang harus diperkuat adalah
cabang olahraga perorangan, gak usah ikutan voli dan sepakbola,
kalau hanya sekedar menang ...... gung aib.Atau kalau mau, latihan
voli dan sepak bola, sehari 3x (kalau argument Kang Didin benar).
Wassalam
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
--
Wong Foek Tjong
...studying for better serving
School of Engineering and Technology
Asian Institute of Technology
Thailand
Office tel: 66-2-524-6587
Residence tel: 66-2-524-7770
Mobile tel: 66-31-309760
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo