Pak Wong,
Saya bisa mematahkan argument Pak Wong bahwa membentuk team itu sulit.
Kesebelasan Piala Dunia Brazil 2002 yang juara di Jepang/South Korea
dibentuk oleh Scolari hanya dalam waktu 2 tahun dan jadi juara.Kalau kata
Pak Wong lagi: itu kan karena individunya bagus, ya itu tadi Pak Wong,
talent pemain brazil itu sudah dibentuk dari sononya, jadi faktor genus dan
anthropologis atau faktor apalagi kali, ada di sana. Jadi di Brazil ini
siapapun pelatihnya tidak akan kesulitan memilih pemain, karena stock-nya
buanyak.Kalau kesebelasan brazil kalah, itu bukan karena faktor teknik
individu, tapi lebih karena strategi pelatihnya saja yang salah.
Di Brazil itu (hanya denger cerita saja, dan belum pernah ke sana) setiap
orang (termasuk juga perempuannya) bisa bermain bola, dan candanya setiap
bayi brazil yang baru brojol bisa nendang bola. Saya pernah melihat film
dokumentasi tentang para pekerja offshore brazil. Mereka punya lapangan bola
mini di platform rig mereka, perusahaannya (walaupun perusahaan non-brazil)
menyediakan lapangan bola mini itu. Itulah hiburan bagi mereka, perusahaan
tahu kultur orang brazil.Malahan pernah salah satu klub indonesia jaman
Galatama, meng-hire pemain bola dari brazil tapi ternyata kelas RT paling
banter kelas kelurahan mereka, padahal di Indonesia bisa jadi kelas
nasional.Ini jelas kultur dan faktor genetik.
Pak Wong, PSSI berdiri (kalau tidak salah) tahun 1930, sudah 79 tahun !, dan
rakyat indonesia itu ada sekitar 230 juta jiwa, masa membentuk 22 orang saja
susahnya 1/2 mati?. Faktor genetik orang indonesia mungkin tidak cocok untuk
olahraga keroyokan, cocoknya olahraga perorangan. Lihat saja banyak pemain
bola yang berbakat jadi petinju kan? Di tengah2 main bola ada adu tinju,
jadi sebaiknya tinju saja yang dikembangkan, supaya kelas bulu, kelas
bantam, kelas terbang, dan kelas sejenisnya bisa dikuasai oleh orang
Indonesia.
Tapi ada satu phenomenon lagi tentang arti kelompok dalam khasanah bangsa
kita ini, kalau dalam arti negatif, indonesia juaranya dalam berkelompok,
contohnya keroyokan anak SMA vs SMA lain atau vs STM/SMK, anggota geng
motor, korupsi berjamaah anggota DPRD/DPR, dan ada lagi, kalau seorang (main
gitar), dua orang (main catur), tiga orang (main halma), 4 orang (main remi
atau gaple), lebih dari 4 orang (ngrampok) hahah :).
Kalau saya punya dana 5 milar rp, saya akan memberi scholarship untuk
seorang PhD yang berasal dari anak desa miskin tapi cerdas untuk study
anthropologi di amrik dan meneliti masalah ini, untuk kemajuan olahraga
bangsa ini.
Maaf Pak Wong ngelantur, soalnya nungguin info dari UNDP belum juga datang
padahal deadline report siang ini. Selamat (jangan) memilih (maling dan
calon maling).
Salam
ariva
----- Original Message -----
From: "Wong Foek Tjong" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, April 08, 2009 5:39 PM
Subject: Re: [AIT-Indo] Olah raga perseorangan vs olah raga keroyokan
Untuk Nita:
Menyebutkan "peace", saya jadi teringat teman saya, mantan aktifis SU yang
energik dan enak diajak ngobrol, yang sepedanya sampai hilang tiga kali
selama tinggal di AIT :D
Untuk Pak Arriva:
Tidak disangka ternyata Pak Ariva tahu juga bagaimana temperamen-nya mantu
Pak Agun Gumelar itu. Secara skill saya (dan banyak yang lainnya)
mengakui dia memang hebat dan spesial, tapi mungkin karena mental dan
temperamen-nya itu yang menyebabkan dia jatuh terlalu cepat
("naik-turun-turun-turun" menurut termonologi Pak Ariva). Saat nonton SEA
GAMES di Naknon Rachasima tahun 2007 lalu saya sempat nonton dia secara
langsung. Cara dia menyampaikan protes ke penjaga garis seperti
meremehkan penjaga garis itu. Ini tentu saja tidak menimbulksn simpati
penonton.
Mengenai kenapa prestasi olahraga tim (keroyokan) Indonesia tidak ada yang
sampai mendunia seperti prestasi olahraga individual, ini yang sulit
dijawab. Namun saya kira ini karena untuk membentuk tim yang kuat butuh
banyak individu yang berkualitas baik dan juga sistem pembinaan yang baik,
tidak seperti olah raga individu yang dapat menonjol karena ada satu atau
dua orang yang hebat.
Misalnya, mungkin saja dalam tim sepakbola (atau volley, basket, dll)
Indonesia ada satu atau dua pemain yang prestasinya sangat menonjol, tapi
karena tidak ada teman-temannya yang kualitasnya hampir sama dengan pemain
yang hebat itu, akibatnya prestasi tim tidak bisa bagus. Artinya, untuk
membentuk tim tangguh tidak bisa didasarkan hanya kebetulan terlahir
seorang seperti Pele atau seorang seperti Maradona di bumi Indonesia, tapi
harus didasarkan pada sistem pembinaan dan atmosfer olahraga yang kondusif
sejak dini. Ini yang saya kira menjadi kelemahan di Indonesia.
Salam,
F.T. Wong
Quoting [email protected] on 04/08/09:
hihiihih..
kayaknya bagus juga tuh jadi bahan tesis hehhehee peace!!!
Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/08/2009:
Kang Didin,
Saya kira bukan karena jarang berlatih. Coba aja tengok PSSI, kurang apa
soal perjalanan liga dari Liga Primer Jarum, Sampurna, Bank Mandiri, dan
lain-lain calon sponsor utama Liga Utama PSSI, rekrutmen pemain asing,
dan pelatih asing termasuk Mario Kempes pahlawan Piala Dunia Argentina
1978 juga pernah melatih di Indonesia, tapi tetep aja prestasi PSSI
jalan di tempat, sementara Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Thailand
udah pada lari.Volley ball, basket ball, base ball gak pernah ada cerita
tim indonesia bercerita di SEA games saja, kan? Ini cerita olahraga
keroyokan.
Tapi tanpa basa-basi, Donald Pandiangan pernah meraih emas panahan di
olimpiade, Susi Susanti dan Alan Budikusuma pernah meraih emas di
olimpiade. Elias Pical pernah jadi juara OPBF walaupun jadi bulan2an
Khaosai Galaxy, Syamsul Anwar Harahap sama pernah jadi juara di OPBF.
Chris John malah jadi juara dunia kelas bulu versi WBA. Tonton Suprapto
kan kalau sekedar kelas Tour of d'Langkawi mah sudah langganan juara.
Ini cerita olahraga perorangan.
Latihan hanya salah satu faktor, tapi saya kira ada faktor genus dan
anthropologis yang perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan ini, bagi
kita termasuk Tim Indonesia di AIT, yang harus diperkuat adalah cabang
olahraga perorangan, gak usah ikutan voli dan sepakbola, kalau hanya
sekedar menang ...... gung aib.Atau kalau mau, latihan voli dan sepak
bola, sehari 3x (kalau argument Kang Didin benar).
Wassalam
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
--
Wong Foek Tjong
...studying for better serving
School of Engineering and Technology
Asian Institute of Technology
Thailand
Office tel: 66-2-524-6587
Residence tel: 66-2-524-7770
Mobile tel: 66-31-309760
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo