Pak Taryoko yg terhormat,
 
dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak dan kepada Telkom, saya 
ingin memberikan pendapat saya........
 
Pendapat saudara Dedy rasa2nya benar juga, mirip2 lah dengan kasus angkutan 
umum.....di spore, malaysia dan thailand sudah dari dulu punya angkutan umum 
massal seperti MRT, eh kita mah sampe sekarang ngga ada2, malah kabarnya 
pembangunan monorel dan busway 2 dan 3 terhenti ya ?
 
Betul Pak, di Changi emang gratis di mana2, jenis koneksinya pun macem2, ada 
dial-up, ada wireless, ada LAN, dsb. Tempatnya pun tersebar dan gratis. Maklum, 
airfare SQ memang di atas rata2, orang bule pun berpendapat demikian. Mungkin 
terjadi subsidi silang, karena dari segi fasilitas, makanan, fleet, rasanya 
banyak airline lain yg sama kok. Tapi, airfarenya bisa di bawah SQ.
 
Di Sepang sampe kemarin saya ke sana memang ngga ketemu koneksi. Tapi, saya 
juga ngga berlama2 di airport, soalnya sudah check-in di KL sentral dan sudah 
block-seat dari jakarta.
 
Saya juga ngga tahu kenapa di US, warnet bisa 10 dolar. Mungkin koneksinya 
memang jauh lebih hebat dibanding kita ? atau ada regulasi dari pemerintah ? 
atau karena keadaan ekonomi mereka ? Saya pernah lihat di dslreports.com, 
mereka kasih perbandingan hasil speed-test, saya lihat di Kanada hasil d/l 
ratenya mencapai 7,5 mbps, sementara saya coba punya saya cuman 250 kbps. Kalo 
kualitas beda, sudah wajar beda harga.
 
Bila Bapak mengatakan bahwa Telkom berjasa dengan memberikan layanan sampai ke 
daerah2, saya memang salut dan berterima kasih kepada dedikasi Telkom. Tapi, 
bukankah Telkom memang adalah BUMN dengan misi ( dan sudah seharusnya ) 
memberikan layanan ke seluruh nusantara. Kalo memang bukan Telkom, lalu siapa 
yg BOLEH memberikan layanan sampai ke daerah2 ? 
Mungkin mirip dgn PLN, PDAM, Merpati, dsb. Wings Air biarpun punya Dash-8, ngga 
mau tuh Pak terbang di pedalaman Papua. Cuman Merpati yg terbang di sana. ( 
Trigana, dsb kan tidak punya "jaringan" terbang nasional spt Merpati, Lion, 
dsb.)
 
Saya juga mengerti kok Pak posisi Telkom. Rasanya, bukan salah Telkom , mungkin 
? 
Menurut saya, mungkin karena pemerintah kita tidak terlalu memprioritaskan 
internet, sehingga tarif jadi mahal. Jangankan internet yg masih belum 
dibutuhkan  banyak rakyat Indonesia ( dan mungkin masih termasuk kebutuhan 
"mewah" ? ), wong BBM aja yg sudah jelas2 kebutuhan rakyat banyak, masih juga 
dinaikkin. Padahal Om Kwik sudah bilang , ngga ada yg namanya subsidi. Apalagi 
setelah saya baca bahwa akuntansi pemerintah menganut cash basis ( kalo ngga 
salah dulu waktu kuliah, belajar Akuntansi Pemerintahan, memang begitu 
sich.....)
 
Saya cuman berharap aja, agar kinerja Telkom bisa membaik. Bisa lebih 
memperhatikan konsumen. Lebih bisa care kepada penanganan ADSL dan 
telkomnetnya. Dan, mudah2an ngga ikut2an korupsi.
 
Mohon maaf bila salah.
 


dedy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:intinya antara negara lain dan indonesia itu 
jauh..jauh sekali saudara-saudara kalau indonesia yg namanya infratruktur untuk 
adsl itu baru2 ini, sedangkan untuk negara lain itu sudah jauh hari mrk 
menginvestasikannya. jadi kalau membedakan anatara indonesia dan negara lain 
udah gak bisa dibandingkan. negara lain keuntungannya udah dari kapan taun mrk 
menikmati sedangkan indonesia baru membangun jelas saja mahal. 


terima kasih

TARYOKO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Betul mas Baskoro,

Mas Ihsan, saya belum tahu tarif ADSL di Malaysia. Kalau murah dan
kualitasnya bagus, wah...itu yang jadi harapan kita semua.
BTW, saya sendiri kadang bingung dengan informasi tarif-tarif di luar negeri
yang dibandingkan dengan tarif di negara kita. Katanya di singapura murah,
di brunei murah, di malaysia murah. SAya sendiri sih mengalami, kalau di
Changi memang malah gak usah bayar alias gratis, wong itu fasilitas bandara.
Di Malaysia, saya belum pernah, tapi di bandaranya saya gak menemukan
hotspotnya (paling tidak 2 tahun lalu). SEdangkan di Los Angeles, tepatnya
di El Segundo saya justru pernah makai di Warnet yang tarif perjamnya
US$10/jam!!(alias Rp.100.000/jam. bandingkan dengan warnet kita yang bahkan
ada yang cuma Rp.2.500/jam). TArif tadi baik untuk pengunjung yang mau
menggunakan Windows atau MacOS. Mungkin saja saya salah masuk warnet, tapi
kalau misalnya warnet-warnet disana seperti itu, alangkah mahalnya dibanding
dengan tarif disini.... Begitu juga Melbourne/Sidney yang notabene kawasan
mahasiswa indonesia disana,  kalau di kurs rupiah, tarif warnetnya gak murah
juga kok...

Ilustrasi diatas saya sampaikan bahwa mungkin memang kita ada kurang dan ada
lebihnya. Tapi bagaimanapun, dan siapapun, mestinya memang harus selalu
berusaha memberikan layanan yang baik, dengan harga yang "baik" untuk ukuran
sekelilingnya.
Mas Ihsan, mohon dipertimbangkan juga lho ya bahwa TelkomNet Instan yang
bisa menjangkau hampir seluruh wilayan nasional kita dengan harga yang sama,
sangat disyukuri saudara saudara kita di luar kota besar seperti kita berada
saat ini, karena belum adanya ISP yang tergerak berinvestasi kedaerah
tersebut. Bahkan yang terakhir kebijakan untuk memberikan subsidi ke dunia
pendidikan, adik-adik kita di sma,sd, smp juga Bapak-bapak guru yang telah
mendidik kita, mungkin layak untuk kita pertimbangkan.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Official Web Site : http://www.awari.or.id
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Web,archive: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke