Salam, On Nov 15, 2008, at 9:13 PM, selarasmilis wrote:
> http://alexarussia.blog.friendster.com/2008/11/persepsi-salah-dalam-menilai-produk-akses-layanan-internet/ > > Persepsi Salah Dalam Menilai Produk Akses Layanan Internet Hwaduh, ini mencoba menjelaskan sesuatu yang sudah jelas tapi dianggap salah dengan pengertian dan penjelasan yang salah juga? > didominasi oleh Internet, karena pola persambungannya menganut pola > liberal. Meski demikian ada beberapa negara yang sadar akan bahayanya > Internet sehingga tetap membatasi peran. Internet Apa maksudnya pola sambungan internet menganut pagam liberal? Internet adalah infrastruktur yang bebas, siapapun asalkan memenuhi standar teknis tertentu bisa terkoneksi ke Internet. Kalau tidak memenuhi standar tentu dengan sendirinya tidak akan tersambung. Misalnya tidak menggunakan IP address. Internet tidak menganut paham apapun kecuali open platform atau tepatnya universal platform yaitu protokol TCP/IP. Nggak ada negara manapun di dunia ini yang membatasi peran internet. Yang dibatasi biasanya adalah konten yang tidak sesuai dengan tata nilai, hukum perundangan yang berlaku setempat. Salah satunya dengan kebijakan regulasi konten. Kebijakan ini ada yang proaktif (misalnya dengan filtering) atau pasif (menyerahkan kepada kebijakan penyelenggara dan pengguna). Sampai sejauh ini Indonesia menganut model yang kedua. > Saat ini konsumen dalam berlangganan atau memanfaatkan jasa internet > dari penyedia jasanya telah mengalami kekacauan pemahaman dan makna. > Saat ini satu-satunya ukuran yang lazim digunakan oleh ukuran benda > maya yang dinamakan akses Internet adalah bandwidth. Bandwidth bisa > diartikan dalam bahasa Indonesia adalah lebar pita atau kanal. Sebagai > misal 1 Mbps adalah 1 megabits per second, atau bisa digunakan > untuklewat data/transmisi object sebesar 1024/8 = 128 Kilobytes dalam > 1 detik. Itu teori, faktanya tidak tepat seperti itu, paling tidak karena ada 2 hal lagi yang mempengaruhi yaitu kecepatan transmisi data yaitu overhead dan latency. Overhead adalah kerugian kapasitas yang diakibatkan oleh percakapan antar protokol dan device yang dilewati oleh paket data sehubungan dengan tata pelaksanaan dan kontrol pengiriman dan penerimaan paket data tersebut. Latency adalah kerugian waktu yang timbul karena terjadinya proses di dalam setiap perangkat (termasuk oleh sebab mekanis - seperti laju transfer harddisk) yang dilalui oleh paket data dan proses yang terjadi di dalam pengolahan paket data oleh aplikasi (kerugian akibat proses komputasi). > Selain faktor lebar pita, maka sebenarnya adalah ada unsur dimensi > waktu atau yang disebut delay time. Sambungan Fiber Optic dari USA ke > Indonesia diukur dengan dimensi waktu menghasilkan kira2 250ms-300 ms. > Sedangkan Satelit, rata2 dari bumi ke orbitnya menempuh dimensi waktu > kira2 600 ms Faktanya kebanyakan aplikasi Internet tidak sensitif terhadap delay atau latency bahkan banyak teknologi yang pada dasarnya dirancang untuk adaptif terhadap kondisi ini karena memang sifat TCP/IP seperti ini. Beberapa aplikasi memang sensitif seperti voice, karena lingkungan implementasi sebelumnya berbeda sama sekali dengan TCP/IP. > Dari adanya dua dimensi tersebut, yaitu dimensi lebar atau ruang, dan > dimensi waktu maka menghasilkan suatu output yang merupakan perpaduan > dari kedua dimensi tersebut. Dalam realitanya saat ini terjadi salah > kaprah terhadap sistem pengukuran layanan akses Internet. Ukuran yang > dipakai hanyalah lebar bandwidth. Yang salah kaprah adalah pengertian user :) Selama ini bandwidth identik dengan kecepatan akses, padahal jelas bukan hehehe. Kadang salah kaprah ini disuburkan sendiri oleh kalangan ISP. Kalau anda menggunakan suatu saluran akses yang berbeda-beda kapasitas bandwidthnya (misalnya 128 kbps, 1 mbps, 1gbps) sendirian untuk membuka 1 web site text berukuran 10 kbytes, tidak akan ada bedanya dalam hal kecepatan. Baru akan terasa ada perbedaan kecepatan akses apabila ukuran web site lebih besar dari kapasitas saluran (bandwith yang tersedia. Perbedaan kecepatan terjadi karena sebagian data yang lebih besar dari kapasitas saluran akses akan dipecah menjadi unit yang lebih kecil untuk dimasukkan ke dalam sistem antrian. Dengan kata lain, pada dasarnya kecepatan transfer data bergantung pada besar ukuran data dan besar kapasitas saluran yang digunakan untuk mentransmisikan data tersebut. Ditambah faktor overhead protocol, latency dan antrian (metodenya berbeda-beda). > Lebar bandwidth bisa saya gambarkan sebagai lebar jalan. Misal lebar > jalan tersebut adalah 100 m. Jalan atau infrastruktur tentu digunakan > oleh informasi yang akan lewat, saya gambarkan sebagai mobil. Mobil > ini untuk mencapai tujuan tentu melewati jalan, dan mobil tersebut > mempunyai kecepatan dalam melewati jalan sampai ke tujuan. Dalam analogi ini, kecepatan mobil sebenarnya adalah sama. Yang membedakan adalah, apakah setiap mobil mengalami hambatan? Belum tentu. Ada yang terhambat ada yang tidak. Sehingga akhirnya kecepatan menjadi tidak sama walaupun paket yang dikirimkan asal dan tujuannya sama serta menggunakan saluran pengiriman yang sama pula. Yang mungkin menghambat pengiriman ini adalah adanya antrian, tabrakan dan retransmisi karena data yang dikirimkan rusak atau tidak lengkap. > Kemajuan teknologi tansmisi data, memungkinkan perkembangan sistem > transmisi data. Infrastruktur jalan yang lebarnya 100 meter, mungkin > bisa diambil sebagai titik absolut, dan kalaupun akan diperlebar tentu > harus membangun perlebaran infrastruktur yang memakan biaya. Namun > perkembangan teknologi transmisi data ke arah efisiensi memungkinkan > sistem transmisi dari lebar jalan absolut 100 meter yang bila diukur > secara standar bisa digunakan oleh 4 truk besar lewat secara bersamaan > dengan dimensi waktu tempuh, bisa menjadi ditempuh 8 truk besar. Hal > ini adalah memperkecil object yang lewat infrastruktur jalan yang > sudah fixed. Dengan kemungkinan ini maka data yang diterima dari > pengirim melalui lebar jalan yang sama akan lebih banyak. Mungkin analogi ini maksudnya kompresi data? Kalau iya, maka kompresi terjadi di layer aplikasi bukan di layer transport ke bawah. Artinya, sebelum dikirim, data dimampatkan terlebih dahulu agar ukurannya lebih kecil sehingga diharapkan bisa efisien dalam memanfaatkan kapasitas saluran akses. > Infrastruktur jalan yang sudah fixed sebenarnya saat ini sudah terlalu > banyak galian pipa baik dari pln, ataupun telkom, dan bahkan banyak > lobang. Dampaknya adalah obyek yang lewat bisa terjerembab dan sampai > tujuan tidak utuh sehingga titik akhir tujuannya menolak ketidakutuhan > ini dan mengembalikan ke pengirim. Hal ini sebenarnya juga seperti > surat yang sampai penerimanya telah sobek sehingga dikirimkan ke > pengirimnya kembali. Hal inilah yang disebut dengan kerusakan sistem > tcp. > > Tcp adalah Transmission Control Protokol atau sistem transmisi yang > membawa data yang dikirim dari pengirim ke tujuan penerima, kalau isi > data atau kulit pembungkus datanya rusak maka dikembalikan lagi ke > pengirim, dan pengirim berusaha mengirimkannya kembali. Hal ini > menyebabkan ketidakefisiensi. Fair, ini disebut dengan proses retransmisi. Retransmisi terjadi memang karena paket rusak. Nah, rusaknya paket ini diakibatkan oleh antara lain antrian yang terlalu panjang (sehingga melebihi TTL) atau karena gangguan dalam saluran. > TCP didesain hanya untuk dimensi waktu tempuh 50 ms, diatas itu telah > terjadi rawan kerusakan dan tingkat kerusakannya akan selaras dengan > semakin jauhnya dimensi waktu tempuh. Dimensi waktu tempuh 300 ms > diperkirakan akan membuat transmisi ulang atau inefisiensi pengiriman > yang memakan lebar jalan kira2 sekitar 30% Ini tidak benar. Paket TCP bisa cukup lama berada di dalam jaringan tergantung setting Time To Live (TTL). > Jalan atau bandwidth sendiri tentu akan selalu bertemu jalan lain yang > tidak searah atau bisa berbelok, untuk itu fungsi router adalah > mengarahkan tujuan. Misal mobil a mau ke bandung maka melewati > perempatan, maka routerlah yang akan memberikan jalan terdekat ke > bandung. Pada perkembangannya teknologi telah membuat jalan bersambung > jalan yang diarahkan oleh traffic light router dibuat lebih efisien. Dalam terminologi routing (terutama eksternal routing), belum tentu lintasan terpendek adalah yang terbaik. Ada perhitungan berdasarkan algoritma vektor (misalnya dalam routing dinamik) yang dilakukan router untuk menghitung berbagai macam faktor (misalnya jenis paket, prioritasnya, kapasitas saluran, antrian, latency) sebelum memutuskan saluran dan lintasan mana yang terbaik untuk melewatkan suatu paket tertentu. Teknologi yang terbaru seperti MPLS menerapkan model switching sebagai kombinasi routing sehingga mampu lebih efsisien dalam mengatur lalu lintas data sekaligus meningkatkan perlakuan kualitas kapasitas pada level yang selalu sama di setiap titik. > Seolah-olah jalan yang bersambungan dan perempatan2 yang diatur arus > trafficnya oleh router ditutup sehingga seolah2 hanya ada 1 jalan tol > haiway dengan mengabaikan setiap perempatan dan router. Inilah yang > disebut tunnel/vpn/mpls. Teknologi meski sekilas kelihatan simple > karena seperti flyover jalan, namun mempunyai banyak kelemahan, karena > pembungkus datanya membutuhkan ruang lebih banyak, sehingga lebih > boros atau data yang bisa dibawa dalam satu packet lebih kecil. Selian > itu sebenarnya teknologi ini mem-bypas banyak traffic light atau > router sehingga lebih mudah mengakibatkan kekacauan atau tabrakan. Ini tidak benar. Paket VPN atau tunnel diperlakukan sama persis sebagaimana paket lainnya di dalam jaringan. VPN hanya mengkamuflase/ menyembunyikan paket asli dengan cara enkripsi di dalam paket baru. Ukuran paket baru tentu saja akan sedikit lebih besar dari paket aslinya karena ada tambahan informasi header VPN. > Teknologi yang lebih canggih adalah ibarat seperti kartu lebaran,ada > 10 orang ingin mengirim kartu lebaran ke 1 orang, namun teknologi > sortir bisa mendeteksi bahwa isi 10 surat lebaran dari orang yang > berbeda dan isinya sama, karena kartu lebaran biasanya diproduksi > massal/tidak ditulis sendiri sehingga banyak kesamaan kepada satu > tujuan, sehingga teknologi sortir cukup mengirim 1 surat lebaran ke > tujuan dan memberi noticed bahwa surat itu juga dikirim oleh 10 orang > lainnya . Inilah yang dinamakan proxy, efisien. Seseorang yang > mengirim kartu lebaran yang sama dengan tujuan yang sama, akan segera > mendapat respon tanda terima dari kantor pos bahwa kartu lebarannya > sudah sampai tujuan dengan lebih cepat, karena sebelumnya sudah > terkirim mewakili pengirim lain yang isinya sama dengan yang lainnya. Mungkin maksudnya ini multicast? Kalau iya, maka aplikasi IP multicast tidak dapat diterapkan untuk aplikasi pada umumnya. Hanya cocok digunakan untuk aplikasi khusus seperti misalnya multimedia streaming. IP multicast sendiri pada dasarnya menuntut kapasitas saluran yang memadai dengan kualitas yang terbaik. > Teknologi Proxy sendiri saat ini berkembang sampai ke level paling > dasar komunikasi data,yaitu bit proxy, sehingga keakuratan isi data > akan lebih besar, dan lebih bisa membedakan mana object yang sama dan > berbeda dalam 1 halaman akses. Teknologi ini juga berkembang ke arah > Intelligent proxy atau server proxy bisa mendeteksi situs2 yang sering > diakses sehingga sebelum pengakses mau mengakses maka sudah distore di > local copy, atau karakter pengakses bisa dideteksi atau diketahui > terlebih dahulu dengan melihat kuantitas atau kecenderungan pengakses > sehingga ketika pengakses mencari sesuatu informasi maka hasilnya juga > akan memunculkan second opinion informasi sesuai yang dibutuhkan > pengakses. Hal ini saya sebut ilmu psikologi proxy/intelligent proxy, > atau juga pre-fetch proxy. Hal ini akan mengakibatkan percepatan > dimensi waktu. Proxy tidak mempercepat laju transfer data. Efek percepatan itu terjadi pada user karena sebagian obyek telah diduplikasi dan disimpan dalam local cache, sehingga user berikutnya tidak perlu mengambil dari sumber asal. Maka jelas bahwa fungsi proxy sebenarnya adalah mereduksi atau menghemat penggunaan saluran akses. Jadi bukan mempercepat. Justru umumnya keberadaan proxy meningkatkan latency jaringan secara keseluruhan. > Suatu Internet Service Provider, sebenarnya adalah suatu perusahaan > infrastruktur penghubung jalan, mereka menyambungkan semua perangkat > teknologinya ke suatu jalan yang besar/backbone, dan kemudian > mencabangkannya atau membagi-bagikannya ke dalam unit2 kecil. Apabalia > jalan hi-way yang disambungkan tersebut, misal tol pondok gede jakarta > dan untuk mengecer ke jalan2 kecil disekitas pondok gede jakarta, maka > jelaslah pula bahwa kualitas layanan Internet yang diberikan akan > tidak memuaskan, karena dari backbone-nya atau tol pondok gedenya > sendiri telah macet, sehingga pasti akan mengakibarkan jalan2 kecil > yang tersambung ke jalan tol besarnya pasti juga akan macet. Sumber > yang jelek tentu akan menghasilkan hasil yang jelek juga Distribusi yang sesuai standar kualitas dan pelayanan tentu akan menghasilkan jaminan akses yang sesuai dengan harapan user. Proses distribusi bagaimanapun tentu harus terjadi, analogi dengan saluran PLN, tidak mungkin sebagai end user anda mengharapkan kapasitas listrik MEGA WATT di rumah anda bukan? Selain itu pemborosan juga sebenarnya tidak ada manfaatnya untuk anda sendiri. Memang ada kecenderungan kapasitas distribusi end user semakin meningkat dengan semakin majunya teknologi broadband, yang semula menggunakan modem dial up, kini sudah dilayani dengan teknologi xDSL hingga FTTH. > Faktor lain yang bisa mengakibatkan ISP mempunyai layanan jelek meski > sudah membeli backbone yang bagus, namun apabila pembagian pengaturan > traffic atau prioritas, maka layanan akses Internetnya juga pasti akan > amburadul. Hal ini bisa saya ibaratkan meski jalan lebar, namun kalau > lampu lalu lintasnya tidak sinkron mengatur prioritas mobil yang lewat > maka akan terjadi kecelakaan yang sering. Sebenarnya retransmisi akibat tabrakan lebih banyak terjadi karena buruknya manajemen pengaturan lalu lintas data di tingkat ISP atau bahkan karena tidak ada manajemen sama sekali, semua user dibiarkan rebutan. Atau itu terjadi akibat kesalahan user sendiri yang over ekspektasi sehingga perilakunya cenderung meng-abuse saluran akses, misalnya dengan terus-menerus mencoba memonopoli jaringan. Pada dasarnya TCP/IP adalah protokol yang mengatur akses melalui pembagian (sharing) secara random baik itu kapasitas akses maupun pewaktuan, sehingga setiap user harus bersabar untuk menggunakan kapasitas saluran secara bergantian, bukan berusaha memonopoli. Jadi, sebenarnya tidak ada backbone baik atau buruk karena pada level backbone misalnya tier-1 provider, mereka hanya menyediakan kapasitas saja, tidak menyediakan manajemen pengaturan. Baik buruknya layanan ke end user ditentukan oleh kemampuan ISP dalam mengelola traffic usernya. > Melihat dari semua faktor2 itu yang mempengaruhi suatu kualitas > layanan Intenet maka saya berpendapat bahwa sebenarnya ukutan layanan > Internet tidak selayaknya diukur hanya dari lebar bandwidth. Ya, tentu saja. Sejak dulu juga begitu :) Masalahnya justru kebanyakan ISP menyederhanakan masalah kualitas layanan hanya semata-mata berdasarkan kapasitas saluran semata (bandwidth), parahnya ini diidentikkan pula dengan kecepatan akses. Padahal, jelas tidak demikian. Akibatnya banyak user kecewa karena salah pengertian maka punya harapan yang terlalu tinggi. > Apakah tidak mungkin bandiwidth 128k lebih cepat daripada bandwidth > 512k? Ini pertanyaan dengan pengertian yang salah :) Bandwidth bukan ukuran kecepatan! > Jawaban saya sangat mungkin, karena > > 1. Berapa besar proses retransmisi ulang > > 2. Bagaimana dengan dimensi waktunya? > > 3. Bagaimana dengan sistem pengaturan trafficnya? Apakah dedicated > atau shared? > > 4. Bagaimana dengan backbone atau jalan hi-way lintas negaranya? > Apakah sudah sesak? > > 5. Bagaimana dengan teknologi2 penunjang lainnya seperti Intelligent > Proxy? 5 pertanyaan ini tidak perlu muncul kalau pengertiannya sudah benar hehehe :) > Dari kesimpulan tersebut, saya berpendapat akan lebih jernih jika > suatu layanan akses Internet diukur dari kecepatan transmisi request, > respond tujuan terhadap request, dan kecepatan aliran data dari tujuan > ke pemintanya > > Ada beberapa situs benchmarking yang digunakan untuk mengukur kualitas > layanan akses Internet suatu provider yang menggunakan banyak > parameter2 dari yang saya ulas diatas sehingga hasilnya akan lebih > akurat daripada sekedar parameter MRTG yang hanya menunjukkan lebar > jalan. Tidak ada metode benchmark di Internet yang akurat. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhi. MRTG bukan alat ukur kualitas layanan karena MRTG hanya menunjukkan penggunaan kapasitas saluran pada suatu peridode waktu. Kualitas layanan harus diukur berdasarkan ekspektasi atau tingkat kepuasan penggunanya. Setiap user tentunya unik, mereka punya kebutuhan masing-masing. Parameternya tentu saja lebih berkaitan dengan layanan bukan teknis. Kalau secara teknis, pada umumnya, setiap ISP punya standar yang kurang lebih sama saja untuk setiap layanan yang ditujukan pada segmen pengguna tertentu, misalnya untuk corporate, untuk rumahan, warnet dsb. sudah ada standarnya. > Apakah seorang user Internet sebenarnya lebih mencari kenyamanan > dengan kecepatan data yang bisa diperoleh atau hanya malah senang > memilih dikasih tahu atau dicekoki oleh perusahaan jasa penyedia > internetnya bahwa dirinya sudah dikasih bandwidth 10 Mb? Nah, itulah yang disebut dengan ekspektasi pengguna. Parameternya bukan teknis, tapi seberapa baik cara anda melayani. _______ Regards, Pataka ------------------------------------ Official Web Site : http://www.awari.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

