Thanks banget2 untuk Mbak2 yang sudah menjawab pertanyaan saya:
- Mbak Ani yang menjawab lewat japri (karena ada menyebut merk2 
tertentu) atas sharing pengalaman dan info yang lengkap,
- Mbak Ita Prawitadewi atas sharing dan advise-nya  yang oke,
- Mbak Jurike Armanto atas masukannya dan kiriman artikelnya yang 
bermanfaat,
- Mbak Rarry – bundanya Lintang, atas sharingnya, mudah2an anaknya 
tidak terkena TB ya Mbak,
- Last but not least, Mbak Rina Rinso yang sdh mengingatkan saya 
membuat rangkuman ini, sori maklum saya anak baru masih suka keder :=)

Salam,
Shanty – mommy to Marvel


PERTANYAN:

Dear All,

Mohon pencerahannya.

Anak saya perempuan umur 2 tahun, pertumbuhan berat badannya SANGAT 
lambat, kalau tidak mau dibilang kurang. BB Lahir 2.9 dan TB Lahir 
47, sementara sekarang 2 tahun (lahir 7 Juni 2003) BB nya baru 9.3 
dan TB 82. Dsa-nya suspects anak saya terkena TB, di test mantoux 
positif dan sudah pengobatan 3 bulan, tidak naik juga berat badannya 
(sangat lambat kenaikannya), akhirnya dsanya merujuk anak saya ke 
ahli paru anak. Saat ini sudah pengobatan bulan ke3 lagi (jadi 
pengobatan TBnya mulai lagi dari awal) tapi kenaikannya masih saja 
lambat. Total 6 bulan pengobatan TB (walau diputus sebentar di 3 
bulan pertama) hanya naik sekitar 800 gram. Dulu dokternya bilang 
seharusnya dalam satu bulan naik 500 gram. Pernah dites lab dan 
hasilnya LEDnya sangat tinggi (40), menurut para dokter disebabkan 
penyakit infeksi di paru2nya (TB).

Diluar dari faktor pertumbuhan berat badannya, anak saya sangat aktif 
main/bergerak, happy dan riang2 saja dan jarang sakit, beberapa kali 
setelah berenang minum es krim tapi tidak terkena pilek. Bicaranya 
juga lancar, bisa bicara/komunikasi di telepon, bisa baca huruf A-Z, 
tahu semua warna, tahu banyak nama2 binatang dalam bahasa Indonesia 
dan Inggris. Dia juga sangat nyambung apabila diajak bicara. Makannya 
tidak susah dan cukup banyak. Tapi dia tidak mau minum susu 
formula/sapi. Saya masih menyusui walau hanya malam hari. 

Kira2 ada masukkan tidak apa yang menyebabkan anak saya susah naik 
berat badannya? Thanks a lot sebelumnya. 

Salam,
Shanty


JAWABAN:

>From Mbak Ita "ita_prawitadewi" <[EMAIL PROTECTED]>

Ibu shanty, 
kasus kita hampir sama.  
kalau anak saya, laras (lahir 6 juli 2003, 3250g, 49cm) skr berkisar 
10kg saja, itupun setelah ada intervensi selama 3 bulan dengan obat 
TBC (pyravit syrup, 1X/hari, dan tambahan vitamin Curcuma syrup dan 
Bilysin syrup). 

Tes mantouxnya waktu Sept 2003 borderline (9mm bordernya 10mm), tapi 
dr Sp.A bilang tidak apa2.  Waktu itu kami coba beri tambahan 
vitamin, dan enzym.  Tidak ada perubahan, maka Feb. 2005 dilakukan 
tes darah.  LED-nya 24, dr. bilang itu cenderung menguatkan 
kecurigaan adanya infeksi.  Makanya diberikan obat untuk profilaksis 
TBC.  Karena memang pyrazinamide itu hanya boleh diberikan sebentar 
saja, maka setelah akhir bulan ini stop.  Akan diobservasi lagi.

PBB-nya dari 8700g (mar05)- 9400g (apr05) - 9500g (may05 krn sakit 
pilek&batuk2minggu)- 9600 (jun05.  akhir juni ini kami akan tes darah 
lagi, dan bersama dr akan menilai hasil observasi 3bulan dan tes 
darahnya. sejauh ini dr. bilang bahwa pengobatan dalam right track, 
tidak over diagnosa. 

coba juga, ibu shanty tes mantoux atau rontgen, untuk menilai apa 
pembantu dan baby sitter terkena/open TB, menjadi suspek aktif atau 
inaktif. karena kalau melihat LED baby ibu shanty yang tinggi, 
mungkin ada kemungkinan tadinya ketularan.   

selain itu, lakukan cek berkala, apakah pembantu atau baby sitter 
bener kasi makan ke baby? sebab kalau ada infeksi paru, biasanya anak 
cenderung agak susah makan, kalaupun mau makan, asupannya dipakai 
untuk melawan penyakit infeksinya, akibatnya ya jadi PBB ndak naik 
secara signifikan. 

pada kasus saya, pembantu yang mengurus laras ternyata hasil rontgen 
dan tes darah dinyatakan suspek aktif.  kami obati dan dipulangkan 
untuk mengurangi resiko.  ternyata pula, si pembantu ini sering tdk 
telaten menyuapi laras. 

pembantu satu lagi, atas anjuran dr. umum yang membaca tes darah dan 
rontgennya, minum obat TB selama 3 bulan sebagai payung pelindung lah 
karena selama ini sekamar dgn pembantu yang suspek aktif itu, 
sekaligus untuk anak2 kami yang lainnnya. 

selain itu, ibu shanty dapat menghubungi dr. Hardiono D. Pusponegoro, 
beliau dpt dicapai lwt emailnya [EMAIL PROTECTED]  beliau kalau tdk salah 
adalah ketua IDAI (ikatan dr. anak indonesia) dan praktek Klinik 
Anakku di Kelapa Gading. advis2 beliau banyak membantu waktu kami 
mencari tau perkara Tb pada anak2. 

semoga berhasil ya bu!


>From Mbak Jurike Armanto <[EMAIL PROTECTED]>:

Halo mba Shanti...

Wah, anak kita hampir seumuran ya.. Kayla skrg hampir 2 tahun (lahir 
16 Agt 2003). BB lahir 2.75 kg dan TB 48 cm. Sekarang beratnya 
sekitar 10 kg. Kayaknya 6 bulan ini beratnya gak naik2 tuh... 
hehehe...Setiap jadwal ke DSA aku tanya, DSA-nya sih bilang gak apa-
apa. Selain itu memang aku & suami juga gak gede2 amat... jadi 
kayaknya emang turunan mungil.. hehehe... Kakaknya (skrg 6 th) juga 
beratnya cuma sekitar 20 kg, paling kecil di kelas. 

Kayla juga gak doyan susu. Jadi aku ganti dgn hasil olahan susu 
seperti keju, yoghurt dll atau susunya sudah dioleh jadi pudding, 
macaroni schotel dll. 
Test mantoux waktu itu hasilnya negatif, jadi gak usah rontgen. 
Keponakan yang seumuran dengan Kayla (lebih tua 3 minggu), dulu 
sempat kalah berat dengan Kayla waktu usia 9-15 bulan. Dia sempat 
suspect TB juga (ada orang dewasa di rumahnya yang ternyata TB), 
menjalani pengobatan dengan dokter paru anak & DSA, dan sekarang 
beratnya sama dengan Kayla.

Saran saya, coba selesaikan dulu saja pengobatan TB-nya dengan dokter 
yang sekarang. Jangan tengah2 ganti dokter, nanti mulai dari awal 
lagi dan tidak selesai-selesai.

Selesai pengobatan, coba test lab lagi. Kalau masih ada infeksi, 
biasanya bukan hanya LED yang tinggi tapi juga leukosit. Dan juga 
artinya pengobatan tersebut belum tuntas karena infeksinya belum 
hilang. KOnsultasikan lagi hasilnya dengan dokternya.
 
Semoga anaknya cepat sembuh ya mba...

Ike - mama Kemal & Kayla


>From Mbak Rarry - Lintang Anggita Rarasati <[EMAIL PROTECTED]>:

Dear Moms,
 
Menyambung masalah TB nih...
pengasuh anakku Lintang, minggu lalu batuk trus aku bawa ke dokter, 
ternyata gejala TBC. untuk mengurangi resiko, aku pulangkan dia dan 
aku kasih uang untuk berobat di kampungnya.

Malamnya aku langsung ke DSA anakku, trus dia bilang blom bs dilihat 
kalo baru sehari dua hari. Kemudian aku bilang mungkin aja dia 
sebenernya udah ada kecenderungan penyakit itu dari lama, tapi baru 
ketauan searang.

Trus DSA nya bilang, kalo Lintang tertular, grafik berat badannya ga 
akan naik. Menurut DSA nya blom perlu di test Mantoux sekarang, 
karena pun kalo dilakukan percuma, blom bs kebaca (krn masih sangat2 
dini, menurutnya). jadi suggest dia spy dipantau dulu perkembangan 
Lintang selama beberapa bulan ini, apakah berat badan naik, nafsu 
makan ada,dll.
 
Menurut Moms & Dads gimana?
apa sy harus tetap melakukan test mantoux skrg atau harus cari second 
opinion? kalo harus cari second opinion, bagusnya ke dsa siapa ya?
 
thanks.
 
/Rarry - Lintang's Mom


>From Mbak Jurike Armanto <[EMAIL PROTECTED]>:

Mba Shanty,

ini ada artikel mengenai TB yang pernah dimuat di majalah Ayahbunda.
Semoga bisa menjadi bahan masukan.

Ike - mama Kemal & Kayla

-----------------------------
TB MASIH MENGANCAM BALITA
oleh : Nia L.T

Meski sudah ada obatnya, jumlah penderita TB anak di Indonesia 
ternyata tak kunjung turun. Tak ada salahnya berhati-hati. 

Siapa sih yang tak kenal penyakit Tuberkulosis atau TB? Apalagi, 
penyakit infeksi ini tidak pilih-pilih mangsa. Kaya atau miskin sama 
saja. Bukan tak mungkin, si kecil juga bisa jadi sasaran empuknya. 

Gara-gara orang dewasa
Sebenarnya, balita akan tertular TB, jika ada penderita TB dewasa di 
sekitarnya. Ini bisa berarti ayah, ibu, kakek, nenek, pengasuh, 
supir, saudara, atau orang dewasa lain. Ya, penularan TB memang 
melalui udara. Ketika batuk, maka penderita TB akan menebarkan kuman. 
Nah, kuman ini terhirup oleh si kecil, lalu melewati saluran napas 
dan paru-parunya 

Menurut dr. Bambang Supriyatno, Sp.AK , Ketua UKK Pulmonologi Ikatan 
Dokter Anak Indonesia, "Berdasarkan teori, kalau ada orang dewasa 
terbukti TB positif, maka kira-kira 65% orang di sekitarnya akan 
tertular. Dari 65% orang ini, sekitar 16% di antaranya akan TB aktif. 
Jadi, bila ada 1 orang dewasa TB positif, maka kira-kira 10% orang di 
lingkungannya akan TB aktif. Masalahnya, jika 10% dari orang-orang 
ini adalah orang dewasa, dia berpotensial menularkannya lagi ke anak-
anak." 

Sebaliknya, kalau ada anak yang positif TB, pastilah ia tertular 
orang dewasa di lingkungannya. Jadi, orang itu mesti dicari biar 
lingkungan benar-benar bebas TB," ungkap Kepala Divisi Respirologi 
IKA FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo. Ini berarti, semua orang dewasa 
dalam rumah si kecil perlu diperiksa, tanpa kecuali. 

Gampang dideteksi
Sebenarnya, cara paling ampuh untuk mendiagnosis TB adalah, dengan 
melakukan pemeriksaan dahak. Sayangnya, pemeriksaan ini susah 
dilakukan pada anak-anak. Tak mudah kan menyuruh anak kecil berdahak? 
Apalagi, seringkali dahak malah ditelannya, sehingga masuk 
pencernaan. 

Jadi, pendeteksian TB pada anak biasanya dilakukan dengan cara 
memeriksa cairan lambungnya. Hanya saja, akurasi pemeriksaan ini jauh 
lebih rendah ketimbang pemeriksaan dahak. 

Lalu, bila anak dicurigai menderita TB, dokter akan melakukan 
serangkaian tes. Setelah pemeriksaan fisik, juga akan dilakukan 
pemeriksaan rontgen dan uji tuberkulin (uji Mantoux). Apa itu uji 
Mantoux? Menyuntikkan ekstrak protein dari kuman TB ke dalam kulit. 
Jika reaksi kulit si kecil adalah menonjol dengan garis tengah sama 
atau lebih dari 10 mm, ini dapat berarti ia pernah berkontak dengan 
orang dewasa penderita TB.    

Kuman super bandel 
Bila anak berkontak dengan penderita TB, sebenarnya belum tentu ia 
langsung sakit. Kalau sel darah putih yang notabene berfungsi sebagai 
pasukan pertahanan tubuhnya kuat, maka kuman-kuman TB akan langsung 
mati.   

Namun, bisa juga kuman yang super bandel itu berhasil masuk ke tubuh. 
Nah, kuman yang lolos sensor ini dibagi jadi 2. Pertama, kuman yang 
tenang-tenang saja berada dalam tubuh dan jumlahnya hanya sedikit. 
Kedua, kuman yang masuknya "serombongan" serta biasanya aktif. 
Sebagai catatan, masa inkubasi (masa antara masuknya kuman ke dalam 
tubuh hingga timbul gejala penyakit) penyakit ini sekitar 2-10 
minggu. 

Kalau sudah begini, bagaimana cara menangani si kecil? Ia perlu minum 
obat-obatan. Umumnya, masa pengobatan berlangsung selama 6 bulan. 
Sayangnya, selesai pengobatan, kuman TB dalam tubuh si kecil tidak 
akan lenyap 100%. Selalu saja ada kuman yang tertinggal dan terus 
menghuni tubuhnya. Di mana sih tempat favorit kuman super bandel itu? 
Di paru-paru kanan atas. 

Meski kuman kelihatannya tenang, ini bukan berarti kondisi anak pasti 
aman. Sekalipun sudah pernah terkena TB dan telah menjalani 
pengobatan secara tuntas, tetap saja ia jadi incaran kuman yang 
hobinya ngendon itu. Belum lagi, kalau kondisi si kecil memburuk, 
seperti menderita campak, mau tidak mau kuman TB jadi aktif. Nah, 
kondisi seperti ini disebut reaktifasi. "Makanya, tubuh anak harus 
terus dijaga hingga dewasa kelak. Dengan begitu, kuman itu tidak 
sempat jadi aktif. Sayangnya, kasus yang paling banyak terjadi di 
Indonesia adalah jenis yang reaktifasi ini," kata dr. Bambang. 

Untung bisa dicegah 
Hingga kini, cara terbaik mengurangi risiko terinfeksi TB adalah 
melakukan imunisasi BCG pada bayi usia 2 bulan. Meski tidak bisa 
melindungi 100%, imunisasi ini bisa menghindari anak dari risiko 
akibat memberatnya infeksi TB yang dideritanya. Misalnya, kuman 
menyebar ke otak dan menyebabkan   radang selaput otak. 

Apa lagi? Oke, si kecil telah diimunisasi BCG. Namun, kalau selama 
masa pertumbuhan, ia tidak memperoleh gizi yang baik, tubuhnya tidak 
pernah sehat dan bugar, bahkan masih ditambah lagi dengan kondisi 
lingkungannya tidak sehat (kotor dan lembap), ya TB akan terus 
mengintainya. 

Jadi, kalau mau balita Anda terhindar dari TB, segeralah benahi pola 
hidupnya. Caranya? Selalu mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rajin 
berolahraga, cukup istirahat, serta menjaga kebersihan lingkungan. 

Masih No. 3 di Dunia 
Kalau tingginya tingkat ancaman Tuberkulosis diibaratkan suatu 
perlombaan olahraga, Indonesia memenangkan medali perunggu. Bahkan, 
boleh dibilang, peringkat ke-3 ini sudah diemban Indonesia sejak 
lama. Begitu sulitkah memberantas TB? 

Di Indonesia, pemberantasan TB pada anak dan dewasa ibarat telur 
dengan ayam. Ada yang berpendapat, berantas dulu TB dewasa biar anak-
anak tidak tertular. Ada pula yang menyatakan, kebanyakan penderita 
TB dewasa akibat tertular TB di masa kecilnya dan baru berkembang 
saat dewasa. Ini `kan berarti, kalau TB anak tidak dibereskan, ia 
akan jadi TB dewasa. 

Untunglah, saat ini sudah ada kesepakatan dalam penanganan TB 
bersama, baik anak maupun dewasa secara nasional. Lebih-lebih lagi, 
sudah dibentuk working group terhadap TB anak. Selain Ikatan Dokter 
Anak Indonesia khususnya Pulmonologi, terlibat juga di dalamnya WHO 
dan Global Fund for TB . 

Ini Ciri-cirinya 
•  Sering lemas, tidak bugar. 
•  Tidak nafsu makan. 
•  Berat badan tidak naik-naik. 
•  Batuk yang berkelanjutan. Kadang berdahak, kadang kering. 
•  Demam (sekitar 38-39 ° C) selama 2 minggu. 








Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke