Dear pak Yohane, pengalaman saya, sejak lahir kaila saya biasakan
tidur dengan posisi miring, tentu bergantian menghadapnya selang
sejam/2 jam. karena melihat pengalaman kakak saya yang pernah
melahirkan dan membesarkan anak di luar negeri, dokter disana biasanya
membiasakan anak ditidurkan dengan posisi miriing/tengkurap untuk
membentuk kepala menjadi lebig bagus (tidka peyang), lalu kemudia saya
menemukan artikel yang membahas mengenai posisi tidur bayi yang tidak
mempermasalahkan posisi tidur, berikut artikel yg saya maksud,
-----
TAK USAH CEMASKAN POSISI TIDUR BAYI
 
 Bayi baru lahir cuma bisa tidur telentang. Setelah usia 3 bulan, bayi
bisa memilih sendiri posisi tidur yang nyaman baginya. Sampai-sampai,
ada bayi yang tidurnya lasak.

Kala si kecil baru lahir, sering kita dinasehati untuk mengubah-ubah
posisi tidurnya, terutama agar kepalanya enggak peyang lantaran tidur
telentang terus-menerus. Bahkan, ada yang menyarankan supaya bantalnya
diisi beras karena beras itu akan mengikuti bentuk kepala bayi.

Memang, aku dr. Eric Gultom, SpA dari bagian perinatologi RSUPN Cipto
Mangunkusumo, bisa saja terjadi kepala peyang jika bayi tidur dengan
satu posisi saja. "Kepala bayi baru lahir, kan, belum menyatu
tulang-tulangnya, jaringan-jaringannya belum tumbuh, masih longgar,
dan banyak air. Hingga, bila ada tekanan pada satu sisi yang
signifikan dan terus-menerus, menyebabkan kepalanya jadi peyang,"
terangnya. Tapi begitu tekanan pada satu sisi ini hilang, peyangnya
juga hilang karena tengkoraknya masih berkembang dan tumbuh. "Jadi
masih banyak pertumbuhan yang akan terjadi seperti daging, kulit,
otak, dan tulang kepalanya, hingga peyangnya bisa hilang dan kepala
jadi bagus kembali."

Lain hal jika ada faktor keturunan, misal, si bapak punya kepala
bagian belakang yang datar (enggak bulat). "Nah, kebetulan anaknya
membawa gen dari orang tuanya, hingga ia pun bisa jadi peyang
kepalanya." Namun begitu, kepala peyang tak perlu dikhawatirkan karena
tak akan membuat bayi jadi sakit. Jika selama ini kepala peyang kerap
dipersoalkan, semata cuma lantaran estetika saja. Jikapun si kecil
punya kepala peyang, toh, tetap tak mengurangi kegantengan atau
kecantikannya. Iya, kan, Bu-Pak?

TIDUR TENGKURAP

Sebenarnya, tutur Eric, posisi tidur bayi bisa bermacam-macam. Tentu
pada bayi baru lahir sampai usia 3 bulan, posisinya cuma telentang
karena memang kemampuan motoriknya baru sampai di situ. Nah, kita bisa
membantu mengubah posisinya dengan dimiringkan ke kanan atau kiri
maupun ditengkurapkan. Namun, posisi yang disebut terakhir, hingga
kini masih kerap diperdebatkan.

"Di negara Barat, tidur tengkurap dikaitkan dengan SIDS, yaitu Sudden
Infant Death Syndrome atau sindrom kematian mendadak pada bayi. Secara
statistik atau epidemiologi penelitian, SIDS banyak terjadi pada bayi
yang tidur tengkurap," terang Eric. Apa penyebabnya tak diketahui,
tapi kemungkinan lebih sering terjadi karena sofokasi, yaitu tersedak
atau tercekik saluran napasnya hingga napasnya berhenti.

Toh, kita tak perlu khawatir karena kasus SIDS jarang ditemui di
Indonesia. Selain itu, tidur tengkurap justru lebih baik karena banyak
manfaatnya. "Ada literatur yang menyatakan, dengan tidur tengkurap,
bayi jadi lebih nyaman, bisa tidur nyenyak, tangisnya berkurang, gerak
pernapasan dan perkembangan motoriknya juga lebih baik."

Jadi, dari hasil penelitian ada yang mendukung namun ada juga yang
tidak. Nah, kita mengambil jalan tengah saja; boleh tidur tengkurap
asalkan tetap diawasi karena alasan sofokasi tadi yang bisa saja
terjadi. Selain, harus diperhatikan pula apakah si bayi bermasalah
atau tidak semisal lahir prematur.

MENCEGAH GUMOH

Kebanyakan bayi yang lahir sakit dalam arti dirawat di RS karena lahir
prematur, minumnya pakai selang atau masih pakai bantuan mesin
pernapasan, tidurnya diposisikan tengkurap atau miring ke kanan. Ini
dikaitkan dengan waktu pengosongan lambung jadi lebih mudah. "Pintu
lambung itu, kan, ada di sebelah kanan. Jadi, kalau dimiringkan ke
kanan, minuman yang diminumnya masuk ke usus-usus hingga pintu
pengosongannya lebih cepat," jelas Eric. Selain, posisi kepala yang
agak lebih tinggi juga membantu dalam hal gravitasinya.

Itulah mengapa, kala bayi hendak dibawa pulang, pihak RS kerap
menganjurkan agar bayi sering ditidurkan dalam posisi miring.
Begitupun tidur tengkurap, "minuman yang masuk akan langsung masuk ke
lambung, hingga bisa mencegah terjadi gumoh lebih banyak." Namun
posisi-posisi ini lebih dianjurkan pada bayi yang menyusui dan umumnya
usia di bawah sebulan. Soalnya, kalau sudah makan makanan padat
seperti di usia 5 bulan ke atas, "posisi tak berpengaruh terhadap
pengosongan lambung, karena di usia tersebut sudah jarang gumoh."

TIDUR LASAK

Setelah usia 3 bulan, tidurnya tak lagi cuma telentang karena kini ia
sudah banyak bergerak dan bisa berguling. Ia akan mencari posisi yang
dirasanya enak semisal tengkurap. Tidurnya pun bisa berpindah-pindah
alias lasak. Umumnya mengikuti pergerakan atau insting bayi di dalam
rahim. "Nggak masalah, kok, selama hal itu tak menyebabkannya sakit.
Malah boleh dibilang, perkembangan motoriknya bagus," tutur Eric.
Tapi, apakah tidur lasak ini akan berlanjut atau tidak sampai besar,
tak bisa dipastikan karena tak ada dasar ilmiahnya.

Perlu diketahui, bayi punya refleks dan insting sendiri untuk mencari
posisi tidur yang paling enak, nyaman, dan tak membahayakan dirinya.
Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan posisi tidur si kecil,
ya, Bu-Pak. Sekalipun saat terbangun dari tidur, ia sudah berada di
posisi yang berbeda dengan saat ia mulai tidur. Yang penting
diperhatikan, pagar pengaman sekeliling tempat tidur si kecil harus
cukup kuat. Hingga, selasak apapun si kecil tak akan membuatnya
terjatuh dari tempat tidur lantaran pagar pengamannya kuat. Tentu
tempat tidurnya juga jangan terlalu tinggi, ya.

POSISI TIDUR TAK NORMAL

Bahwa ada posisi tidur yang membedakan antara bayi sehat atau tidak,
memang benar. Perbedaan ini dilihat dari letak tangan, kaki, dan
kepala. Dari situ dokter bisa mengetahui kelainan yang terjadi pada si
bayi. Sayang, posisi tidur yang tak normal ini hanya "milik dokter",
sebagaimana dikatakan Eric, "posisi-posisi tidur bayi yang sakit ini
tak perlu diketahui khalayak umum karena lebih untuk kepentingan
klinik, bukan perawatan di rumah."

Lagi pula, kejadiannya hanya ada di RS, jadi sebelum si bayi dibawa
pulang. Bukankah kalau bayi sudah boleh dibawa pulang berarti ia sudah
dinyatakan sehat oleh dokter? Jadi, posisi tidurnya pun sudah normal.
"Hampir tak pernah ada bayi sehat yang dibawa pulang lalu datang
kembali ke rumah sakit dengan keluhan posisi tidurnya, tapi lebih pada
keluhan karena tiba-tiba ada sesuatu yang menyebabkan si bayi masuk
rumah sakit seperti malas minum, suhu meningkat, muntah, mencret, dan
sebagainya," tutur Eric.

Nah, sekarang sudah tak khawatir lagi, kan, Bu-Pak?

Dedeh Kurniasih . Foto : Iman(nakita)

Sumber:
http://www.tabloid-nakita.com/

-----

cheeers,

ida http://denokdeblong.blogsome.com








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/vJUKhA/lbOLAA/a8ILAA/wDNolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke