klo' berita ini bagaimana?!
-----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of adji ekawarman Sent: 13 Januari 2006 12:21 To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [citrapanji] SANGGAHAN (Fw: Formalin di Makanan Tak Berbahaya) ----- Original Message ----- From: "Pandu Setiadi" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, January 13, 2006 12:02 PM Subject: Re: [ex-trisakti] Formalin di Makanan Tak Berbahaya > BPOM: Pernyataan Formalin Tak Bahaya Jerumuskan Masyarakat > Nurvita Indarini - detikcom > > Jakarta - Di tengah kehebohan bahaya formalin, tiba-tiba muncul pendapat > Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yuswanto, > yang > menyebut formalin pada bahan makanan ternyata tidak akan menimbulkan efek > negatif bagi manusia. > > Menurut Kepala BPOM Sampurno, pendapat itu sungguh menjerumuskan. > "Pernyataan > itu tidak benar," tegas Sampurno pada detikcom, Jumat (13/1/2006). > > Pada koran Radar Jogya edisi Minggu 8 Januari 2006, Dr Yuswanto > menjelaskan, > berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya pada tahun 2002, kandungan > formalin pada mie basah di pasar Yogja sekitar 20 mg/kg mie. Kadar itu > belum > secara signifikan menimbulkan toksifikasi bagi tubuh manusia. > > "Penelitian WHO menyebutkan kadar formalin baru akan menimbulkan > toksifikasi > atau pengaruh negatif jika mencapai 6 gram," jelas Yuswanto. > > Yuswanto juga menyimpulkan, ada kesalahan informasi di masyarakat tentang > bahaya formalin di mie basah, ikan segar, dan ikan asin. Sebenarnya, > ketika > formalin masuk melalui alat pencernaan, tidak akan berpengaruh negatif . > Sebab, proses metabolisme formalin yang masuk ke tubuh manusia sangat > cepat. > Tubuh manusia akan mengubah formalin menjadi Co2 dan air seni dalam waktu > 1,5 > menit. > > Pernyaan Yuswanto ini menyebar juga lewat milis sehingga membuat > masyarakat > bingung. > > Kepala BPOM Sampurno berpedoman pada pernyataan Ikatan Dokter Ahli > Penyakit > Dalam yang disampaikan pada 3 Januari 2006 lalu. Di situ disebutkan bahwa > tidak ada toleransi sedikit pun dalam penggunaan formalin pada makanan. > Dengan > demikian sebaiknya tidak perlu berspekulasi yang akibatnya bisa membawa > dampak > buruk bagi kesehatan masyarakat. > > Karena itu apa yang disampaikan oleh Yuswanto dianggap Sampurno bisa > menjerumuskan masyarakat. Selain itu tidak ada yang bisa mengontrol > kuantitas > formalin yang ada pada makanan. > > "Kalau dikatakan formalin yang membahayakan itu yang kandungannya pada > makanan > 6 gram per kilo, lalu siapa yang bisa mengontrol jumlah formalin yang > dicampurkan pada makanan? Ini bisa menjerumuskan masyarakat. Penggunaan > formalin dalam makanan itu dilarang di seluruh dunia," tegas Sampurno. > > Sampurno juga mengatakan bahwa tidak benar bila formalin yang masuk ke > dalam > tubuh manusia bisa diurai menjadi CO2 dalam waktu 1,5 menit. Daripada > coba-coba lebih baik menghindari pencampuran formalin dengan makanan. > Sebab > formalin jelas berbahaya bagi kesehatan. > > "Saya rasa penelitian ini tidak ada dasar scientific-nya," cetusnya. > (nrl) > > ----- Original Message ----- > From: "Adhi Sulistyo" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Friday, January 13, 2006 10:13 AM > Subject: RE: [ex-trisakti] Formalin di Makanan Tak Berbahaya > > >> Sedikit komentar tentang artikel tersebut. Dari komentar beliau yang >> berhubungan dengan peternakan saja, mohon maaf harus saya katakan beliau >> kurang memiliki latar belakang dan dasar ilmiah yang kuat untuk >> memberikan komentar seperti itu. >> >> Dikatakan, buah-buahan dan sayuran juga mengandung zat formalin sebagai >> hasil proses biologis alami. "Alam ini sebenarnya menghasilkan zat >> formalin yang diserap oleh tumbuhan dan hewan. Daging sapi mengandung >> formalin kira-kira 30 mg, dan kerang laut mengandung formalin 100 mg per >> kg. Tapi itu formalin yang dihasilkan dari proses alami," katanya. >> >> KOMENTAR: mohon maaf pernyataan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan >> secara ilmiah ! Daging sapi secara alamiah tidak mengandung formalin, >> kalaupun ada berarti kemungkinan besar berasal dari pakan ternak yang >> terkontaminasi. Kemungkinan besar berasar dari konsentrat yang berupa >> ampas tahu dan tepung ikan yang mungkin sudah terkontaminasi formalin >> atau mungkin juga dari bahan lain. >> >> Bahkan, lanjut Yuswanto, para peternak sengaja membubuhkan formalin >> dalam makanan ternaknya. Makanan ternak diberi kandungan formalin >> sebesar 660 mg per kg. Tujuannya untuk membunuh bakteri. "Keberadaan >> formalin tidak mengakibatkan keracunan hewan ternak," tambahnya. >> >> KOMENTAR : peternak yang mengerti tidak akan menambahkan formalin ke >> pakan, karena berdampak negatif terhadap pH dan populasi bakteri alamiah >> di rumen (banyak bakteri yang mati) . Jika keseimbangan ini terganggu >> maka protein yang dihasilkan oleh bakteri rumen ini akan berkurang dan >> mengakibatkan pertumbuhan ternak terganggu. Bakteri rumen yang >> jumlahnya sangat significant itu secara ilmiah bersimbiose dengan >> ternak. >> >> Akan tetapi, kata Yuswanto, kandungan formalin baru akan menimbulkan >> bahaya jika dihirup oleh alat pernapasan. Jika hanya dicerna alat >> pencernaan, tidak akan menimbulkan risiko negatif. "Pemakaian formalin >> hanya merugikan kalangan peternak. Ketika mereka menghirup formalin >> lewat alat pernapasan, berpotensi menimbulkan kanker paru-paru." >> >> KOMENTAR: mestinya pernyataan seperti ini didukung oleh dasar ilmiah >> yang kuat. Sebelum memberikan pernyataan seperti ini perlu dimerngerti >> terlebih dulu mekanisme penyerapan dan reaksi kimia yang terjadi didalam >> tubuh. >> >> Menurut Dosen Fateta IPB, Bapak Djumali, mekanisme formalin sebagai >> pengawet sebenarnya tidak membunuh bakteri secara langsung, akan tetapi >> bertindak sebagai coating, sehingga bahan makanan yang diberi formalin >> tidak terserang bakteri. Sama halnya seperti pelapisan lilin pada apel. >> Kalaupun membunuh bakteri berarti melalui mekanisme perubahan pH >> sehingga bakteri tidak dapat hidup lagi. --- In [email protected], robby wahyu widodo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setelah baca artikel di bawah, mestinya segera > disahkan saja sebagai > bahan pengawet makanan yang legal. > http://www..jawapos.co.id/index.php? act=detail_radar<http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar> > <http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=113148&c=85> > &id=113148&c=85 > > > RADAR JOGJA > > Minggu, 08 Jan 2006 > > > > _____ > > > Minggu, 08 Jan 2006 > Formalin di Makanan Tak Berbahaya > > Diurai Jadi CO2 dalam Waktu 1,5 Menit > JOGJA - Kandungan formalin pada bahan makanan ternyata > tidak akan > menimbulkan efek negatif bagi manusia. Termasuk > kandungan formalin yang > terdapat pada mie basah, ikan segar, tahu, dan ikan > asin. Berdasarkan > penelitian WHO, kandungan formalin yang membahayakan > sebesar 6 gram. > Padahal rata-rata kandungan formalin yang terdapat > pada mie basah 20 > mg/kg mie. Selain itu, formalin yang masuk ke tubuh > manusia akan diurai > dalam waktu 1,5 menit menjadi CO2. > > Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) > Dr Yuswanto > menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan > pihaknya pada tahun > 2002, kandungan formalin pada mie basah di pasar Jogja > sekitar 20 mg/kg > mie. Kadar itu belum secara signifikan menimbulkan > toksifikasi bagi > tubuh manusia. > > "Penelitian WHO menyebutkan kadar formalin baru akan > menimbulkan > toksifikasi atau pengaruh negatif jika mencapai 6 > gram," jelas Yuswanto > saat dihubungi Radar Jogja, kemarin. Menurut Yuswanto, > sebenarnya proses > alam juga menghasilkan zat formalin yang selanjutnya > terserap oleh > sayur-sayuran, buah dan daging hewan. > > Dikatakan, buah-buahan dan sayuran juga mengandung zat > formalin sebagai > hasil proses biologis alami. "Alam ini sebenarnya > menghasilkan zat > formalin yang diserap oleh tumbuhan dan hewan. Daging > sapi mengandung > formalin kira-kira 30 mg, dan kerang laut mengandung > formalin 100 mg per > kg. Tapi itu formalin yang dihasilkan dari proses > alami," katanya. > > Bahkan, lanjut Yuswanto, para peternak sengaja > membubuhkan formalin > dalam makanan ternaknya. Makanan ternak diberi > kandungan formalin > sebesar 660 mg per kg. Tujuannya untuk membunuh > bakteri. "Keberadaan > formalin tidak mengakibatkan keracunan hewan ternak," > tambahnya. > > Akan tetapi, kata Yuswanto, kandungan formalin baru > akan menimbulkan > bahaya jika dihirup oleh alat pernapasan. Jika hanya > dicerna alat > pencernaan, tidak akan menimbulkan risiko negatif. > "Pemakaian formalin > hanya merugikan kalangan peternak. Ketika mereka > menghirup formalin > lewat alat pernapasan, berpotensi menimbulkan kanker > paru-paru." > > Yuswanto menyimpulkan, ada kesalahan informasi di > masyarakat tentang > bahaya formalin di mie basah, ikan segar, dan ikan > asin. Sebenarnya, > ketika formalin masuk melalui alat pencernaan, tidak > akan berpengaruh > negatif. > > Kondisi itu akan berbeda jika secara terus menerus > formalin masuk > melalui alat pernafasan, maka dikhawatirkan akan > menyebabkan kanker > paru-paru. "Perokok juga berpotensi menghirup formalin > dari setiap > batang rokok yang dikonsumsinya. Ketika setiap hari > menghisap 20 batang > rokok, sama saja setiap hari menghirup 10 mg > formalin," tambah Yuswanto. > > Kenapa formalin di makanan tidak berbahaya? Kata > Yuswanto, proses > metabolisme formalin yang masuk ke tubuh manusia > sangat cepat. Tubuh > manusia akan mengubah formalin menjadi Co2 dan air > seni dalam waktu 1,5 > menit. > > "Secara alami, setiap liter darah manusia mengandung > formalin 3 > mililiter. Sedangkan formalin yang masuk bersama > makanan akan > didegradasi menjadi CO2 dan dibuang melalui alat > pernapasan. Jadi, meski > formalin dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup > lama, tidak akan > terjadi proses akumulasi dan menyebabkan toksifikasi." > > Yuswanto menegaskan, informasi yang berkembang di > masyarakat salah > kaprah. Sebab, baru dalam dosis besar yakni sekitar 6 > gram, formalin > akan memunculkan efek negatif bagi tubuh manusia. > > "Lagi-lagi yang dirugikan masyarakat kecil. Penjual > mie basah, tahu, dan > ikan asin dirugikan. Seharusnya, kita berpegang pada > hasil penelitian > yang akurat. Pemerintah harus segera mengambil sikap > atas kekacauan ini. > Kasihan pedagang kecil," tambah Yuswanto. (lai) > Subscribe: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
