Tali Pusat Bayi, Tak Hanya untuk Dikubur 
  "WAKTU Raihana meninggal, umurnya masih tujuh bulan, sedang lucu-lucunya," 
tutur Ai Hasanah (27). Ai tak mengira bayi perempuannya tiba-tiba begitu saja 
menderita leukemia. Sebab, sejak dalam kandungan tidak ada tanda-tanda kelainan.
  KETIKA lahir hingga menjelang usia tujuh bulan, Raihana sehat, segar, dan 
ceria. Namun, memasuki usia tujuh bulan Raihana tampak lesu dan pucat. Raihana 
pun pergi selama-lamanya hanya dalam dua minggu setelah Ai dan suaminya 
mengetahui buah hati mereka positif menderita leukemia.
  Malang, ketika Ai hamil kembali, kandungannya yang baru berusia tiga bulan 
keguguran. Namun, tak lama kemudian Ai hamil kembali dan dapat bertahan tanpa 
gejala gangguan.
  Menjelang kelahiran, Ai yang bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit 
disarankan oleh rekan kerjanya untuk mengambil darah tali pusar bayinya nanti 
dan disimpan dalam sebuah bank darah tali pusat. Jika kelak ternyata bayi 
ketiganya itu mengidap leukemia seperti kakaknya, darah tali pusat tersebut 
dapat ditransfusikan untuk penyembuhannya.
  "Untuk berjaga-jaga. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi lagi," tutur Ai. Kini 
bayinya, Nasywa Faridatuss Salima, telah berusia lima bulan dan dalam keadaan 
sehat, tidak menunjukkan tanda-tanda menderita leukemia.
  Ryan (5), penderita leukemia warga Singapura, lebih beruntung karena 
diselamatkan darah tali pusat adiknya. Seperti diceritakan dalam surat kabar 
Straits Times, Ryan disembuhkan setelah menjalani transplantasi sel induk dari 
darah tali pusat adiknya, Rachel. Orangtua Ryan memang sengaja memiliki anak 
kedua setelah mengetahui penderita leukemia bisa diselamatkan dengan 
transplantasi sel induk darah tali pusat.
  
  SEBAGIAN masyarakat kerap kali memperlakukan sangat istimewa tali pusat bayi 
dengan menguburnya, setelah sebelumnya dibersihkan dan diberi berbagai macam 
bumbu dapur. Tali pusat tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kendi, lalu 
dikubur. Kadang tali pusat itu dikubur dengan berbagai macam alat tulis. Ritual 
tradisional tersebut dilakukan dengan alasan kepercayaan, supaya kelak jabang 
bayi menjadi anak yang pandai dan tidak bandel.
  Sebenarnya secara ilmiah pun tali pusat bayi memang istimewa. "Tali pusat 
bayi mengandung sel-sel induk yang dapat sangat bermanfaat untuk berbagai 
penyakit kelainan darah," kata Poppy Arifin, peneliti bioteknologi lulusan 
Technische Universitat Darmstadt, Jerman.
  Menurut Poppy, sel induk merupakan sel yang belum berspesialisasi untuk 
menjadi sel- sel khusus, seperti sel darah, sel otot, dan sel jantung. Sel-sel 
induk memiliki kemampuan untuk berkembang biak tanpa batas dan membedakan diri 
menjadi sel-sel khusus sehingga terus-menerus menjadi sumber sel-sel baru.
  Sel induk sendiri bersumber pada sel induk embrional (embryonic stem cells), 
yang diambil dari embrio lima sampai tujuh hari setelah pembuahan. Kemudian 
sumber kedua adalah sel induk dewasa (adult stem cells), yang dapat diambil 
dari darah tali pusat, sumsum tulang, dan darah tepi (peripheral, darah yang 
beredar dalam tubuh). Semakin muda sumber sel induk, semakin besar kemampuannya.
  "Namun, kalau diambil dari embrio masih sangat kontroversial. Tidak seperti 
kalau diambil dari sumsum tulang maupun darah tali pusat," ujar Poppy. Darah 
tepi, meski mengandung sel induk, tidak sebanyak darah tali pusat maupun sumsum 
tulang. Ketiga sumber sel induk tersebut merupakan sumber sel-sel induk 
pembentuk darah (hematopoietic stem cells), baik sel darah merah, darah putih, 
maupun keping darah yang sehat.
  "Tak hanya pada penderita leukemia transplantasi sel induk dapat bermanfaat, 
tapi juga bagi penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi, misalnya," 
kata Poppy. Kemoterapi kerap kali memang tidak hanya mematikan sel kanker, 
namun juga berakibat merusak sel-sel yang lain.
  Transplantasi sel induk dari darah tali pusat sebenarnya telah lama diteliti 
sejak tahun 1963. Namun, keberhasilan transplantasi tersebut baru terjadi tahun 
1988 di Perancis untuk seorang anak laki-laki penderita anemia Fanconi, suatu 
anemia berat di mana sumsum tulang belakangnya gagal membentuk sel-sel darah 
merah. Kelebihan transplantasi sel induk yang bersumber dari darah tali pusat 
proses pengambilannya relatif mudah dengan risiko minimal.
  "Sementara kalau mengambil dari sumsum tulang perlu anastesi total, lalu 
pendonor dioperasi, biasanya dari tulang panggul. Setelah operasi itu biasanya 
akan terasa sakit," kata Poppy. Sel induk tersebut lalu disuntikkan ke dalam 
vena resipien yang sakit. Akan tetapi, syarat transplantasi sel induk yang 
bersumber dari sumsum tulang menuntut kecocokan darah hingga 100 persen antara 
pendonor dan resipiennya.
  Kelemahan tersebut tidak terjadi pada transplantasi sel induk yang bersumber 
dari darah tali pusat. Dalam darah tali pusat, dengan tingkat kecocokan hanya 
60 persen-antara donor dan resipien-transplantasi sel induk dapat dilakukan. 
Proses pengambilan darah tali pusat-sekitar 40 sampai 100 mililiter-pun tidak 
menyakiti bayi maupun sang ibu. Dalam 40 mililiter darah tali pusat itu dapat 
mengandung sekitar 200 juta sel induk.
  Sebelum transplantasi sel induk dilakukan, akan dihitung berapa banyak 
kebutuhan sel induk si penderita atau resipien. Sel induk darah tali pusat yang 
tersisa masih dapat disimpan di bank penyimpanan. Darah tali pusat itu disimpan 
dalam nitrogen cair dengan suhu minus 196 derajat Celsius. Darah tali pusat 
tersebut dapat disimpan selamanya dengan kualitas tetap baik. Tercatat di 
Amerika Serikat pernah terjadi transplantasi sel induk yang telah tersimpan 
selama 15 tahun dan berhasil.
  "Kalau dari saudara sekandung atau sumbernya adalah darah tali pusat si 
penderita sendiri yang telah disimpan, kemungkinan cocoknya besar," ujar Poppy.
  Sejauh ini di Indonesia pengambilan darah tali pusat untuk kemudian disimpan 
dalam sebuah bank penyimpanan relatif masih jarang dibandingkan dengan di 
negara-negara maju. Sebuah bank penyimpanan darah tali pusat dari Singapura, 
seperti Cordlife, saja hingga kini baru memiliki sekitar 80 klien di Indonesia. 
Umumnya para klien tersebut berjaga-jaga karena punya riwayat leukemia dalam 
keluarganya.
  "Namun, jika darah tali pusat yang diambil tersebut ternyata mengandung 
bakteri, jamur, virus HIV, dan hepatitis C, biasanya tidak kami anjurkan untuk 
disimpan," kata Robert Dharmasaputra dari perwakilan Cordlife Indonesia.
  Salah satu bank penyimpanan darah tali pusat, seperti Cordlife Indonesia, 
sejauh ini masih menggunakan laboratorium penyimpanan di Singapura. Proses 
pengambilan darahnya sendiri dapat dilakukan di Indonesia. Kemudian dalam 36 
jam sejak darah tersebut diambil sudah harus segera diproses dan disimpan di 
bank penyimpanan.
  Menurut Poppy, sejauh ini transplantasi sel induk telah mengobati sebanyak 72 
macam penyakit, yang umumnya adalah penyakit kelainan darah. Pada masa 
mendatang para peneliti percaya sel induk juga dapat digunakan untuk mengobati 
penyakit jantung, diabetes, systemic lupus erythematosus, alzheimer, hingga 
parkinson. (SF)
Sumber: KOMPAS 27 Januari 2005


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke