--- In [email protected], Perdana Sastra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ikutan sharing yach......, aku pernah dengar juga bahwa vaksin MMR juga bisa menyebabkan autis ( kalau HIB & Hepatitis baru tahu sekarang setelah baca email temen mbak Perdana). Pernah aku konsul sama dsa ku katanya sampai sekarang vaksin MMR belum pernah terbukti bisa menyebabkan autis, di Amerika sekalipun sbg daerah asalnya. Tapi dsa ku menyarankan kalau mau ngasih vaksin MMR di atas 2 th yang mana kalau misalnya memang anak tsb sudah ada tanda - tanda autis bisa kelihatan ( mis : belum bisa ngomong sama sekali, susah konsentrasi, dsb. ). Aku juga agak bingung dengan dsa nya Joey kok umur 6 bulan sudah dikasih vaksin Hepatitis & HIB ya ? kalau dsa ku ngasih vaksin tsb kalau umur anak diatas 18 bln dech. Tapi mungkin masukan juga untuk para DSA & ikatan DSA seluruh Indonesia untuk menyatukan visi atau bahkan aturan yang baku kapan anak ( umur berapa ) harus mendapatkan vaksin - vaksin imunisasi yang tepat sehingga vaksin tersebut bisa sangat berguna dan tidak malah menimbulkan penyakit.
Thx - bunda Rama & Rasya > Dear all, > > Kemarin seorang teman kantor saya mengirim email ke > saya tentang vaksin yang mungkin menjadi penyebab > autis. > > Pertanyaan saya, apakah bapak-bapak or ibu-ibu ada > yang punya pengalaman ataupun nasihat dari dokter anak > berkaitan dengan vaksin Hepatitis dan juga HIB seperti > email yang di bawah ini? > > Terus, apakah ada temen2 yang punya informasi tempat > membeli buku, "Children with Starving Brains" karangan > Jaquelyn McCandless,MD, dalam bahasa inggris? > > Terima kasih. > > Salam, > Perdana > > Terima kasih. > ------ > > > Vaksin penyebab Autis > > > > Bisa di share kepada yang masih > > punya anak kecil supaya ber-hati²........ Setelah > > kesibukan Lebaran yang menyita waktu, baru sekarang > > saya bisa dapat waktu luang membaca buku "Children > > with Starving Brains" karangan Jaquelyn > > McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan > > oleh Grasindo. Ternyata buku yang saya beli di toko > > buku Gramedia seharga Rp. 50,000,- itu benar-benar > > membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru > > terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa > > mengidap Autisme Spectrum Disorder. > > > > Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar > > membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama > > hidupnya (Agustus 2001-Februari 2002), Joey > > memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 > > kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut > > (halaman 54 - 55) ternyata dua macam vaksin yang > > diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya > > itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang > > terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama > > > sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada > > sejak awal tahun 1990an. Vaksin yang mengandung > > Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika > > sejak akir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak > > yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, > > dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit > > besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci > > Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang > > terbaik, ternyata malah "diracuni" oleh Mercuri > > dengan selubung vaksinasi. Beruntung saya masih bisa > > memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak > > menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, > > sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang > > gluten dan casein, harus terapi ABA, Okupasi, dan > > nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang > > keseluruhannya sangat besar biayanya. > > > > Melalui e-mail ini saya hanya ingin menghimbau para > > dokter anak di Indonesia, para pejabat di Departemen > > Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut diatas itu, > > dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih > > mengandung Thimerosal. Jangan sampai (dan bukan > > tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak > > habis di Amerika Serikat tersebut di ekspor dengan > > harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke > > puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin > > Hepatitis B, yang sekarang sedang giat²nya > > dikampanyekan sampai ke pedesaan. Kepada para orang > > tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap > > proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang > > mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi > > dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B > > dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal. Juga > > tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan > > menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang > > sama seperti saya. > > > > Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu > > generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika > > mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan > > rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk > > membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, > > Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya > > sampai berbulan-bulan), yang besarnya sampai jutaaan > > Rupiah perbulannya. > > > > Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, > > bahkan ribuan teman² senasibnya di Indonesia yang > > sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari > > belenggu Autisme. > > --- debbie lanawaang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Papa Mocel, > > > > Sekadar sharing, saya pertama kali bawa dennis > > (2th) keluar waktu dia belum genap 30 hari. Saya tau > > banyak yang protes krn takut kenapa2 utk bayi > > sekecil itu. > > trus waktu 3 bulan, saya ajak dia nonton > > pertandingan basket :), saya bawa sama stroller nya > > segala. Trus saya b awa ke bandung juga pake KA, > > dari awal emang saya biasain dia untuk keluar biar > > dia gak rewel kalo harus nginep or pergi2 jauh. > > > > so far sih gak ada masalah, tp memang pasti saya > > liat dulu, kalo lagi sumeng (anget2 gitu badannya) > > trus sekali waktu pup nya agak encer, saya gak > > bawa2. > > > > alhasil, dia cepet beradaptasi, di bawa kemana aja > > gak rewel. Kalo ketemu orang banyak gitu gak trus > > jadi cengeng. Pas di bawa ke kampung suami di Toba > > malah fine2 aja, padahal itu bener2 di kampung > > dengan segala keterbatasan air bersih segala. > > > > Sampe dia blm bisa jalan mantap, saya selalu bawa > > stroller krn saya gak pernah ngebiasain untuk > > gedong. Pas dia dah bisa jalan mantep plus lari2, ya > > tetep saya bawa jalan, walaupun blm bisa ngomong, > > gak apa, kan di pantau terus. > > > > apalagi sekarang, dah makin cerewet n kalo dah > > dilepas jalan gak pernah bisa ngerem :) > > > > gitu aja sharing saya, maaf kalo kurang berkenan > > > > debbie > > http://dennissergio.blogspot.com > > > > > > Hasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dear Ayahbunda, > > > > Saya ingin tanya apakah benar jika anak balita > > sebaiknya sesekali diajak main ke mall atau ikut > > kita belanja di supermarket, katanya agar daya tahan > > tubuh mereka teruji sehingga tdk mudah sakit. > > > > Karena anak saya (saat ini umur 15 bulan) belum > > pernah dibawa ke mall atau tempat lain, saya > > berpikir lebih baik mengajak mereka keluar disaat > > mereka sudah bisa bicara, sehingga jika terjadi > > sesuatu, kita bisa mengetahuinya... apakah cara yang > > saya lakukan ini terlalu protected(katanya) atau > > mungkin ada diantara ayahbunda yang dapat berbagi > > cerita dengan saya, saya sangat menghargainya. > > > > Best Regards > > Papi Mocel > > > > > > > > ____________________________________________________ > On Yahoo!7 > Messenger - Make free PC-to-PC calls to your friends > overseas. > http://au.messenger.yahoo.com > > > > > > > ____________________________________________________ > On Yahoo!7 > Messenger - Make free PC-to-PC calls to your friends overseas. > http://au.messenger.yahoo.com > Subscribe: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
