Saya juga ingin curhat soal baby sitter Ken (dulu).
  Sejak Ken berusia 2 minggu, saya udah memakai baby sitter yang bernama Ribka. Selama bekerja bersama kami, sudah banyak kesalahan yang dia perbuat yang berusaha kami maklumi. Pada saat Ken berusia 1,5 bulan, Ken telah memiliki bobot 5,2 kg. Ribka menolak permintaan kami untuk menggendong Ken, dengan alasan bahwa Ken terlalu berat dan dia tidak sanggup untuk menggendongnya. Walaupun permintaan itu terdengar janggal, kami menyanggupinya.
  Bahkan, minyak telon Ken dari konicare saya ganti dengan my baby, dengan alasan tangan si baby sitter alergi jika menggunakan minyak telon konicare. Jika di malam hari pun, Ken tidur dengan orang tuanya, ribka hanya menjaga jika kami ke kantor.
  Hingga suatu hari, pada saat Ken berusia 2,5 bulan, tiba - tiba suami saya mendengar tangisan bayi YANG SANGAT KENCANG dari dalam kamar. Suami saya mendapati wajah anak kami sudah tertutupi bantal (mungkin akibat nangisnya yang keras, sehingga badannya bergerak) dan agak membiru. Si baby sitter ternyata sedang asyik mandi tanpa memberitahu kepada orang - orang di rumah untuk menunggui Ken. Suami saya marah besar, dan segera malamnya dia kami panggil. Ribka minta - minta maaf (sambil tetap melempar tanggung jawab kepada pembantu rumah tangga kami). Sehingga pada akhirnya saya tidak tahan, saya mencari baby sitter baru untuk Ken yang bernama sus Marta. Setelah Ribka pulang, maka keluarlah cerita dari 2 orang pembantu rumah tangga kami, bahwa, ternyata Ken selama ini diberi minum dari air PAM yang TIDAK DISARING. Pada saat mendengar itu, saya cuma dapat menangis memeluk Ken dan menyesali kesalahan terlalu mempercayai baby sitter itu. Saya pikir, masalah berakhir sampai
disitu.
  Ternyata, beberapa bulan kemudian, Ribka datang lagi ke rumah kami (pada saat kami sedang bekerja). Dia datang dengan rekannya di yayasan Andalury's. Kemudian, terjadi pukul memukul antara RIBKA dan rekannya yang bernama SANTI (kalo gak salah, dan memang ternyata orangnya lebih cocok jadi bodyguard daripada seorang baby sitter) dengan pembantu rumah tangga kami, sehingga membuat Ken kaget. Karena sangat tidak memungkinkan pada saat itu kami pulang ke rumah, maka kami HANYA berbicara by phone dengan ex baby sitter Ken itu. Kemudian malamnya, saya mendatangi si baby sitter itu dengan tujuan utama ingin mengetahui duduk masalah sebenarnya. Ribka itu meminta maaf dan dari mulutnya meluncurlah pengakuan bahwa dia berbuat begitu karena mendapat dukungan dari PIMPINAN YAYASAN DARI TEMPAT DIA BERNAUNG.
  Saya tidak mengecek lagi kebenaran ceritanya, karena saya berpikir, saya tidak memiliki hubungan apa - apa lagi dengan pihak yayasan itu.
  Cuma, sampai detik ini, saya selalu menyesali, apakah bijak sikap itu?
  Banyak kolega kami yang bertanya tentang penyalur baby sitter. Berdasarkan pengalaman kami, kami sama sekali tidak menganjurkan yayasan tersebut, dan bahkan kami selalu dan selalu menceritakan PENGALAMAN TIDAK MENYENANGKAN KAMI.
  Setelah ganti dengan suster marta (dari penyalur yang berbeda), dalam waktu sehari aja, Ken kami kelihatan lebih gembira, dan mulai ngoceh. Dengan suster sebelumnya, dia lebih banyak diam dengan wajah takut.
  Semoga ini menjadi pembelajaran untuk kita semua, karena ini terjadi pada anak kami mulai di berusia 2 minggu sampai hampir 3 bulan.

h_henik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  --- In [email protected], "Andrie Anne"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>ikutan sharing.........
aku juga punya pengalaman dua kali salah pilih baby sitter. Yang
pertama saat anak pertamaku ( Rama ) umur 7 bln, saat itu aku ambil
dari yayasan, waktu itu Rama susah sekali makan dan setiap kali
makan selalu diajak jalan2 keluar rumah sama susternya, gak lama
kemudian dia udah pulang dan makannya habis, waktu aku tanya kok
tumben cepet makannya ? kata susternya memang kalau sambil jalan
begitu bisa cepet makannya. Suatu saat baby sitterku pulang kampung
karena anaknya sakit, betapa kagetnya ternyata banyak tetangga yang
bilang kalau dia sering buang makanan Rama sehingga kelihatan sudah
habis, dan kebetulan dia nggak balik lagi karena alasan anaknya.
Pengalamanku yang kedua waktu anak keduaku ( Rasya ) umur 5 bln,
saat itu aku pakai baby sitter namanya Yuli juga ( jangan2 orang yg
sama ). Suatu kali aku lihat Rasya muntah, aku tanya kenapa ?
susterku bilang memang suka begitu kalau habis makan, aku jadi
berfikir kenapa ya kok habis makan muntah. Pas hari libur aku denger
Rasya nangis kejer saat lagi makan ( susternya selalu ajak makan
sambil main di luar ) kaget setengah mati aku ngeliat Rasya lagi
disumpel / dijejelin mulutnya sama nasi padahal mulutnya masih
penuh, tanpa ampun aku ambil Rasya dari gendongan susternya dan aku
banting tempat makan and sendoknya, aku marah besar dan saat itu
juga aku suruh dia beres2 baju dan aku suruh pulang.

Sekarang aku memilih ambil pembantu dari kampung halamanku yang aku
tahu latar belakang keluarganya dan bisa aku percaya, aku suruh dia
mengawasi susternya anak2.

Memang kita harus bener2 hati2 mom's kalau mau ambil pembantu or
baby sitter.

Salam - Bunda Rama & Rasya.

> Dear Moms n Dads,
>
> Ada email dr  milis sebelah.Tolong disebarin ya.Makasi.
>
> Anne
>
>  From: Elizabeth [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>  Sent: Monday, April 03, 2006 8:39 AM
>  Subject: Hati-hati !!!!
>  Importance: High
>
>  Lewat email ini saya ingin berbagi perngalaman, terutama buat
para orangtua
> yang bekerja dan terpaksa menitipkan
> anaknya berada dalam pengasuhan babysitter atau pembantu.
>
>  Saya ibu dari 2 anak, bernama Bryan (2th 7bl) &
> Brandon (4bl). Karena saya dan suami bekerja, kedua anak saya
tinggalkan
> dirumah, dan diasuh oleh
>  masing2 babysitter dan 1 orang pembantu.
>
>  Babysitter Bryan bernama Yuli Haryanti, 20th, asal
>  dari Gondang Legi -  Boyolali - Jateng, saya ambil dari sebuah
Yayasan di
> daerah Cinere - Depok. Telah bekerja dirumah saya sejak bulan Juli
2005
> (sebelumnya
>  bekerja di Grogol dan Bogor). Pada awalnya, terlihat
>  bahwa dia seorang  yang cukup sopan, bersih, pandai, dan bisa
mengajari
> anak saya berbahasa  Inggris maupun Mandarin. Anak saya pun
terlihat sayang
> dan cukup lengket dengan Yuli. Hal ini membuat saya cukup tenang
>  meninggalkan Bryan dibawah  pengawasannya.
>
>  Setelah 4 bulan bekerja, dia mengambil cuti lebaran,dan tetap
kembali  lagi
> bekerja di tempat saya. Pada waktu dia pulang kampung pun, Bryan
beberapa
> kali mencari2 dan menanyakan Yuli, membuat saya tidak mengambil
>  babysitter baru sekalipun Yuli kembali dari kampung
>  cukup terlambat dari kesepakatan kami semula.
>
>  Setelah kembali bekerja, giliran saya cuti selama 3bulan karena
melahirkan
> Brandon. Dalam masa cuti saya itulah, mulai terlihat beberapa
keanehan
> dalam diri Yuli. Ternyata, biarpun ada saya, dia terlihat kurang
sabar
>  dalam mengasuh anak, beberapa kali terlihat diam
>  saja jika ditanya oleh  Bryan. Bahkan saya perhatikan dia seolah2
lebih
> menyukai Brandon (mungkin
>  karena masih bayi dan belum bisa merepotkan).
>  Beberapa kesalahan kecil dari Yuli masih saya diamkan saja, hanya
beberapa
> kali saya tegur jika
>  menyangkut anak. Mulai terlihat juga kemalasan dia
>  dalam bekerja, seperti malas mencuci baju Bryan, malas mengajari
(dengan
> alasan Bryan tidak mau
>  belajar kalau saya ada dirumah). Hal2 seperti inilah
>  yang sering membuat  saya menegur dia, karena saya lihat beberapa
kali baju
> Bryan tidak dicuci,
>  malah dipakai lagi keeseokan harinya dengan alasan
>  masih bersih.
>
>  Setelah saya kembali bekerja, saya makin menemukan
>  berbagai keanehan  setiap kali saya pulang kerumah. Saya lihat
Bryan
> semakin nakal, semakin  rewel dan justru semakin lengket ke saya
dan
> papanya, dan kadang sama sekali tidak mau dengan Yuli.Kalau malam,
Bryan
>  sering mengigau menangis2.
>  Karena keanehan2 itulah pada hari Minggu, 26 Maret
>  2006 yang lalu pembantu dan suster Brandon saya panggil, saya
tanyakan
> mengenai dia. Saat itulah
>  mereka baru berani bercerita bahwa setiap saya &
>  suami saya tidak dirumah, Bryan selalu dibentak2 dan dimarahi.
Hanya
> keterangan itu yang berhasil
>  saya dapatkan, dan ketika Yuli saya panggil, dia
>  mengakui perbuatannya  (malah menambah bahwa dia pernah memukul
pelan
> Bryan). Dia bilang bahwa dia memang sedang ada banyak masalah
sehingga
> kurang
>  sabar, serta meminta maaf kepada saya dan suami, dan berjanji
akan
> memperbaiki sikapnya. Setelah berunding dengan suami, kami mencoba
memaafkan
> dan memberi
>  kesempatan kepadanya.
>
>  Hari Selasa, 28 Maret 2006, secara iseng saya
>  mencoba bertanya lagi kepada pembantu saya, apakah ada lagi
perbuatan Yuli
> yang belum diceritakan kepada saya. Dengan takut2, pembantu saya
akhirnya
>  bercerita bahwa Bryan  tidak hanya dibentak dan dipukulin, tapi
juga pernah
> DIIKAT kaki dan  tangannya karena tidak mau belajar. Pernah juga
DITAMPAR
> pipinya. Mendangar cerita itu, kemarahan saya meledak. Saya
panggil
> ketiga2nya  (Yuli, babysitter Brandon dan pembantu saya). Saya
minta mereka
> berdua  untuk melaporkan apa2 saja yang mereka ingat, dan ternyata
Yuli
> mengakui  SEMUANYA. Malam itu juga saya minta Yuli membereskan
barang2nya,
> kemudian  keesokan harinya (Rabu, 29Maret 2006 dia DIANTARKAN
suami saya ke
> Grogol, karena dia akan ke rumah saudaranya ke daerah situ).
>  Seujung rambutpun saya tidak menyentuh dia, juga tidak membiarkan
dia
> pulang begitu saja, karena saya masih punya rasa manusiawi!!! Gaji
pun saya
> bayarkan sampai
>  hari terakhir dia bekerja, bahkan saya tambahkan ongkos.
>
>  Sorenya, ketika saya & suami pulang kerumah, pembantu &
babysitter Brandon
> baru berani terang2an bercerita (selama ini mereka takut, karena
selalu
> diancam oleh Yuli), kalau ternyata perbuatan Yuli tidak hanya
sampai
>  disitu. Daftar perbuatannya begitu panjang, saya
>  coba menuliskan beberapa
>  :
>
>  1. Memukul Bryan (alasannya, Bryan, anak berusia
>  2.5th lebih dulu memukul dia)
>  2. Mengikat kaki & tangan Bryan karena tidak mau
>  belajar
>  3. Membungkam mulut Bryan dengan wash lap kalau
>  Bryan menangis
>  4. Jarang memberi Bryan sarapan, jika Bryan kelaparan dan minta
makan,
> justru Ditampar!
>  5. Membentak2 Bryan, bahkan mengata2i bego, goblok
>  dsb terutama kalau Bryan salah memakai sandal
>  6. Memaksa Bryan memakai Pampers kalau siang
>  (padahal saat ini, malam pun  Bryan sudah tidak memakai Pampers)
>  7. Memaksa Bryan memakai celana sendiri, bahkan
>  kadang dibiarkan saja dia  sampai menangis2 karena tidak bisa
>  8. Melarang Bryan tidur siang, biarpun Bryan sudah
>  sangat mengantuk supaya malam tidurnya cepat (dia malas repot
kalau Bryan
> tidur terlalu malam)
>
>  Dan masih BANYAK lagi hal2 yang justru membuat saya
>  hanya bisa menangis dan menyesali kebodohan saya, karena
membiarkan anak
> saya selama ini
>  berada di bawah pengawasan orang seperti dia.
>  Seandainya saya tahu sejak  kemarin, pasti saya akan laporkan ke
polisi.
>
>  Saya coba cek ke tetangga2 depan, kanan dan kiri,
>  juga ke sekolah  Gymboree, dan miss yang selalu mangantar jemput
Bryan ke
> sekolah. Ternyata
>  mereka selama ini sudah tahu semuanya, hanya saja
>  tidak berani  menceritakan kepada kami.
>
>  Karena tidak terima, suami saya menelepon ke HP
>  Yuli, menanyakan semuanya, dan ternyata Yuli MENGAKUI semua
perbuatan dia.
> Kami
>  ancam dia untuk melaporkan ke polisi, dan dia sangat
ketakutan,memohon2
> ampun kepada kami. Bahkan ibunya dari kampung juga sampai
menelepon kami,
> minta2 maaf.
>
>  Bagi kami, permohonan maaf sebenarnya tidak cukup
>  untuk mengobati trauma Bryan yang sudah dialami beberapa bulan,
akan tetapi
> kami (dengan susah
>  payah) berusaha untuk mengampuni dia. Kami hanya
>  punya syarat, tidak  mengijinkan dia menjadi suster lagi, di
YAYASAN
> MANAPUN (Yayasan tempat  dia sudah kami lapori, dan dia
dikeluarkan dari
> situ). Cukup Bryan menjadi korban terakhir (sebelumnya, dia
mengaku juga
> sering membentak2 anak asuhnya, tapi belum sampe memukul karena
majikannya
> ada dirumah).
>
>  Dia sudah membuiat surat pernyataan diatas meterai,juga segala
> pengakuannya sudah kami rekam sebagai bukti2 jika suatu hari nanti
dia
> ingin kembali lagi bekerja sebagai babysitter.Saat ini, keinginan
kami hanya
> supaya Bryan terbebas dari traumanya. Perlu diketahui, sejak Yuli
keluar,
> semua tetangga berkomentar bahwa Bryan
>  berubah 180 derajat. Saat ini dia kembali periang,aktif dan tidak
rewel.
>  Dan sekalipun Bryan TIDAK PERNAH menanyakan "Suster Yuli"-nya.
Sejak saat
> itu Bryan saya titipkan ke tetangga2 yang tidak bekerja, juga ke
kepala
> sekolah Gymboree. Surat pernyataan Yuli dan KTP-nya saya fotokopi,
saya
> serahkan ke security Kota Wisata tempat kami tinggal, supaya tidak
terjadi
> hal2 jelek di kemudian hari.
>
>  Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran
>  buat kami, juga bagi semua yang membaca, agar hati2 dan lebih
selektif
> dalam memilih babysitter. Hati2 karena kelakuan mereka di depan
dan
> dibelakang kita
>  kadang berbeda, atau malah sangat bertolak belakang!!!
>
>  Saya sertakan juga foto dari Yuli, agar semua pembaca berhati2
terhadap
> orang ini.
>
>  Terima Kasih. Tuhan memberkati kita semua!
>
>  Salam,
>  Elizabeth Arsiani
>
>
>
>

>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]




  SPONSORED LINKS
        Air mattress   Foam mattress   Stock market     Personal finance   Market news   Financial news
   
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS

   
    Visit your group "Ayahbunda-Online" on the web.
   
    To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
   
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

   
---------------------------------
 



           
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Market news Foam mattress Stock market
Personal finance Natural soap Financial news


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke