dari milis tetangga 
semoga bermanfaat...

  
Anak dan Tanggung Jawab Kita
Oleh BAMBANG QOMARUZZAMAN 
SEORANG teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari dia
menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa, sebagai
orang Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross. Saat itu memang
tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi; kecuali seorang ibu dengan anaknya
yang masih balita. Begitu ia sampai ke seberang jalan, terdengar teriakan si
ibu dari seberang jalan yang baru saja ia tinggalkan. "Hei..hei... ke
Sini!!". Kira-kira begitu teriakan ibu itu. 
Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi sebagai
orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti ada apa-apa
dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat ibu itu, ia
dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross? Tahukah
kamu, kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya melanggar peraturan, kamu
sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar peraturan itu sesuatu yang
biasa-biasa saja!"
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia melanggar
peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu itu yang
mengaitkan pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang lebih
mengejutkan. Begitu pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu, begitu
pentingnya ibu itu menjaga memori dan kesadaran anaknya agar tetap terjaga
dalam perbuatan baik. Bagaimana dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang orang tua
dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau menyekolahkan
anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di sekolahnya dan dapat
mengikuti test masuk SMP dengan mudah. "Mudah-mudahan anak saya bisa masuk
pilihan pertamanya!" harap sang bapak. 
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram, lebih
tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80, saya sudah
mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya protes, dan
guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu, mereka menawarkan
jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!" Tetangga saya menolak
untuk membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja. "Saya tak mau
anak saya belajar di sekolah pembohong!"
Menurut sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena ada
beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar sekian
rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua, dan yang menerimanya
adalah guru yang terhormat. Marilah kita bandingkan sikap dan tanggung jawab
kita pada anak-anak. Keputusan untuk membayar sejumlah rupiah demi sang anak
tentu didasari pilihan untuk memberikan kasih sayang yang terbaik buat sang
anak, namun pada saat yang bersamaan kita telah menanamkan racun pada
kesadaran anak-anak itu. Racun itu adalah, 1) uang bisa menyelesaikan
segalanya; 2) tak usah berprestasi, biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa
menambalnya. 
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar kita
melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di depan
anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah mencatat di
relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup sepanjang hayat.
Terlebih lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan yang
semua aspeknya merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan diteladani. 
Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini datang
dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke suatu
tempat. Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan untuk membawa
mobil itu bagi keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam sekian kamu harus
berada di sini, menjemput bapak!" ujar sang ayah. Pada jam yang ditentukan
sang anak belum kembali, menit demi menit sang anak belum juga kembali. Sang
ayah menunggu sampai beberapa jam. Lalu, sang anak datang dan mengajukan
permohonan maafnya. 
"Baiklah kalau begitu," ujar sang ayah, "naikilah mobil itu, bawalah pulang.
Saya akan jalan kaki ke rumah!" Sang anak protes dan merasa bersalah. Namun
sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil berpesan, "Mengingkari janji adalah
kesalahan terbesar dalam hidup ini, kamu sudah melakukannya padaku. Semua
itu pastilah bukan kesalahanmu, itu semua karena saya salah mengajarimu,
nak. Karena itu biarlah ayah menghukum diri, menghukum kesalahan
pendidikanku padamu!" Sejak saat itu, sang anak tak pernah lagi mengingkari
janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita pada Hari Anak. Benarkah
kita serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai amanah
(titipan) dari Allah? Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan) Allah". Pada
istilah ini terlihat relasi antara Allah dan kita yang sedemikian akrab,
Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan sesuatu yang berharga.
Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai awalnya. Nilai awal sang anak
adalah fitrah, dan harus tetap fitrah. 
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat bangga
pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak" agar "membuat
bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang begitu rapuh,
butuh tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai takaran. Kecenderungan
benih adalah terus mencari cahaya, tetapi putik kecil bisa saja ditipu
--diberi cahaya palsu-- dan memercayainya seumur hidup. 
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah tak
pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi. Benih
padi yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita menerima
benih fithrah "anak kita" dan mengembangkannya menjadi fithrah yang lebih
baik? Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah kematian menerpa kita, tak ada
yang bisa menolong dari siksa kubur kecuali doa dari kesalehan sang anak.
Tentu saja, maksud hadis ini bila sang anak, "titipan Allah" itu, telah kita
jaga dan tumbuh tetap berada dalam fitrahnya, maka kita akan mendapatkan
hadiah dari Tuhan karena telah menjaga amanahnya dengan baik.
Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan
mengecup lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama ini
telah memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan pertengkaran,
serta tidak memberikan jaminan-moral. Kita pun layak memohon ampunan pada
Allah karena titipan-Nya belum dirawat secara baik.
Tersenyumlah, anak-anak menunggu ketulusan kita!*** 
Penulis, dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke