Sore itu cerah. Di salah satu perempatan jalan sebuah komplek perumahan, tampak pemandangan yang cukup menarik. Beberapa ibu tampak duduk sambil berbincang-bincang. Sebagian lainnya berdiri sambil menggendong anak yang rata-rata berusia satu atau dua tahun. Menariknya, masing-masing ibu itu membawa mangkuk kecil dan sendok sambil menyuapi anak yang mereka gendong. Sesekali terdengar bentakan atau omelan yang memaksa bocah-bocah lucu itu membuka mulutnya.Bagi Anda yang tinggal di komplek perumahan, pemandangan seperti di atas tentu tak asing lagi. Bahkan, boleh jadi Anda, istri atau pembantu Anda ikut juga "berpartisipasi". Kenyataanya, walau harus berdiri atau duduk berlama-lama di taman, pinggir jalan, atau pos keamaan, para ibu itu rela asal anaknya mau makan.Memang, anak yang susah makan nyaris jadi problem semua keluarga. Penyebabnya bisa beragam. Menurut dr. Piprim B Yanuarso, Direktur Yayasan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma, penyebab anak susah makan bisa karena dua sisi, dari ibu ataupun anak.Terkadang perhatian ibu kurang terhadap anaknya. Ia tidak mau tahu penyebab anaknya tidak mau makan. "Ibu hanya ingin anaknya mau makan, tapi tidak mau tahu penyebabnya," ujar dokter anak yang sejak empat bulan lalu bekerja juga di Klinik Al-Fauzan, Condet Jakarta Timur ini.Menurut Piprim, bisa juga anak susah makan karena perhatian ibunya terlalu berlebihan. Banyak juga ibu yang berprinsip anak yang sehat itu mesti makan banyak. Akibatnya, jadwal makannya pun tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Misalnya, menyangka anak itu sudah lapar tapi ternyata belum. Ibunya lalu menjadi stres. "Ini bisa juga menyebabkan anak tidak mau makan," imbuh alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.Hal ini dibenarkan juga oleh Ely Risman. Psikolog yang juga menjabat Ketua Pelaksana Harian Yayasan Kita dan Buah Hati ini berpendapat, terkadang ibu berpikir menurut cara pandang dirinya sendiri, bukan menurut anaknya. "Ketika anaknya nggak nurut, ibunya maksain, cekokin. Ia tidak memperhatikan emosi anak," urai Ely Risman lagi.Dokter Piprim menambahkan, selain faktor ibu, anak itu sendiri bisa jadi penyebab susah makan. Mungkin saja sang anak mengidap penyakit, baik secara fisik maupun non fisik. Secara fisik misalnya, anak mengidap penyakit saluran pencernaan, TBC atau penyakit lain yang sifatnya terlihat nyata seperti sariawan, bibirnya sumbing, lidahnya besar, atau bisul. Atau penyakit saraf, seperti susah menelan, tumor otak, tersedak, refluks (atau gangguan pada lambung).Sayangnya, orang tua sering tidak mau tahu dengan penyakit anaknya. "Orang tua kadang nggak tahu kalau gigi anaknya mau tumbuh, gusinya sedang bengkak, atau gejala flu. Anak kecil kan belum bisa cerita. Ini masalah besar bagi anak," ujar Ustadzah Yoyoh Yusroh yang dikaruniai tiga belas anak.Selain fisik, susah makan pada anak kadang disebabkan oleh penyakit psikis. Bisa jadi secara medis anak tidak mengidap penyakit apa-apa, tapi kejiwaannya terganggu. Ustadzah Yoyoh mencontohkan, kalau anak menginginkan sesuatu, tapi belum dipenuhi, bisa jadi membuatnya tidak mau makan. Atau mungkin saja, anak terlalu sering dipaksa. Kalau anak terlalu sering dipaksa, seperti diutarakan Ely Risman, bisa mengakibatkan anak takut makan. "Bukan saja anak tidak suka makanannya, tapi juga tidak suka ibunya pegang sendok," tambah Ely Risman. Kalau begitu, tidak mustahil ketika ibunya makan, ia malah tidak mau mendekat dan berusaha menghindar karena takut disuruh makan.Jadi, cara lama yang sering dipakai orang tua kita dulu dengan memaksa anaknya makan, tidak bisa digunakan lagi. Pengalaman orang tua kita yang sering memegang sendok di tangan kiri dan memegang rotan atau gagang sapu di tangan kanan, malah akan berdampak buruk bagi anak. Anak tidak perlu dipaksa. "Kalau sudah lapar, biasanya anak akan minta makan. Ia tidak usah dipaksa," Ustadzah Yoyoh mengingatkan.Lalu bagaimana dengan anak yang usianya masih di bawah dua tahun? Mereka belum bisa minta makan. Menghadapi buah hati yang `belum cukup umur' ini, Ustadzah Yoyoh mengingatkan, "Orang tua perlu siasat. Jangan memaksa sampai anak itu mau. Mereka bisa dibawa jalan-jalan ke lapangan atau ke taman, bergabung dengan anak tetangga. Sementara itu, ibu juga bisa berkomunikasi dengan tetangga yang lain. Asal jangan dijadikan sarana untuk ngerumpi, tapi sarana untuk bersosial dengan tetangga."Selain itu, ketika memberi makan anak, jangan dilakukan dengan tergesa-gesa. Sebab hal ini akan mempengaruhi kejiwaan ibu dan anak. Ibu akan gampang marah dan anak jadi terganggu. Karenanya, ketika memberi makan anak, hendaknya ibu dalam keadaan segar, dan ceria. Sebaiknya, sebelum memberi makan anak, sang ibu makan terlebih dahulu. Jangan memberi makan ketika ibu dalam keadaan lapar.Saat ini, untuk merangsang minat makan anak, banyak perusahaan farmasi yang menawarkan berbagai suplemen penambah selera makan. Sejauh mana dampaknya pada anak? Dokter Piprim mengajukan jawaban yang cukup bijak, "Pemberian suplemen penambah nafsu makan boleh-boleh saja, tapi tidak dijadikan yang paling utama. Yang utama adalah cari penyebabnya mengapa anak itu tidak mau makan. Mungkin dari anak atau ibu. Apakah ibunya pergi terus, atau pembantunya sering memaksa dia makan."Pada prinsipnya, masih menurut dr. Piprim, kalau anak itu sehat, baik jasmani maupun rohani, dia tidak memerlukan suplemen penambah nafsu makan. Secara jasmani, fisiknya tidak ada penyakit, hubungan dengan orang lain baik. Ibunya tidak sering memaksa dia makan. Nah, kalau tidak ada faktor itu, ia pasti mau makan walaupun tanpa suplemen. "Prinsipnya, kalau anak itu sehat nafsu makannya akan bagus. Tidak usah dikasih macem-macem. Kalau tidak mau makan pasti ada sesuatu," ujar Piprim.Karenanya, jika secara psikologi tidak ada hal yang aneh dan secara medis tidak begitu kelihatan, sebaiknya anak jangan dibiarkan terus menerus tidak mau makan. Apalagi kalau ada kelainan, misalnya, berat badan tidak mau naik, suhu badannya sering panas dan gampang sakit. "Jika ada gejala seperti itu, segera bawa ke dokter terdekat. Biasanya akan dievaluasi. Mungkin gizinya kurang sehingga pertumbuhan badannya tidak baik. Kalau pemberian makannya sudah bagus, tapi masih kurus, cari kemungkinan penyebab lain," usul dr. Piprim.Nyatanya, ada banyak penyakit yang biasa menyebabkan anak susah makan. Satu di antaranya adalah TBC Paru atau yang dikenal dengan Flek Paru-paru. Untuk mengetahuinya, perlu diadakan tes mantoux atau uji tuberculin. Seperti dikatakan dr. Piprim, dokter tidak boleh mengandalkan diagnosis tes paru hanya dengan foto rontgen saja. Sebab, penyakit flek ini bisa menular melalui percikan ludah, saluran napas, terutama di rumah yang gelap dan tidak ada ventelasinya.Akhirnya, Direktur YLKC ini menyarankan, "Kalau anak tidak mau makan, sebenarnya bukan anaknya saja yang perlu diobati, tapi juga ibunya. Ibu harus diajari dan diberi pengertian bagaimana menjadi orang tua yang benar. Ibu harus mengerti bagaimana cara memberi makan yang baik, jadwal-jadwal makan, dan kebutuhan anak. Jangan sang ibu berpikir yang menurut dia benar aja, gitu." Nah, sudahkah kita menjadi orang tua yang mengerti tentang anaknya? Tentu kita sendiri yang bisa menjawabnya. _________________________________________________________________ Live Search: New search found http://get.live.com/search/overview
[Non-text portions of this message have been removed]
