Dear Fifi, Saya juga pernah mengalami hal serupa. Kondisinya persis seperti yang Fifi hadapi. Hanya berdua saja dengan si kecil di rumah, tanpa pembantu dan suami yang hanya ketemu anak-nya beberapa jam saja di malam hari plus hari sabtu dan minggu. Pada saat kesal, lelah dsb dan pengen marah2, saya selalu ingat kata2 ibu saya. ”Mengurus rumah dan anak kalo pake marah-marah akan terasa lebih melelahkan.” Dan demikian-lah yang saya rasakan. Jadi..saya coba untuk melibatkan putri saya (Reina) dalam beberapa pekerjaan rumah tangga. Misal, kalo mo cuci baju (setelah dipisahkan pakaian berwarna dan yang putih) saya akan minta bantuan Rei untuk masuk2in pakaian tadi ke dalam mesin cuci/ember. Atau kalo saya mau masak, saya minta dia ikutan kupas2 bawang (kulitnya keringnya saja tanpa pisau tentunya), atau memberinya sebatang kangkung yang bisa ”ikut2an” di petikinya pada saat saya memetiki daun kangkung untuk masak, misalnya. Atau kalo saya beres2 rumah, saya ajak Rei ikutan beres2 juga. Dia senang kalo saya minta bantuan dia hanya sekedar untuk buang sesuatu (kertas yang tak terpakai misalnya) ke tempat sampah, atau mengambilkan sapu yang akan saya pakai untuk menyapu, atau sekedar menyimpan remote TV di rak TV, kalau misal berkebun (kebetualan saya suka berkebun) saya beri dia skop mainan ya sekedar ikut-ikutan mencongkel-congkel tanah atau nyiram2 tanaman. Khusus untuk berkebun ini biasanya saya lakukan pagi2 atau sore sebelum dia mandi. Jadi sekalian bersih2. Gara-gara sering dilibatkan dalam berbagai pekerjaan rumah tangga, sekarang ini Rei (2 th 10 bulan) lebih mandiri dibanding teman2nya yang lebih besar. Dari kecil dia bisa membereskan mainannya sendiri. Menyimpan perlengkapan bekas makannya ke tempat cuci piring, membuang sampah ke tempat sampah dll. Walau kadang saking terbiasanya dilibatkan dalam segala sesuatu, sekarang ini kalo saya bikin kue dia selalu mau ikut2an walhasil, pernah adonan cake saya tumpah dan nyiprat kemana-mana karena Rei gak kuat pegang mixer yang ngotot ingin dipegangnya he..he..lengket kemana-mana deh...kesel juga sih..tapi..percuma marah....ingat pesan ibu saya sih....he..he.. Cherrs, Yeni – Mamanya Reina
Sita Sidharta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mba, Gimana kalau coba pakai pembantu untuk pekerjaan rt macam mencuci, gosok, bersih2? Jadi wktunya mba betul2 hanya mengurus dan bermain dengan zidan saja. Tidak perlu dipusingkan dengan yang lain-lain. Trus mungkin \idan bisa ikutan kelas bermain seperti tumble tots misalnya. Untuk umur segitu kan hanya 45 menit dengan ibunya, jadi bisa main2 santai juga bertemu dengan ibu2 lainnya. Apakah di lingkungan mba sama sekali tidak ada tetangga? Mungkin mba bisa coba kenalan dengan tetangga2 jadi nggak berdua saja dirumah sama anak. Banyak2 berdoa dan bersyukur ya mba. Bagaimanapun mba sudah bisa punya anak sementara masih banyak yang belum mendapatkan momongan. Sebentar lagi tanpa terasa juga mereka mulai sekolah dan mba bisa punya waktu lagi untuk diri sendiri. Salam, Sita :) ----- Original Message ----- From: fifi To: [email protected] Sent: Friday, October 05, 2007 4:30 AM Subject: [Ayahbunda-Online] tolong, saya mudah marah Salam kenal ayah bunda semua Saya anggota baru milis ini. nama saya Fifi, dan jagoan kecil saya namanya Zidan, 1 tahun 9 bulan. Saya punya masalah nih. Akhir2 ini saya mudah sekali marah. Dan yg jadi sasaran kemarahan saya tidak lain tentu Zidan. Kalau sedang capek, atau sedang jengkel sama suami atau orang lain, saya jadi mudah sekali terbakar emosi. Padahal dulu saya selalu bisa bersabar dan menahan diri, meski pun Zidan ngacak-acak rumah atau ngompol di mana-mana. Entah karena sekarang Zidan semakin "aktif", atau saya memang yg perlu "diterapi". Memang sih, belum sampai ke fisik. Tapi kalau sudah marah, wajah saya mengerikan seperti monster dan suara saya mengaum seperti macan. Memang sih setelah marah saya selalu menyesal dan minta maaf pada Zidan, sambil nyiumin dia berulang kali saking menyesalnya. Tapi saya khawatir kalau semakin lama penyakit saya ini semakin parah dan jelas akan berdampak buruk pada Zidan. Sekarang saja Zidan jadi ikut2an suka ngamuk, mungkin nyontoh ibunya ini. O iya, saya ngerawat anak saya sendirian. Suami saya berangkat pagi pulang malam. Ketemu dengan Zidan hanya beberapa jam sehari (kecuali sabtu dan minggu). Tapi tentu saja jam "aktif"nya Zidan pagi sampai malam sebelum tidur, waktu ayahnya tidak ada di rumah. Tidak ada orang tua atau kerabat lain yang berada di dekat saya, tidak ada pembantu juga. Jadinya semua amarah, jengkel, dan kesal saya limpahkan ke Zidan dan diri saya sendiri. Plis aybuns, beri saya masukan, saran, marahin saya deh kalo perlu, biar saya bisa jadi ibu yang sabar dan ga gampang marah lagi. fifi [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] --------------------------------- Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers [Non-text portions of this message have been removed]
