Hai, mom....
Sharing, ya.....
Yang saya tahu, ada konsekwensi nya apabila anak dimasukkan ke dalam satu 
kelompok padahal usianya belum cukup. Masuk TK A sebelum 4 tahun, artinya nanti 
akan masuk SD sebelum usia 6 thn.
Secara kemampuan formal (CALITUNG-membaca, menulis dan berhitung) anak yang 
kurang usia akan mampu "mengejar". Dan mereka bisa "sebanding" dengan anak2 yg 
cukup usia. Tapi kita tidak akan bisa "mencuri start" mengenai PERKEMBANGAN 
EMOSIONAL nya. Dan itu banyak ditemui di SD2 saat ini. Saat duduk di bangku SD, 
mereka tidak mampu memikul tanggung jawab selayaknya anak SD. Saat di kelas 
banyak yang mogok menulis/belajar, tidak mau membuat PR dsb. Akhirnya semua itu 
akan mempengaruhi penilaian secara keseluruhan. Kalau "mogok"nya sangat 
berlebihan, akhirnya tidak naik kelas.

Apalagi ditambah dengan mengaji setiap hari di usia 3,5 thn. Bukan saya 
meremehkan pelajaran agama, tapi kita juga harus proporsional menanamkan segala 
bentuk pelajaran dalam kepalanya di USIA YANG TEPAT. Anak2 saya mulai mengaji 
di usia 5 thn. Itupun guru mengajinya yang saya panggil ke rumah seminggu 
sekali. Dan saat mengaji, lebih banyak bermainnya.

Yang dibutuhkan oleh anak seusia 3,5 thn adalah bermain utk mengembangkan 
kemampuan motorik kasarnya. Dan saat usia 5.,5 thn (saat si kecil masuk SD) 
juga masih membutuhkan BERMAIN, bukan membuat PR atau menghafal mata pelajaran.
Apalagi saat ini yang saya pantau pada pelajaran anak2 saya, kurikulumnya 
semakin berat. Pelajaran yang kita dapatkan di SMP, sekarang anak kelas 4 SD 
sudah mempelajarinya. Sementara menurut saya hal itu bukan porsi utk  anak2.

Ibaratnya anak usia 5 thn kita pakaikan baju yang 2 nomor diatasnya. Maka akan 
terlihat "kedodoran". 

Menurut saya, menanamkan MANDIRI, bukan berarti harus "secepatnya" si kecil 
dilepas keluar rumah. Pendidikan MANDIRI tetap dimulai dari rumah. Ajarkan si 
kecil utk selalu membantu  membereskan mainannya, biarkan dia makan sendiri 
walaupun berantakan, ajarkan dia utk tidur di kamar sendiri, setiap selesai 
mandi ajarkan utk menyimpan baju kotornya di keranjang cucian,  biarkan dia 
memilih pakaian yang akan dipakai setelah mandi, dsb.
Terlalu banyak diluar rumah disaat dia belum bisa membedakan mana yang baik dan 
mana yang benar, justru akan merusak "MENTAL dan KEBIASAAN" dia. Dia akan 
selalu mencontoh apapun yang dia lihat. Jangan kaget kalau nanti si kecil harus 
dikoreksi perbendaharaan katanya, sikap sopan santunnya, jajan makanan yang 
tidak sehat karena melihat teman2nya, dsb.

Pengalaman saya, sampai usia 3 thn saya mengajarkan anak2 saya GOOD and BAD. 
Alhamdulilah.....sampai sekarang (10thn dan 8thn) mereka mampu mengatur dirinya 
sendiri, memilah mana yang baik dan buruk utk dirinya baik dalam sikap atau 
dalam hal memilih menu makanan utk makan siang di sekolah, sholat 5 waktu, 
belajar dirumah tanpa disuruh, dsb. Setiap hari anak2 saya bangun pkl.  5.00 
utk  shalat subuh. Dan anak pertamaku sudah mampu menjadi imam saat shalat dan 
memimpin do'a lengkap selesai shalat. 
Dan semua itu, saya peroleh tanpa "mencuri start" dalam mengajarakan berbagai 
hal.

Jadi menurut saya, apapun yang kita ajarkan akan bisa efektif jika diterapkan 
sesuai dengan usianya.

Ma'af jika kurang berkenan....


Regards,
YUSRI
Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: uci uca <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Mon, 28 Jan 2008 19:48:14 
To:[email protected]
Subject: [Ayahbunda-Online] shariiinh


Dear Moms & Dads
 
 Sy mau sharing pengalaman nih, antara PRO dan KONTRA yg ada di keluarga besar, 
saya berusaha mencari tau, mana yg sesungguhnya yang BENAR.
 
 
 Sy ortu muda yg pola pikirnya seluruhnya di luar rumah, sejak lulus SMA sy 
bekerja sambil kuliah ( pd hal keluarga tdk menginginkan sy bekerja) ttp di 
otak sy selalu keluar kata-kata  MANDIRI.
 
 sy saat ini menerapkan anak saya SECIL ( 3.5 TH ) dari usia 2 th sudah sy 
masukan sekolah perkenalan walau hanya main-main saja. dan skr sudah bisa masuk 
TK-A walau usianya belum mencukupi, tetapi sy berusaha dan akhirya bisa masuk 
dan mengikuti teman-temannya.
 
 mertua dan keluarga suami tidak berkenan akan langkah yg sy tempuh , karena 
anak sy sekolah dari jam 07.30 sm 10.00  dan  ngaji 04.00 sd 05.00
 
 mrk berpendapat anak jng terlalu di porsir, nanti besarnya malas, tetapi sy 
melihat bukan darisegi situ, sy mengikti perkembangan anak saya ( karena anak 
sy besar/ gendut  jd sama seperti teman-2 nya yg usianya 4 -5 th ) karena dia 
enjoy  juga sekolah / belajarnya seperti  main-main karena nggak terlalu banyak 
kurikulumnya.
 
 
 mohon sharingnya, apa benar langkah saya ini ..?
 saya mau mencetak anak sy seperti sy jaman dulu sehingga saya menganggap sy 
bisa lebih tahan banting dari pd keluarga yg lainnya.
 
 mohon sharingnya yaaah ...
 
 salam

 
----------------
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search. 
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
   

Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke